
“menurutku itu terlalu simpel dan kuno” komentar merli dingin.
“bener mer. Aku lebih setuju temanya Hollywood gitu deh” tambah syifa.
Marsya yang duduk disebelah yovi mencatat usul kedua temannya itu. Ia sekretaris OSIS.
Marsya melirik yovi yang sedang berpikir lebih keras lagi. Rasa sesal itu kembali menjalari rongga dadanya. Seharusnya aku tak perlu mengatakannya, sesalnya dalam hati.
“kalau tema itu kasihan anak yang kurang mampu. Mereka pasti susah ngedapetin kostumnya” yovi mulai melancarkan alasan mautnya.
Kebanyakkan peserta rapat langsung setuju dengan alasan yovi. Setelah diadakan pengambilan suara akhirnya tema pensi adalah hitam-putih.
Hal itu membuat trio cheerleader gusar. Mereka langsung meninggalkan ruang rapat tanpa pamit.
***
Toilet adalah tempat trio cheerleader sering berkumpul. Cermin besar tersedia disitu. Dengan bercermin mereka puas menatap keanggunan diri mereka.
Marsya mengeluarkan pelembab bibir kemudian mengoleskan dibibir tipisnya perlahan.
“udah kita ngikut aja” katanya.
“yovi makin sewenang-wenang sejak putus dari kamu sya” ujar merli masih jengkel.
Syifa menjentikkan jari kearah cermin. “betul mer, sejak putus dari marsya yovi jadi sedikit kaku”
Marsya diam sambil menatap mata kosongnya dicermin. Wajahnya yang anggun dan cantik berhasil menutupi rasa perih yang terasa dihatinya.
Andaikan saja mereka tahu yang sebenanya, katanya dalam hati.
***
__ADS_1
Makan sendirian dikantin wajah aninda terlihat kesal. Kantin memang lagi sepi. Maklum para pelanggannya sedang pergi menonton pertandingan basket dilapangan.
“kenapa nin? Kelihatannya kok kamu suntuk banget?” Tanya ricko yang tau-tau duduk disamping aninda.
Aninda gelagapan dengan kedatangan ricko yang tiba-tiba. Cepat-cepat ia mengelap mulutnya yang belepotan kuah.
“nggak papa rick. Aku lagi kesel aja sama orang”
“oh ya? Siapa nin? Jangan-jangan aku nih?” ledek ricko.
“bukanlah rick. Ngapain juga aku kesel sama kamu” sergah aninda cepat. “pokoknya ada lah. Orangnya nyebelin setengah mati!”
“ati-ati tuh, ntar malah jadi cinta” lagi-lagi ricko meledek aninda.
“apaan sih? Nggak mungkin banget lah! Eh abis latihan karate ya?”
“iya nih. Capek. Eh, kapan-kapan main sama aku yuk?”
“yah makan bareng gitu. Mau ya?”
Aninda terdiam sambil mengigit bibir bawah. “boleh aja”
Ricko cepat-cepat meminta nomor HP aninda. Dalam hati ia senang bukan main. Aninda tak akan menolaknya lagi kali ini.
Tim cheerleader dan tim basket tampak bergerombol menuju kantin sekolah. Mereka semua kelelahan karena pertandingan tadi.
Semua mata langsung tertuju pada aninda dan ricko yang duduk bersebelahan. Merli dan syifa mencibir. Marsya memasang wajah dingin menatap ricko tajam.
Aninda melirik gerombolan itu dengan tak enak hati. Pasti mereka mikir yang nggak-nggak nih, pikirnya cemas.
“hei nin” yovi mendekati meja aninda. “gabung ya sama kalian?”
__ADS_1
“sini, sini!” aninda tersenyum senang.
“anin akrab sama ricko ternyata?” Tanya yovi heran.
Ricko tersenyum kecil. “ya gitulah. Gimana tadi pertandingannya?”
“wah, babak pertama kita kalah telak. Tapi kita menang di babak kedua” celoteh yovi semangat. “oh ya?” Tanya ricko.
Aninda terdiam, tak tahu harus berkomentar apa.
Belum sempat yovi menjelaskan lebih lanjut, tiba-tiba vigo datang dan mengajak yovi makan siang bersama tim basket.
Ricko mengerutkan kening.
Aninda mendengus kesal. Padahal sebenarnya dia ingin menanyakan kenapa yovi tak menjemputnya tadi pagi. Ia merasa makin kesal pada vigo, cowok sengak yang sepertinya akan selalu ia benci.
Ricko menyembunyikan kebencian pada si kembar. Ia tak mau aninda tahu hal yang memang sengaja ditutupinya. Aninda terlihat lemah sekarang dan ia tak mau menyakitinya.
Hanya saja tadi tatapan aninda yang penuh harap pada yovi mengakibatkan bara kebencian dalam diri ricko semakin besar.
______________________________________
Like
Komen
Vote❤😘
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
S.A.L™
__ADS_1