Cinta Dan Dusta

Cinta Dan Dusta
Chapter 44


__ADS_3

"Kepala sekolah nggak mau bilang. Sekarang yang terpenting adalah mastiin vigo nggak macemmacem. Udah dulu ya nin, aku mau nyari dia di kafe" Sambungan telepon terputus. 


Muncul rasa khawatir dalam benak aninda. Vigo pasti lagi frustasi sekarang, orangnya emang susah ditebak. Dan kalau vigo putus asa, bisa-bisa dia... Tak berani melanjutkan dugaannya, cepat-cepat aninda mengambil jaket. 


Tempat pertama yang terlintas dalam benak aninda adalah sekolah. Ini hari sabtu, jadi bisa dipastikan masih ada siswa yang berlatih olahraga. Benar saja. Hampir semua ruang olahraga terdengar riuh. Aninda pusing, sekolahnya luas dan vigo bisa berada dimana aja. Aninda mencari vigo hingga sampai disuduh sekolah tempat anak-anak olimpiade sedang berkumpul.  


Aninda sedikit grogi melewati ruangan anak-anak yang super genius itu. 


"Ninda!" Seru seseorang dari arah berlawanan. Rupanya rossi, siswi olimpiade yang sekelas dengan aninda. "Lagi ngapain nin? Tumben"


"Kamu lihat vigo nggak?" Tanya aninda putus asa. 


"Tadi siang aku lihat dia di menara astronomi nin" jawab rossi sangat halus dan sopan.  "Oh ya? Makasih banget ros. Aku kesana deh"


 


***


Dalam langkah mantap aninda menaiki tangga yang menuju puncak menara. Menara astronomi biasa digunakan anak-anak klub pecinta astronomi untuk meneropong bintang. Tinggu menara itu kurang lebih sepuluh meter. Untuk mencapai puncak menara yang berupa teras terbuka, tersedia tangga beton seperti yang biasa dijumpai dirumah. Dengan tersengal-sengal karena tak mau melepas lelah diperhentian yang ada, aninda sampai juga dipuncak menara. Pada anak tangga terakhir ia melihat punggung vigo yang bidang. 


Pelan-pelan aninda mendekati vigo. Ia memilih berdiri disampingnya. Udara dipuncak menara terasa lebih dingin. 

__ADS_1


Vigo sama sekali tak menggubris kehadiran aninda, yang napasnya masih memburu. 


Pedih hati aninda melihat vigo yang begitu tak berdaya. Ia meraih tangan vigo, yang ternyata dingin, kemudian mengelusnya lembut. 


Vigo bangkit dengan cepat dan langsung memeluk aninda erat. Aninda mengelus punggung vigo lembut. Ia tahu sebenarnya vigo ingin menangis. Apa yang menimpa laki-laki ini?


 ***


Lima tahun lalu...


Daun-daun meranggas berjatuhan lemah dari pohon rindang, tertiup embusan angin bulan mei. Aninda kecil memperhatikan umar yang sejak tadi memunguti daun yang sudah menguning. Hari itu terik sehingga mereka memutuskan berteduh dibawah pohon cinta mereka. Aninda tersenyum melihat kegigihan umar memilah daun yang dianggapnya masih bagus. 


Umar tetap sibuk dengan daun-daun jatuh itu. "Nanti juga kamu tahu"


Aninda tersenyum ceria. Umar selalu membuat kejutan untuknya, membuat hari-harinya terasa indah dan mengasyikkan. Meski masih SD, ketulusan cinta mereka satu sama lain seakan tak kalah dibandingkan ketulusan cinta orang dewasa yang sudah berkomitmen. Umar merangkai daun-daun itu dengan ranting pohon yang ditemukannya. Susah payah ia merangkai daun yang menguning itu, berusaha menatanya seindah mungkin. Aninda hanya duduk terdiam disampingnya, memperhatikan ketekunan jari-jari umar sambil tersenyum. 


"Jadi deh!" Umar memamerkan hasil karyanya. Sebuah mahkota kecil dari daun kuning yang tampak seperti emas. 


"Itu buat apa?" Tanya aninda polos. Ia takjub melihat hasil karya umar yang begitu mengagumkan saat itu. 


Umar mendekati aninda, kemudian meletakkan mahkota itu di atas kepala aninda. "Ini buat Tuan Putri yang paling cantik dari seorang pangeran gagah!"

__ADS_1


Aninda tersipu malu. "Makasih, pangeranku"


"Karena sekarang aku udah ngasih kamu mahkota, nanti pas kita udah gede aku tinggal melengkapinya dengan memberimu kalung" kata umar yang terdengar seperti janji. 


"Kenapa kalung?" 


______________________________________


Like


Komen


Vote😘❤


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


S.A.L™


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Baca juga novel ku. Judul Best Lover

__ADS_1


__ADS_2