
"Ya... Terserah penilaianmulah yov. Aku memang salah." Vigo mengulurkan tangan. "Aku minta maaf" vigo mengangguk lalu melepaskan pelukan. "Pesawatku hampir berangkat, aku harus segera masuk" ujar vigo kalem. "Yov, jagain aninda ya? Ceritain semua kebenaran pada dia" yovi terdiam sejenak, lalu perlahan menyambut uluran tangan vigo. Kedua bersaudara itu berpelukan erat. "Hati-hati ya vig. Maafin aku juga"
"Oke"
Vigo, kemudian bersalaman dengan semua temannya. Selamat tinggal indonesia, batinnya hampa.
***
Aninda berjalan meninggalkan rumah sakit sambil tersedu pelan. Jadi vigo sebenernya umar. Pangeran kecil yang selama ini ia cari, yang selama ini ia nanti. Jadi itu penjelasan kenapa selama itu vigo tahu segalanya tentang dirinya. Itulah alasan vigo menonjok ricko di menara, karena mereka memang musuh bebuyutan sejak dulu.
***
Setelah naik bus yang cukup lama, sampai juga aninda didepan rumah vigo yang tampak sepi. Gerbangnya terbuka lebar sehingga aninda memutuskan langsung masuk tanpa perlu memencet bel. Ia menuju beranda dan mengetuk pintu.
"Non ninda cari den yovi?" Tanya mbok tiyem begitu membukakan pintu ruang tamu untuknnya. "Nggak mbok, saya cari vigo!" Ujar aninda tergesa-gesa.
"Lho, den vigo pergi ke amerika hari ini. Katanya ada sekolah yang ngundang den vigo main basket. Non ninda nggak tahu toh?"
__ADS_1
"Haa? Apa?" Aninda seperti ingin pingsan mendengarnya.
"Jam berapa berangkatnya?"
"Wah, udah daritadi kok. Masuk dulu non, biar mbok buatkan teh"
Aninda mengangguk. Tubuhnya terasa lemas. Dia langsung duduk disofa yang terdekat dengan pintu agar tak keburu jatuh. Aneh, hatinya tak merasakan apapun lagi. Apakah ia sudah mati rasa?
"Mbok, vigo bakal balik lagi kan?" Tanya aninda datar saat mbok tiyem menyuguhkan segelas es teh.
Mbok tiyem terdiam sejenak. Raut wajahnya terlihat khawatir.
"Katanya sih nggak non. Den vigo bakal nerusin sekolah di sana"
Yovi mulai bercerita tentang kasus pencurian piala yang dituduhkan pada vigo, serta pengeroyokan teman-teman ricko pada adiknya.
"Jadi ricko yang ngelakuin ini semua?" Tanya aninda terkejut.
Yovi mengangguk pelan.
"Apa hakmu ngelarang aku deket sama ricko? Dia temenku sejak SD! Benarkah kamu yang nyuri piala itu? Aku nggak tahu kamu selicik itu vig! Sejahat itu! Pergi kamu vig!"
__ADS_1
"Aku emang mau pergi nin. Bilang kamu cinta aku nin!" vigo mencium bibir aninda. Aninda menampar vigo.
Rentetan peristiwa bersama vigo terlintas kembali dalam ingatan aninda. Ketololannya membuat dia tak menyadari selama itu umar ternyata berada didekatnya.
"Vigo juga salah nin" hibur yovi seakan bisa memba pikiran aninda.
"Aku bingung. Kok vigo bisa jadi kakak kelasku? Itu yang bikin aku nggak pernah berpikir atau mencurigai dia adalah umar" tanya aninda.
"Aku dan vigo ikut program penyetaraan pas SMP. Waktu dia SD aku masih di amrik. Dulu disini dia ikut nenek dari pihak ibu. Ketika kelas lima SD dia disuruh ke amrik karena kondisi nenek disini yang mulai sakit-sakitan. Tamat dari SMP diamrik, vigo maksa pindah ke indonesia. Dia ngotot pengen balik dan bersekolah disini. Aku terpaksa ngikut, buat jagain dia yang emosinya susah dikendaliin. Ternyata kamulah penyebab dia pengen banget pulang ke indonesia."
"Terus, kenapa sekarang kamu nggak ikut dia ke amrik?" Aninda rupanya belum puas bertanya.
"Buat apa coba? Dia ke amrik diundang salah satu SMA di sana. Aku nggak diundang"
"Kata mbok tiyem dia nggak bakal pulang"
"Doain aja dia nggak betah".
______________________________________
Di Like dong guys atau di Vote gitu. jangan nya jadi pembaca gelap.
__ADS_1
≈∞≈∞≈∞≈∞≈∞≈∞≈∞≈∞≈∞≈∞≈
S.A.L™