Cinta Dan Dusta

Cinta Dan Dusta
Chaptet 37


__ADS_3

***


Ulangan umum semester ganjil berlalu juga. Tibalah saat melepas ketegangan belajar dengan melakukan classmeeting selama seminggu. Semester itu giliran lomba basket antarkelas, bergantian dengan voli yang dipertandingkan semester lalu. Senin kemarin kelas aninda menang melawan kelas X-2 sehingga berhak masuk babak perempat final. Lawan mereka berikutnya kelas XI IPA 3. 


Aninda dan restiana menerobos kerumunan yang memenuhi sekeliling lapangan. Hari itu ada pertandingan kelas vigo versus kelas X-9. Dengan susah payah aninda berhasil menembus penonton yang berjubel. Sekarang ia bisa jelas menyaksikan pertandingan. Restiana yang membuntutinya tampak kelelahan. 


"Nin, sinting kamu ya! Nerobos orang segitu banyak" restiana memegangi dadanya yang naik turun. 


"Yaelah, kalau nggak gitu kita nggak bisa ngeliat apa-apa" kata aninda membela diri. 


Aninda mengamati sekelilingnya. Kebanyakan supporter kelas X-9. Di samping aninda berdiri segerombolan cewek heboh yang sejak tadi berteriak-teriak menyuarakan kelas X-9, padahal belum satupun pemain yang memasuki lapangan. Aninda dan restiana sampai harus menutupi telinga saking takut tuli permanen. 


Begitu para pemain memasuki lapangan, suara teriakan memekakkan telinga membahana dari semua sudut lapangan.


"Vigo! Vigo! Vigo!" Jerit para cewek penghuni kelas XI IPA 5. 


"Umar! Umar! Umar!" Teriak para cewek penghuni kelas X-9. 


Vigo memasang tampang jutek, tak memedulikan teriakan teman-teman yang menjagokannya.


Berbeda dengan umar yang langsung tersenyum simpatik pada teman-teman sekelasnya. 


Batin aninda kembali merintih mengingat masa lalunya dengan umar. Senyuman umar seperti tertuju padanya, tapi aninda langsung tersadar bahwa senyuman itu untuk teman-teman sekelasnya yang berdiri heboh disekitarnya. 

__ADS_1


"Astaganaga! Senyuman umar manis banget!" Teriak seorang cewek kelas X-9. 


"Udahlah sil, percuma aja. Dia juga nggak bakal inget namamu!" Temen yang berada disebelah cewek tadi mengernyit cuek. 


"Tapi itu karena amnesianyakan, lu?" Cewek yang pertama membela diri. 


A m n e s i a. 


Dunia serasa berhenti bagi aninda. Bisakah sang waktu juga berhenti agar ia memiliki ruang kosong sejenak untuk mencerna informasi yang didengarnya barusan?


Umar amnesia? Sejak kapan dan kenapa? Apa ini alasan dia tak datang ketempat kenangan mereka. Pohon perjanjian? Kalau ya, lalu kenapa dia bisa mengingat aninda saat menulis surat itu?


Kepala aninda seperti berputar. Ia memandang lurus kedepan. Perutnya bergejolak, tak sanggup menahan emosi yang begitu cepat menyelimutinya. Ia harus segera mencari kepastian tentang amnesia umar. Segera.


Permainan itu tampak berjalan begitu lambat bagi aninda. Kepalanya berkedut. Setiap melihat bola memantul dari tangan umar. Keseimbangannya hilang. Sekuat tenaga aninda menahan tubuhnya agar tetap berdiri tegak. Namun gagak. Gedebuk!


 


***


Samar-samar aninda melihat langit-langit kamar. Disampingnya ada yovi yang memandanganya lekat-lekat. Raut cemas membungkus wajah yovi. 


"Nin?" Bisik yovi pelan. 

__ADS_1


"Udah berapa lama aku pingsan?" Pandangan aninda sudah cukup jelas. 


"Nggak lama kok nin. Udah enakan?"


Aninda mengangguk pelan, matanya menerawang. 


Ada sekelumit kekecewaan dalam hati yovi. 


**


Hari berikutnya restiana lebih memilih mengajak aninda duduk dikantin daripada nonton berdiri dibawah terik matahari. Ia tak mau kejadian kemarin terulang lagi pada aninda. Suasana kantin sepi karena hampir semua murid SMA Harapan Jaya menonton pertandingan basket yang makin seru. Restiana sedikit kagok melihat kebisuan aninda. 


______________________________________


Like


Komen


Vote😘❤


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


S.A.L™

__ADS_1


 


__ADS_2