
"Masih pusing nin?" Bisik restiana.
Aninda menggeleng.
"Mau makan?"
Aninda kembali menggeleng.
Restiana berdecak pelan.
"Aku masih mencintainya res" air mata aninda mengalir begitu saja. "Aku masih mendambanya, walaupun dia udah nggak inget aku lagi. Aku bodoh telah menyakiti yovi karena sesungguhnya aku masih mencintai umar"
Restiana merangkul pundak aninda. Ia tahu persis perasaan yang sedang melingkupi hati temannya. Perasaan tentang cinta bertepuk sebelah tangan yang masih menyiksanya hingga kini.
Tanpa mereka berdua tahu, sesungguhnya dua sosok yang begitu mencintai aninda tahu kenyataan yang baru diucapkan aninda. Salah satu diantara mereka tersenyum getir karena ternyata aninda masih menunggunya sampai saat ini. Sedangkan sosok yang lain semakin tersayat hatinya dengan pernyataan aninda.
***
From Princess Yasmin
Nin, aku udah nemuin umar!
Aninda membalas sms dari yasmin dengan malas-malasan.
Aku juga udah tau...
From Princess Yasmin : oh yeah? Terus?
__ADS_1
Aninda : terus apa? Dia kena amnesia, yas
From Princess Yasmin : ???
Aninda : !!!
***
Mobil yang ditumpangi aninda dan yovi melaju pelan menuju rumah aninda. Kegiatan disekolah belum selesai, tapi aninda ingin sekali pulang dan tidur.
"Nin? Kita putus" kata yovi kalem.
Aninda tersengat mendengar pernyataan kekasihnya. Bibirnya bergetar. "Kenapa?"
"Seharusnya kamu udah tahu jawabannya. Kamu nggak mencintaiku nin. Kamu masih mencintai umar kan?"
"Kamu beberapa kali menyebut nama umar saat pingsan kemarin"
Mobil yovi berhenti didepan rumah aninda. Si pengemudi menghela napas, lalu menengok ke kiri, menatap mata aninda yang sengaja belum turun. "Percuma ngelanjutin hubungan kita. Apalah arti semua ini kalau ternyata salah satu diantara kita membohongi perasaan yang sebenarnya. Aku nggak mau maksa kamu lagi nin. Kejarlah umar, mungkin dia yang terbaik buatmu"
Aninda menangis. Perasaan bersalah menjebol pertahanannya.
Yovi mengelus kepala aninda. "Jangan nangis gini dong nin. Aku nggak mau kamu nangis"
"Maafin aku yov. Pasti kamu marah sama aku. Benci sama aku" "Nggak nin, aku nggak bakal benci sama orang yang paling aku sayangi"
Tangisan aninda malah semakin menjadi.
__ADS_1
"Cinta itu nggak bisa dipaksain, dia datang dengan sendirinya dan akan pergi dengan sendirinya pulsa. Ada yang bilang, cinta nggak harus memiliki, kupikir itu omong kosong tapi ternyata bener. Buat apa memiliki raganya doang, sedangkan jiwanya entah berkelana kemana. Itu malah bikin aku sakit dan aku yakin kamu juga sakit. Yang penting sekarang kita intropeksi diri dulu aja, ada pelajaran yang bisa kita ambil dari semua kejadian ini"
Aninda masih menangis karena rasa bersalahnya.
"Nin, mulai sekarang kita jadi kakak-adik aja oke? Aku bakal jadi kakak terbaik buatmu"
"Maaf" bisik aninda parau.
yovi mengangguk pelan. "Cinta tercipta bukan untuk saling menyakiti, tapi untuk saling mengerti"
Air mata aninda masih mengalir.
Memang dari luar yovi tak tampak menangis, tapi batinnya perih merintih sejak kemarinn itulah akhir kisah cintanya dengan aninda. Menyakitkan.
***
Berita yovi putus dengan aninda langsung merebak pada hari ketiga. Aninda sendiri bingung kenapa semua orang bisa langsung tahu. Mestinya hanya dirinyalah dan yovi yang tahu.
Wajah-wajah semringah siswi SMA Harapan Jaya menyinari pagi yang mendung. Berita putusnya aninda dan yovi telah menggugah semangat mereka. Pujaan hati satu sekolah kembali melajang, dan inilah saat paling tepat untuk mencuri sekaligus mencari perhatian. Caranya mudah, beri perhatian untuk memancing perhatian balik.
______________________________________
Like
Komen
Vote❤😘
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
S.A.L™