
“masa ditanya ‘siapa nama aktornya’ malah jawabannya nama produser!” cemooh vigo sambil menahan perutnya yang sakit karena tertawa.
“sirik amat ih! Inikan PR-ku, terserah aku dong mau jawab apa!” bela aninda tak mau kalah.
“udah sengak, arogan pula” imbuh aninda kesal.
Vigo hanya tertawa pelan “baru kamu cewek yang ngatain aku gitu”
“baru kamu cowok yang pedenya selangit! Sengak!” nada marah dalam suara aninda penuh penekanan.
Wigo menjitak pelan kepala aninda sambil berjalan kembali kekamarnya.
Aninda mengaduh lirih, lalu mengusap kepalanya pelan-pelan. Sial! Batin aninda geram.
Ia mengakui pasangan kembar itu memang tampan dan sulit dibedakan secara fisik. Soal emosi? Ia sudah mengenali ciri keduanya.
Ia menggeleng menyadari begitu berbeda tabiat mereka berdua apalagi kelakuan brutal vigo yang selalu membuatnya kesal dan marah. Betul-betul tak habis pikir ada orang sesombong vigo.
***
Malam harinya saat aninda berusaha memejamkan mata entah kenapa ia kembali teringat umar.
“aku mau pindah rumah nin” kata umar suatu hari pada aninda. Saat mereka sedang duduk dilapangan.
“kenapa mesti pindah?” Tanya aninda penasaran.
“orang tuaku minta aku pindah. Aku juga nggak tahu kenapa” jawab umar lugu.
__ADS_1
Raut aninda tampak kecewa.
“yah, padahal kita udah janji bakal selalu bersama”
“tenang nin! Pokoknya tahun depan kamu harus tunggu aku disini! Dibawah pohon ini!” umar tampak yakin sekali.
Aninda tersenyum lega. Ia berharap umar akan menepati janjinya.
***
Vigo meletakkan buku yang baru dibacanya.
“yov, siapa sih sebenernya nama cewek tengil itu?”
Yovi yang baru saja memakai selimut menjawab enggan.
Vigo termenung kaku mencoba mencerna nama itu.
“jangan terlalu kasar sama dia vig. Dia cewek manis, baik, lucu pula” tambah yovi lirih. Sejurus kemudian yovi tertidur pulas saking lelahnya.
Vigo masih belum bisa memejamkan mata, pikirannya tertuju pada sosok aninda gadis mungil dengan kulit sawo matang bermata indah, tapi… ampun! Suaranya menggelegar! Dia imut, selalu menampakkan keceriaan dan yang jelas dia cantik. Kenapa aku tidak menyadarinya sejak awal? Tanya vigo dalam hati.
Vigo seperti mendapatkan semangat hidup yang telah lama melayang. Ia tersenyum mantap.
***
Ricko berdiri didepan cermin yang menampakkan bayangan dirinya yang kelelahan. Ia mencuci muka dengan air yang mengalir di wastafel. Latihan tadi benar-benar menguras energy.
__ADS_1
Ia mengelap wajah dengan handuk kemudian bergegas menuju tempat tidur sambil menatap langitlangit kamarnya, pikirannya tertuju pada batinnya yang kian bergejolak.
Ricko sadar dirinya jatuh cinta, tapi masih trauma dengan masa lalu yang menggoreskan kenangan kelam.
Kepercayaan dirinya pernah runtuh dan sekarang masih dalam proses pemulihan. Ia belum sepenuhnya kembali menjadi dirinya sendiri. Ia butuh suatu kekuatan untuk membalaskan dendamnya.
Kekuatan yang membuktikan bahwa dirinya berhak mendapatkan cinta.
Senyumnya selalu keruh bila mengingat masa lalunya yang pedih.
“kamu nggak pantes sama aninda! Kamu nggak bisa ngelindungin dia!” umar mendorong ricko kuat-kuat.
Tak ada jawaban yang keluar dari mulut ricko selain tangis yang membuat ingusnya menyesakkan napas. Ia tak berani melawan umar. Dirinya terlalu lemah menghadapi umar dan teman-temannya.
“aninda sukanya sama aku. Dia nggak suka sama kamu. Bocah ingusan, pendek, jelek!” sindir umar yang terbakar marah besar.
Umar tahu ricko bermaksud “menembak” aninda. Sudah lama umar tahu ricko suka aninda. Ditengah jalan umar dan teman-temannya menghadang ricko untuk melabraknya.
______________________________________Like
Komen
Vote❤😘
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
S.A.L™
__ADS_1