
Yovi melambai pada aninda. aninda balas melambai hingga mobil yovi tak terlihat dari pandangannya.
Dikamar, aninda menjatuhkan tubuhnya ke ranjang. Ia berbaring telentang, menatap langit-langit kamar, kemudian tatapannya beralih pada foto yang terpampang disudut kamar. Foto dirinya saat SD. Rambut dikepang dua, senyum konyolnya tergambar jelas. Disampingnya ada umar dengan ekspresi datar melirik aninda kecil.
Hatinya gundah gulana. Ia teringat pada prinsip cewek di novel restiana. Kita boleh menanti, tapi jangan menanti yang tak pasti. Tapi si cewek dalam novel tetap saja menanti tanpa gentar.
Aninda bingung. Katanya si cewek memegang prinsipnya itu? Tapi kenapa justru ia terus menanti? tanya aninda pada dirinya sendiri.
Pikirannya terus berlari ke sana kemari, mengingat semua kejadian yang pernah ia alami. Dan semua terasa bagai mimpi saat ia memejamkan kedua bola matanya. Bermimpi lagi tentang masa SD-nya.
***
“Vig? Udah tidur?” tanya yovi mendekati vigo.
“Belum. Ada apa?” vigo membalik posisi tidurnya. Menatap yovi yang kini duduk disampingnya.
“Tadi kamu kemana? Aku sama aninda bingung nyariin kamu.” Yovi berbaring di ranjang sebelah vigo.
“Aku pusing yov, jadi mending pulang duluan aja” dusta vigo. Lalu berbalik, kembali memunggungi yovi.
Yovi dan vigo sama-sama diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing.
“Vig?” yovi menatap punggung adiknya.
“Hm?” vigo tak mengubah posisi tidur yang memunggungi kakaknya.
“Kayaknya aninda lagi nungguin seseorang, nggak tahu siapa. Tatapannya, lamunannya, bikin aku tambah yakin bahwa dia lagi menanti sesuatu, atau lebih tepatnya seseorang.”
__ADS_1
Vigo tak menjawab, membuat yovi mengira ia sudah terlelap. Padahal saat yovi sudah memejamkan mata, vigo masih terjaga. Sorot matanya yang tajam mengisyaratkan dirinya sedang berpikir keras.
***
November datang membawa guyuran hujan yang lebat. Marsya mengusap jendela kelasnya yang berembun, menatap lapangan SMA yang sepi, tak ada lagi murid-murid yang beraktivitas disana. Pelajaran olahraga dipindahkan ke aula bila cuaca tak mendukung seperti hari itu. Kekecewaan menyeruak dari benaknya, biasanya ia bisa melihat yovi berolahraga. Hujan tolong berhenti, pintanya dalam hati.
***
“Hampir ujian semester, tapi semua mapel rasanya bablas dari kepala!” keluh aninda sepulang sekolah.
Restiana yang berjalan disampingnya tersenyum geli mendengarnya. “Yah belajar dong nin” “Iya, belajar sih belajar. Tapi tetep aja yang dipelajari mental semua.” Gerutu aninda.
“Belajar sama yovi dong. Dia ikut Lomba Cerdas Cermat kan?”
“Ya Tuhan! Kamu masih belum jawab juga nin?”
“Udah res, aku udah nolak. Tapi tetep dia mau nunggu aku”
Restiana mengerutkan dahi. “Berarti dia serius dong nin”
“Nggak tahu lah res”
Dahi restiana kembali berkerut, tampak seperti usus dua belas jari. “Maksudmu?”
“Dia juga mikirin marsya, dia cerita gitu sama aku”
Restiana memilih tak berkomentar. Marsya sudah banyak bercerita pada dirinya, termasuk hal yang aninda tak tahu. Yang memutuskan hubungan dengan yovi adalah marsya, itupun keputusan sepihak. Dan menurut pengamatan restiana, sepertinya yovi memang masih memiliki rasa untuk marsya, walaupun mungkin hanya setitik.
__ADS_1
***
Marsya lebih banyak berdiam diri saat rapat OSIS berlangsung. Ia sesekali melirik yovi yang duduk disampingnya. Merli dan syifa risih melihat sikap sahabatnya itu.
“Sya, jangan ngeliatin dia terus” bisik merli ditelinga marsya.
Marsya tersenyum ke arah merli. “Mumpung masih bisa ngeliat dia mer”
Merli dan syifa memutar bola mata, pasrah dengan sikap sahabatnya yang mulai aneh.
“Yov?” panggil marsya begitu rapat usai.
“Ada apa sya?” tanya yovi tenang.
Marsya sengaja menunggu semua anak keluar, hanya tinggal mereka berdua diruang OSIS
______________________________________
Like
Komen
Vote😘❤
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
S.A.L™
__ADS_1