
"Nak aninda ngobrol dulu sama umar ya, tante mau beli minuman dikantin" kata ibu umar sambil menarik kursi dan memberi tanda agak aninda duduk. Sosok wanita ramah itu seperti kurang tidur karena ada garis hitam dibawah matanya.
Aninda mengangguk sopan. Dengan hati-hati ia duduk dikursi yang tersedia disamping ranjang umar. "Kamu sakit apa?"
"Penyakitku nggak penting buat kamu nin. Aku cuma pengen ngasih tau kamu sesuatu yang penting banget" kata umar serius.
Aninda mengerutkan dahi. Bingung. "Sesuatu apa mar?"
"Ini berhubungan dengan masa lalumu"
"Masa lalu kita maksudmu?" Koreksi aninda.
Umar menggeleng. "Selama ini kamu keliru nin. Kamu mengira aku umar, masa lalumu"
Seketika petir dahsyat seperti menyambar aninda. "Maksud kamu apa? Mar, aku tahu kamu lagi sakit sekarang, nggak usah bilang macem-macem dulu deh"
"Nggak nin, aku pengen kamu tahu sebelum aku mati. Aku bukan umar masa lalumu nin. Beberapa bulan lalu saudaraku memaksaku pindah sekolah agar kamu mengira aku umar. Sebelumnya dia nyeritain semuanya ke aku. Tentang dia, kamu dan umar" "Dia.. dia siapa maksudmu?" Potong aninda penasaran.
"Ricko"
***
Ricko tersenyum sinis melihat teman-teman disekelilingnya tegang menunggu jawabannya. "Karena vigo adalah masa lalu aninda yov!" Rikco tertawa nyaring.
"Maksudmu apa? Nggak usah ngarang cerita!" Yovi menarik kerah ricko lagi.
Senyuman sinis ricko menghilang. "Kamu kaget kan? Tapi ini emang faktanya, vigo sesungguhnya adalah umar, pangeran kecil aninda, orang yang selalu aninda damba!"
__ADS_1
"Nggak usah macem-macem sama aku rick!" Ancam yovi pelan.
"Dia bener yov. Vigo emang masa lalu aninda" tiba-tiba satriya angkat bicara agar mempersingkat waktu.
Yovi menoleh, menatap tajam pada satriya, mencari kesungguhan.
Ekspresi bingung yovi membuat ricko kembali tertawa. "Biar lebih jelas, nama belakang kalian berdua kumara sastrodjoyo kan? Dan saat SD vigo lebih senang dipanggil nama tengahnya, umar"
"Shit!" Yovi tak berminat mendengar kelanjutan kisah ricko dan justru memilih mengajak kedua temannya ke bandara.
***
"Aku butuh penjelasanmu sat" kata yovi pada satriya dalam perjalanan menuju bandara.
Satriya mulai bercerita dalam nada tenang.
***
"Seharusnya ricko tahu aku nggak tahu keberadaan umar saat ini. Jadi kenapa ricko ngelakuin ini semua?" Aninda bingung.
"Karena selama ini umar ada di dekat kamu nin. Dekat banget"
"Mkasudmu mar?" Penjelasan umar seperti sebuah teka-teki bagi aninda.
"Umar ada vigo, vigo kumara sastrodjoyo. Saat SD dia lebih suka dipanggil nama tengahnya, umar"
__ADS_1
Aninda menutup mulutnya yang melongo dengan kedua tangan yang gemetaran. Matanya berkaca-kaca.
***
Yovi, satriya dan rian tiba dibandara. Vigo terlihat sedang duduk bersama teman-teman basket didekat pintu keberangkatan. Setengah berlari yovi mendekati kembarannya. Ia langsung melayangkan tonjokan keras ke wajah mulus adiknya. Teman-temannya terbengong-bengong, tak percaya menyaksikan perbuatan yovi yang biasanya santun dan tenang.
"Pengecut kamu!l teriak yovi parau.
Orang-orang disekeliling mereka mulai mengerubungi yovi dan vigo. "Kenapa kamu nggak bilang? Kenapa kamu nggak nunjukkin ke aninda bahwa kamulah orang yang selama ini dia nanti? Kenapa?"
Vigo mengelap darah dibibirnya dengan tangannya yang dingin.
"Karena aku nggak mau lagi ngerebut sesuatu dari kamu yov"
"**** banget sih kamu!" Aku aja nggak pernah mikir gitu. Aninda milikmu dari dulu sampai sekarang. Seharusnya kamu tahu itu. Cara pengecutmu yang kayak gini justru nyakitin banyak orang."
Yovi menarik napas panjang, berusaha meredakan emosinya.
______________________________________
Like
Komen
Vote❤😘
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
S.A.L™
__ADS_1