
Aninda menoleh ke samping kiri. Vigo seharusnya berada di situ, tapi cowok itu sudah tak ada, entah kemana. Hati aninda gelisah. Ia menoleh ke arah restiana yang tersenyum lebar.
“Kamu mau jadi cewekku kan nin? Jadi pendampingku?”
Pertanyaan yovi membuat aninda semakin gugup, napasnya memburu. Jantung aninda berdetak begitu kencang, kapan saja siap meledak saking tegangnya.
Keringat dingin aninda meleleh pelan di balik poninya. Ia memberi syarat pada yovi sambil mengedipkan kedua matanya.
Yovi tersenyum sabar. “Nggak usah jawab sekarang juga nggak papa nin. Aku cuma minta kamu terima bunga ini” yovi menyodorkan buket mawar.
Semua kecewa dengan akhir adegan itu. Mereka ingin mendengar jawaban pasti dari aninda. semua bertepuk riuh saat aninda menerima mawar dengan tangannya yang gemetaran.
“Makasih” ujar aninda lirih, masih dengan senyum konyolnya.
“Wuih.. romantis! Kita menunggu kabar selanjutnya ya yov!” suara agus membuyarkan konsentrasi semua orang.
Yovi masih berdiri disamping aninda, merangkul bahu gadis itu dengan penuh sayang. Ia mengedip pada agus.
“Oke! Kita lanjutkan dengan acara lain. Pasang sabuk pengaman kalian karena band pujaan hati kita akan segera beraksi!”
Agus membuat semua orang yang berada diaula bersorak ria. Perhatian mereka untuk aninda dan yovi telah teralihkan. Namun ingatan tentang malam ini takkan pernah mereka lupakan.
“Paling si cewek tengil itu nerima” ketus merli sambil memandang aninda iri.
Syifa mengangguk kuat-kuat. “Paling juga gitu mer. Eh, marsya mana mer?”
“Tadi keluar. Lagi nyepi kayak biasa” gumam merli.
__ADS_1
***
Di luar aula…
Gerimis turun. Awan hitam menutupi kerlap-kerlip bintang. Marsya memandang vigo dengan pengharapannya.
“Maaf sya, aku nggak bisa membalas cintamu” kata vigo halus.
“Iya nggak papa vig” marsya tersenyum pilu.
“Sebenarnya cintamu itu bukan buatku sya” vigo tersenyum kecil dengan salah satu ujung bibirnya terangkat.
Marsya bingung. “Maksud kamu vig?”
Marsya masih terdiam kaku ketika vigo beranjak pergi menuju parkiran, merobos dinginnya malam. Akhirnya marsya tahu kekeliruan yang selama ini ia rasakan. Seharusnya ia menyadari sejak awal. Kenapa aku ini? Marsya menitikan air mata. Perasaan cintanya untuk yovi masih tersimpan jelas. Tersusun rapi dalam benaknya. Rasa sesal itu muncul kembali.
Semilir angin malam menggoyangkan rambut marsya. Tangannya terlipat didada, menghalau hawa dingin yang mulai merayapinya. Benang-benang cinta yovi untuknya jelas telah putus. Sudah ada gadis lain yang menggantikan posisinya dihati yovi. Isaknya bertambah. Ada yang mencabik-cabik hatinya. Begitu perih.
Sebuah sentuhan hangat singgah dipundak marsya. “Pulang yuk kak”
Ricko.
Marsya memandang ricko dengan nanar. Ia berdiri dan memeluk erat adiknya, meluapkan segala emosi.
__ADS_1
Ricko mengelus rambut kakaknya dengan lembut, mengusap air matanya, lalu menggandeng marsya menuju mobil.
“Yuk res” ajak ricko pada restiana yang sejak tadi berada dibalik punggung ricko.
Restiana tersenyum hangat pada marsya dan ricko. bertiga mereka berjalan berjajar menuju tempat parkir.
Karena membawa sopir, ricko duduk didepan. Marsya duduk disamping restiana dan langsung menyandarkan kepalanya yang terasa berat pada pundak restiana. Dalam hati restiana senang karena ia semakin dekat dengan ricko dan keluarganya.
***
“Habis ini langsung tidur aja nin, kamu pasti capek.” Yovi mengantar aninda sampai didepan pintu rumah gadis itu.
“Beres bos. Kamu juga ya” ujar aninda mantap.
“Inget nin, aku nunggu jawabanmu” yovi mengingatkan aninda.
Aninda mengangguk pelan.
______________________________________
Like
Komen
Vote❤😘
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
S.A.L™