Cinta Dan Dusta

Cinta Dan Dusta
Chapter 45


__ADS_3

"Karena kemarin aku nonton film bareng kakak sepupu. Di situ pangerannya ngasih kalung ke tuan putrinya, lalu bibir mereka nempel gitu." Ah, saat itu umar memang benar-benar masih polos. 


"Aku nggak ngerti kok bibir mereka nempel?" Aninda mengerenyit heran. 


"Kata kakak sepupuku, itu namanya ciuman, dan hanya boleh dilakuin orang gede pada cinta sejatinya"


Aninda yang tampak antusias tidak mengerti penjelasan umar. Ia hanya manggut-manggut dengan wajah kanak-kanaknya. 


"Kalau udah gede nanti kita ciuman ya nin. Ciuman pertama kita berdua. Kamu mau kan jadi ciuman pertamaku?" Tanya umar malu-malu. 


Aninda tersenyum polos. "Pasti!"


"Janji?" "Janji!"


Dan hari itu mereka membuat lagi sebuah janji, menambah deretan janji mereka sebelumnya. Kepolosan membuat mereka yakin janji-janji itu kelak terwujud menjadi nyata. Benarkah?


 


***


Aninda sesegukan dikamar tidur, menyesali perbuatan vigo tadi. Ia kaget dan marah karena vigo telah mengambil ciuman pertamanya. Kesembronoan vigo membuat aninda terpaksa mengingkari janji suci masa lalunya. Apa sih maunya vigo melakukan itu? Batin aninda geram. Kan masih banyak cewek yang mau diperlakukan seperti itu olehnya, lalu ngapain dia memilihku? Ciuman pertama seharusnya sakral dan bukan seperti tadi...


Aninda menjotosi guling dipelukannya. Ia menyesal telah memercayai vigo, sosok yang kini kembali berubah menjadi cowok menyebalkan. 

__ADS_1


Tak aneh bila aninda perlu seminggu untuk meredakan perasaan dongkolnya gara-gara ciuman vigo. Disekolah maupun dirumah bawaannya uring-uringan terus. Restiana sampai harus berpikir dua kali kalau mau mengobrol dengan aninda. 


Kalau mau jujur, sebenarnya bukan ciuman vigo, tapi ketidakjelasan keberadaan umarlah yang membuat aninda belingsatan. Bahkan saat dirinya kerumah umar untuk kedua kalinya, tak seorang pun ada di sana. Tidak juga neneknya. Rumahnya sepi. 


Kabar vigo bakal dikeluarkan dari sekolah juga sudah didengar aninda. Cowok itu harus meninggalkan SMA Harapan Jaya senin besok. Padahal hari sabtu rapor semester satu akan dibagikan, yang berarti liburan panjang sudah menanti. Aninda membayangkan liburannya akan indah karena ada umar, tapi sekarang harapannya kandas. 


***


Mata aninda jelalatan sewaktu berdiri didepan kelasnya, mencari restiana yang sejak pagi tak dilihatnya. Apa iya restiana absen? Biasanya dia paling rajin sekolah. Saat kekantin aninda melihat syifa dan merli tanpa marsya. Itu juga kejadian langka mengingat mereka bertiga selalu kemana-mana bersama. Sampai-sampai aninda suka meledek, mungkin ke neraka pun mereka bersama. Kenapa hari itu banyak keganjilan? Tiba-tiba ada panggilan dari hpnya. 


"Nin, kerumahku sini!" Teriakan yasmin langsung mengenai saraf kaget aninda. 


"Ada apa yas?" Tanya aninda datar. 


"Ouw, pantesan aku nggak lihat yovi disekolah. Tapi hari ini emang banyak banget yang nggak kelihatan disekolah"


"Kamu nggak tahu kenapa pada nggak sekolah?" Tanya yasmin menggoda. 


Spontan aninda menggeleng. Tentu saja yasmin tidak melihatnya. 


"Makanya main sini nin, ntar aku ceritain sesuatu deh!" "Oke!" Aninda menutup sambungan telepon. 


 ***

__ADS_1


Saat aninda berjalan melewati gerbang sekolah, hpnya berbunyi lagi. Ia mengerenyit melihat nomor asing yang tertera dilayar hp. Penasaran ia mengangkatnya. 


"Halo, selamat siang?" Suara wanita yang sepertinya berumur setengah baya. 


"Selamat siang" jawab aninda sopan. 


"Benar ini nak aninda?" Tanya suara diseberang sana untuk memastikan dirinya berbicara dengan orang yang dicari. 


"Betul. Ibu siapa ya?"


"Saya ibunya umar. Begini, nak aninda, umar sedang dirawat dirumah sakit" mata aninda membuat saat mendengarnya. "Umar minta agar nak aninda datang kerumah sakit sekarang. Bisa kan?"


______________________________________


Like


Komen


Vote😘❤


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


S.A.L™

__ADS_1


 


__ADS_2