
Tangan aninda bergetar hebat setelah mengetahui isi surat itu. Badannya panas-dingin, gemuruh dihatinya datang. Umar telah kembali! Umar sedang menantinya! Aninda sebetulnya heran, siapa yang memasukkan amplop itu kedalam tasnya, dan darimana umar tahu alamat sekolahnya. Tapi aninda juga senang, berarti penantiannya selama ini tak sia-sia. Berarti masalah terbesar dalam hidupnya akan selesai hari ini. Takdir mulai berjalan sempurna, batin aninda senang.
Rasa gelisahnya mulai muncul saat memikirkan pertemuan nanti. Hati aninda meraba. Bagaimana kalau umar telah berubah, bagaimana kalau ternyata dia sudah menikah, atau malah umar menemuinya untuk sekadar mengucapkan salam perpisahan?
Aninda menggeleng kuat-kuat. Umar pasti menepati janji!
"Nin, surat dari siapa?" Suara ricko. Rupanya sedari tadi dia mengamati aninda dari belakang.
Cepat-cepat aninda menyembunyikan surat itu dari ricko.
"Umar udah kembali rick. Kamu jangan ngarepin aku lagi"
Wajah ricko terlihat datar. "Belum tentu dia kembali kepelukanmu nin" Aninda melongo. Terdiam tak bisa menjawab.
"Dia nggak bakal kembali untukmu nin!"
***
Aninda tak sabar bertemu umar, cowok yang telah lama dinantinya. Keceriaan kembali menyinari wajahnya, senyum manis selalu ia tunjukkan pada setiap teman yang berpapasan dengannya. Ia merasa menggenggam dunia, atau mungkin seperti terbang ke angkasa? Aninda ingin menunjukkan pada ricko bahwa umar masih ada untuknya.
__ADS_1
"Nin, coba lihat cowok yang lagi berdiri didepan kelas X-9"
Restiana membuyarkan lamunan indah aninda. Dengan enggan aninda menoleh ke arah yang ditunjuk restiana.
"Dia anak baru itu nin. Katanya sih namanya umar. Cakep ya!"
Jantung aninda mau copot mendengar nama umar disebut. Aninda menoleh kembali ke arah cowok itu. Pandangan aninda dan umar bertemu. Jantung aninda langsung berdegup lebih kencang.
Ah, masa dia umar yang selama ini dinantinya? Kalau bukan, bagaimana bisa ada amplop merah ditasnya? Sudah pasti dialah umar! Umarnya. Umarnya telah kembali!
Agar restiana tidak curiga, aninda menahan emosi dan berusaha bersikap biasa. Sekali lagi ia melihat ke arah cowok itu. Nanti juga bakal ketemuan, hati aninda terkikik senang.
***
***
Sore itu gerimis turun menemani langkah aninda menuju pohon perjanjian. Ayunan kakinya seperti mengikuti alunan musik ceria yang mewarnai hatinya. Ibunya sempat heran melihat putrinya tersenyum-senyum sendiri dikamar, didapur, diteras, bahkan mungkin dikamar mandi. Bagaimana aninda tidak semringah? Ia akan bertemu orang yang paling ia rindukan.
__ADS_1
Aninda duduk dibawah pohon sambil sesekali merapikan penampilannya. Ia tak sabar menunggu kemunculan umar. Seharusnya umar sudah menunggunya. Mungkin dia mau kasih kejutan, pikir aninda menenangkan diri.
***
Hati aninda menjadi gelisah. Sudah satu jam ia beridiri, duduk, berjalan mondar-mandir, melamun, menengok kiri-kanan disekitar pohon. Tak ada yang datang. Aninda menggigiti kukunya, mencoba meredakan rasa tak sabarnya.
Seharusnya umar sudah datang, seharusnya umar sudah ada didepan aninda. Rasa penasaran berubah menjadi kekecewaan. Penantiannya tak terjawab. Umar lupa, atau... mungkin umar tak ingin bertemu dirinya lagi? Air mata aninda merebak.
Hari menjelang petang. Cahaya matahari hampir tak bersisa. Aninda merogoh tas kecil yang dibawanya, mengambil hp bututnya. Dengan tangan gemetaran aninda menghubungi orang yang sangat ia butuhkan sekarang. Ia kakan kembali pada keputusan awal.
______________________________________
Like
Komen
Vote❤😘
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
S.A.L™
__ADS_1