
"Aku suka kamu nin, sayang kamu" kata-kata itu keluar dari mulut ricko dengan begitu cepat.
Kontan aninda tertawa. "Rick, jangan becanda gitu ah! Nggak lucu tau!" Ricko menarik tangan aninda, menggenggamnya erat-erat.
"Nggak tahu kenapa pas ketemu kamu tadi aku langsung pengen ngungkapin perasaanku yang udah lama aku rasain"
Aninda melongo, benar-benar bingung.
"Nin, aku tau ini nggak romantis, nggak tepat waktunya. Tapi mau nggak kamu jadi cewekku?"
Aninda menggeleng pelan. "Kamu pasti lagi ngerjain aku. Iya kan rick?"
"Nin! Tatap mata aku! Aku serius nin! Aku cinta kamu! Cinta kamu dari SD! Aku nunggu kamu nin!" Ricko berbicara lantang.
Aninda gugup bukan main. Jantungnya berdegup kencang. Entah apa yang ia rasakan sekarang. Takut, kaget, semua bercampur dalam hatinya.
"Nin, aku nggak mau kamu jadi milik orang lain. Kamu mau kan jadi cewekku? Kamu juga suka sama aku kan?" Ricko mulai gugup sendiri.
"Nggak rick. Nggak begitu. Aku, aku udah nganggep kamu seperti adikku sendiri" jawab aninda gelagapan.
Ricko terdiam. Sorot matanya semakin tajam. "Kamu masih nunggu umar nin?" Air mata aninda hampir tumpah mendengar pertanyaan ricko.
__ADS_1
"Sia-sia kamu ngarepin dia nin. Kamu sendiri nggak tahu sekarang dia dimana kan? Iya kan? Aku nggak bakal berhenti ngejar kamu sampai terbukti bahwa umar emang bener-bener masih ada buatmu"
***
Restiana memejam perlahan. Setetes air mata bergulir lembut. Gerimis membuat dinginnya malam jadi terasa ke tulang. Suasana hatinya ikut dingin, mungkin hampir beku. Kerapuhan jiwanya makin terlihat karena kelelahan yang mulai menerpa. Jalan cintanya begitu terjal. Juga seakan buntu.
***
Tiga hari aninda berpikir keras---sebenarnya ini bukan sifat aslinya. Ia memikirkan benangbenang cintanya yang kian berserabut. Kalau ia tetap pada pendiriannya---menanti sesuatu yang tak pasti---akan semakin banyak orang yang terluka. Ia harus berbuat sesuatu keputusan tegas yang akan menyelesaikan semua masalah ini.
Hingga hari sabtu aninda masih tetap membisu. Wajahnya sayu, lemah, lesu, lunglai. Orang yang melihatnya akan mengira aninda TKW indonesia yang baru disiksa majikan. Keceriaan yang selama ini melekat pada dirinya pergi entah kemana.
Bu purwanti menduga muridnya yang satu ini sedang terkena sindrom ujian listening bahasa inggris yang akan diadakan minggu depan.
"Ada anak baru disekolah kita nin" lapor restiana saat mereka selesai berganti baju olahraga.
Sebenarnya aninda tidak tertarik. "Pindah kapan?"
"Ternyata udah dari senin lalu. Saking kupernya, kita sampai nggak denger beritanya"
__ADS_1
Aninda tersenyum kecil, tak menanggapinya lagi. Ia sibuk melipat baju olahraganya agar muat ditas. Saat aninda membuka tas punggung, secarik amplop merah jatuh kelantai. Aninda melirik restiana, takut dia lihat. Ternyata restiana juga sibuk dengan baju olahraganya. Cepat-cepat aninda menyembunyikan amplop itu di saku rok.
Seperti biasa, saat istirahat aninda pergi ke tempat pertapaannya, perpustakaan. Kebetulan restiana belum selesai menyalin PR trigonometri dikelas, jadi aninda punya kesempatan membuka dan membaca isi amplop itu diperpustakaan.
Aku tunggu dibawah pohon sore ini
Umar
______________________________________
Like
Komen
Vote😘❤
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Mohon dukungan nya yah.jangan cuma jadi pembaca gelap😉
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
S.A.L™