Cinta Dan Dusta

Cinta Dan Dusta
Chapter 21


__ADS_3

Restiana memandang langit-langit kamar. Masih terekam jelas pembicaraan antara dirinya dan ricko duluar UKS. 


Aninda masih terbaring diranjang UKS. Memang sebaiknya dia istirahat dulu untuk menghilangkan rasa kagetnya.


“res, aku mau ngomong sebentar sama kamu” kata ricko lirih.


Restiana langsung berdebar, hatinya berharap ricko akan mengatakan cinta padanya.


Ricko menarik napas perlahan.


“res, aku pengen kamu tahu sesuatu. Aku.. kuharap… kamu bisa mengerti dan tidak marah padaku”


Restiana terdiam. Kini ia tahu ricko ingin mengatakan sesuatu yang berlawanan dengan harapan terbesarnya.


“sebenarnya, aku… aku suka aninda res” kata ricko terbata-bata.


Mata restiana berkaca-kaca. Ia berusaha keras membendung air matanya.


“maaf res, aku nggak bermaksud menyakitimu”


Restiana mencoba mengeluarkan suaranya yang bergetar.


“nggak papa kok rick. Aku malah nggak enak, berarti selama ini aku ganggu kamu”


“nggak res, bukan gitu maksudku. Aku hanya… nggak mau ngasih harapan kosong ke kamu”


“iya rick, aku tahu” restiana masih bisa menahan luapan air matanya.


“makasih ya res” ricko memeluknya ringan. Lega.


Pelukan yang justru menambah beban dihati restiana. 


Bantal restiana kini basah karena air mata. Ia bingung harus mengambil langkah apa.

__ADS_1


Penjelasan ricko tadi membuat dia tak mungkin lagi memaksa cowok itu untuk mencintainya. Ia berharap bisa membuat ricko semakin terbuka padanya.


Ya, restiana baru saja memutuskan dirinya akan menjadi tempat curahan hati ricko tentang cinta murninya pada aninda. restiana tahu itu akan membuatnya semakin sakit, tapi ia tak ingin jauh dari ricko.


hatinya memang perih, tapi cintanya pada ricko membuat dia tak sanggup tersisih dari kehidupan cowok itu.


“aku bisa karena aku sanggup” gumam restiana lirih.


 


*** 


Akhirnya masa satu bulan terlewati.


 


Aninda duduk dibawah pohon dekat lapangan SD-nya. Itu tanggal perpisahannya dengan umar.


Tapi ketakutan terbesarnya adalah kalau umar telah meninggalkan raganya tanpa sepengetahuan aninda. hingga kini penantiannya belum juga sirna.


Dilubuk hati aninda yang paling dalam masih ada setitik kekuatan dan keyakinan bahwa umar memang merindukannya.


Sama seperti dirinya yang selalu merindukan umar, terlebih pada malam-malam yang sunyi.


Rintik-rintik hujan mulai turun. Ah, musim hujan memang telah tiba.


Untunglah kerindangan pohon yang menaungi aninda masih mampu menahan titik-titik air itu membuatnya tetap kering.


Ia menatap langit dengan pasrah. Sebentar lagi sore semakin pekat. Kenapa tadi nggak keingetan bawa payung? Payah banget sih, pikirnya kesal.


Suara dentingan sendok dan piring mendekati aninda. penjual bakso keliling. Aninda tersenyum sopan pada si penjual bakso yang memang tetangganya.


“dik anin dari mana?” Tanya penjual bakso itu heran melihat tetangganya ada ditaman hujanhujan.

__ADS_1


“habis main pak, nggak bawa payung. Jadi berteduh dulu” jawab aninda berbohong.


“oh, kalau begitu temenin bapak mangkal aja” canda penjual bakso itu. 


Aninda hanya meringis malu. Tetangganya itu memang selalu mangkal dibawah pohon itu.


Duh, mencium aroma kuah bakso yang mengepul harum membuat perut aninda merintih minta asupan gizi. Padahal uang serupiah pun ia tak membawa.


vigo. Pengendaranya memang vigo. Cowok itu berjalan mendekati aninda sambil melepas helm.


“pak, bakso satu ya. Biasa, nggak pake sambel” kata vigo tanpa menegur aninda.


“ngapain kamu kesini?” Tanya aninda ketus.


“dia memang langganan saya dik” ujar si tukang bakso.


Vigo menatap aninda dengan penuh kemenangan. “jelas?!” 


Aninda memutarkan bola matanya, males berdebat dengan cowok macam vigo.


______________________________________


Like


Komen


Vote😘❤


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


S.A.L™


 

__ADS_1


__ADS_2