Cinta Dan Dusta

Cinta Dan Dusta
Chapter 46


__ADS_3

"Bisa bu! Rumah sakit mana?"


"Harapan Sehat"


"Baik bu, sebentar lagi saya kesana" "Ya, ibu tunggu ya nak aninda. Terima kasih" Sambungan terputus. 


Tergesa-gesa aninda mencari nomor yasmin, kemudian ia memencet warna hijau pada hpnya. 


"Ada apa nin?" Tanya yasmin halus. 


"Aku nggak jadi kerumahmu, ada urusan mendadak dan gawat darurat! Oke?" Tanpa menunggu jawaban yasmin, aninda langsung memencet tombol merah. Ia bergegas mencari angkutan umum kerumah sakit Harapa Sehat. 


 


***


Yovi, satriya, dan tim inti basket SMA Harapan Jaya sepakat melakukan rencana yang disusun beberapa hari lalu. 


"Jadi biar aku, satriya, dan rian aja yang dateng. Aku nggak mau ngerusuh dirumah orang. Ntar kalau ada apa-apa, kuhubungi kalian. Nah, kalian nganter vigo kebandara ya? Ntar aku, satriya, dan rian nyusul. Deal?" Yovi sekali lagi mengulangi kesepakatan mereka dengan tenang. 


"Deal!" Jawab yang lain serempak. 


Yovi, satriya, dan rian menaiki mobil yovi menuju rumah yang tak asing lagi bagi yovi. Sedangkan rifki dan keempat anak lain bergegas menuju Bandara Soekarno-Hatta.


 


***

__ADS_1


Hari itu marsya demam sehingga tak sekolah. Semalaman ia tak bisa tidur, dan sekarang matanya terasa berat sekali. Restiana ada dirumahnya, menemaninya bersama ricko. Obrolan kecil mereka dalam nada rendah hampir tak terdengar oleh marsya. Ketika matanya hampir tertutup, terdengar ketukan di pintu kamar. 


Yovi. 


Marsya tersenyum lemah sekalipun terkejut melihat kedatangan yovi. Baik hati betul dia sengaja menjengukku, pikir marsya agak bingung. Tapi senyumnya hilang ketika menyaksikan yovi menghampiri ricko, menarik kerah baju cowok itu... Lalu menonjoknya mantap. 


Restiana menjerit nyaring. 


Marsya hanya melongo, badannya terasa lemah sekali. 


"Kamu yang ngelakuin sema pada vigo kan?" Teriak yovi emosi. 


Satriya dan rian berdiri tegap dipintu, sekadar berjaga-jaga. 


"Ngelakuin apa?" tanya ricko tenang sambil mengusap-usap pipinya yang sebentar lagi pasti memar. 


Marsya dan restiana tercengang mendengarnya.  


Ricko tertawa sinis, "akhirnya kamu tahu juga"


Kemarahan yovi bertambah karena reaksi ricko yang tampak meremehkannya. "Kenapa kamu ngelakuin itu semua!" Tanya yovi menuntut penjelasan sambil mengangkat tangannya.


Tampaknya ia ingin menonjok ricko lagi. 


Untung satriya keburu menahannya, "yov, jaga emosimu!"


Yovi menarik napas perlahan, seakan memberi kesempatan pada ricko untuk menjawab pertanyaannya. 

__ADS_1


"Seharusnya kamu lebih tahu masalah ini. Kamu kan kakak dia" ujar ricko kalem. Rasa sakit dipipinya tak membuatnya menjadi lemah. 


"Nggak usah basa-basi! Kenapa?" Yovi bertanya dengan intonasi yang sengaja dilembutkan. 


"Kamu pengen tahu kenapa?" Ricko balik bertanya dengan tak kalah kalem. 


Yang lain justru menunggu dengan tegang. 


 


***


Ruang perawatan umar berada dibagian ujung rumah sakit yang cukup besar itu. Aninda melewati lorong-lorong dengan hati yang berdetak tak karuan. Beberapa kali ia berlari pelan saking tak sabar ingin melihat kondisi umar. Ternyata umar tak berada dirumah karena harus dirawat dirumah sakit, entah sakit apa. Perasaan cemas dan penasaran aninda membesar ketika melihat pintu ruangan umar berada tepat didepannya. Ia mengetuk dan pelan-pelan membuka pintu itu. 


Terlihat umar terbaring lemah dengan selang infus dilengannya. Aninda menutup mulutnya sendiri, sedih menyaksikan kondisi pangeran kecilnya. 


Umar membuka mata perlahan karena merasakan kehadiran seseorang. Ibu umar menyambut gembira kedatangan aninda. 


______________________________________Like


Komen


Vote😘❤


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


S.A.L™

__ADS_1


__ADS_2