
***
Hari pembagian rapor di SMA Harapan Jaya tiba. Sabtu yang lumayan cerah mengingat akhirakhir ini hujan selalu turun. Karena semester satu, rapor tidak perlu diambil oleh orangtua, melainkan langsung diberikan kepada masing-masing siswa. Warga kelas aninda sudah lengkap pagi itu. Sesuai urutan abjad, aninda tak perlu menunggu lama untuk menerima rapor.
"Aninda chandraningsih" panggil Bu Purwanti, wali kelasnya.
Aninda berlari kecil ke depan.
Bu Purwanti sedikit heran melihat aninda yang biasanya tidak bisa diam.
"Kenapa hari ini, nin?" tanya Bu Purwanti heran.
"Nggak papa kok, Bu" jawab aninda lesu.
"Nin, you must know it. Sometimes the time when we really love him is the time we should actually let him go"
Aninda tercengang mendengar kalimat Bu Purwanti, yang sama sekali tak ia mengerti.
Bu Purwanti tertawa melihat wajah ***** aninda. "Terkadang pada saat kita benar-benar mencintainy, justru kita harus merelakannya"
Aninda tersenyum kecil, mencoba memahami makna kata-kata mutiara dari Bu Purwanti. Kemudian ia berbalik menuju bangkunya.
"Nin, kamu ranking satu ya? Kok tadi Bu Pur kelihatan seneng banget?" Bisik rossi penasaran. Rossi khawatir kalah saing dari aninda, yang terkenal rada bodoh.
"Tenang ros, masih kamu yang ranking satu kok!" Jawab aninda asal.
Rossi langsung cekikikan, senangnya bukan main.
__ADS_1
***
Sepulang sekolah aninda membuka lagi rapornya sambil menggeleng-geleng. Ia sudah belajar mati-matian, tetap saja semua nilainya pas-pasan. Restiana yang berada disebelahnya puas karena mendapat peringat dua. Ternyata peringkat satu benar-benar rossi.
Aninda mengeluh pelan, rasanya ia takkan semangat menjalani hari esok. Apalagi liburan panjang yang bakal sangat membosankan telah menantinya.
***
Liburan telah berjalan satu minggu. Benar dugaan aninda, liburan justru bikin frustasi. Benarbenar tak ada yang bisa membuatnya bergairah. Yang ada hanya omelan ibunya setiap pagi, yang menyuruhnya ini-itu. Bahkan aninda harus mengisi malam tahun baru bersama anak-anak kecil dikompleks rumahnya dengan menonton kembang api dilapangan.
Aninda pusing sekaligus iri pada teman-temannya. Bagaimana tidak? Yasmin dan satriya sedang bulan madu di Australia, menggantikan bulan madu mereka yang tertunda. Restiana bersama keluarganya berlibur ke Hongkong. Yovi dengan marsya jalan-jalan ke Bali.
Astaga! Kepala aninda hampir pecah memikirkan kesenangan dan nasib baik mereka. Mereka pasti tak tahu kondisi dirinya yang begitu mengenaskan. Si pengecut vigo pasti juga sedang asik di Amerika. Ah, lagi-lagi vigo. Seharusnya ia melupakan vigo karena kali ini pangeran kecilnya itu benar-benar tak akan kembali.
Aninda mendengus kesal. "Yes, mam!"
***
Dua minggu yang berjalan begitu lambat...
Sebuah undangan bersampul merah tergeletak di depan aninda. Undangan pesta pernikahan yasmin dan satriya. Itu beban untuk aninda, mengingat ia tak punya pakaian pesta yang layak. Apalagi pestanya di hotel berbintang yang baru saja diresmikan. Hotel yang dibangun dibekas SDnya. Hotel yang di halamannya ada pohon kenangannya.
__ADS_1
Dalam kebingungan aninda mendengar suara mobil berhenti, yang kemudian disusul dengan suara derit pintu pagar rumahnya. Marsya datang sendirian, tanpa yovi. Aneh sekali.
"Nin, kamu mesti ikut aku" kata marsya setelah memberi salam.
"Ada apa kak? Kok pagi-pagi begini?" Tanya aninda bingung.
"Kamu diundang ke pesta pernikahan yasmin kan?"
Aninda mengangguk cepat.
"Kamu udah beli kado buat dia? Udah ada baju yang mau dipake ntar malem?" Sekarang aninda menggeleng cepat.
"Ya udah, ganti baju sana. Kita belanja gila-gilaan hari ini"
Tanpa aba-aba aninda bergegas kekamar, mengganti bajunya dengan celana jeans dan cardigan merah.
______________________________________
Like
Komen
Vote😘❤
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
S.A.L™
__ADS_1