
“bulan, bolehkah aku merindukan seseorang yang mungkin sudah tak mengingatku lagi?” bisiknya pelan.
Bulan diam tak menjawab. Dan tetap berada diatas, memancarkan sinarnya yang temaran.
Aku merindukannya. Tolong pertemukan kami.
***
Saat itu, ditempat berbeda…
Umar berdiri di balkon kamar. Sendirian memandang bulan yang temaram. Wajah pucatnya menengadah penuh harap. Hanya satu yang ada diotaknya, yang selalu membayangi setiap tidur malamnya. Seseorang yang telah menerima janjinya, janji yang belum juga ditepatinya.
“bulan, aku merindukannya mala mini” kata umar lirih.
“akhirnya aku berhasil menemukannya.”
Bulan diam. Ada banyak orang yang berbicara padanya malam ini.
***
Seperti biasa, saat jam istirahat aninda sudah stand by dikantin ditemani restiana. Kali ini ia memesan mi ayam untuk mengisi perut.
“ceritanya sedih banget tuh novel res” kata aninda kurang jelas karena ada mi yang sedang dikunyah dalam mulutnya.
__ADS_1
“iya, tapi kata-katanya mengena semua kan?” restiana menyedot es kuwut.
Aninda menelan mi terburu-buru. “iya sih, tapi tetep aja bikin sakit hati yang baca”
“nggak lah nin. Tapi ada juga bagian yang bikin bingung. Seperti prinsip si cewek yang tertuang dalam kalimat ‘kita boleh menanti, tapi jangan terlalu menanti yang tak pasti’”
“dan tetep aja si cewek menanti” aninda melanjutkan kalimat novel itu.
Restiana tertawa. “nah, itu yang bikin aku bingung nin. Nggak mudeng sama maksud penulisnya.”
Pembicaraan mereka berhenti saat vigo datang mendekati aninda.
“ntar malem datang ke pensi bareng aku. Yovi sibuk ngurus acara” kata vigo datar.
“ya udah, aku berangkat sendiri aja kalau gitu.” Ujar aninda pelan.
Aninda merengek pada restiana. “dia mulai lagi res”
“sabar nin, paling itu juga kemauan yovi”
“dasar sengak! Makin benci aku!”
“ssst… nggak boleh gitu nin. Nanti justru kamu jadi suka gimana?”
Aninda menarik salah satu ujung bibirnya. “nggak mungkin!”
__ADS_1
***
Benci dan cinta, dua hal yang tampaknya jauh tapi nyatanya dekat. Benci dan cinta, dua hal yang sepertinya terpisah tapi justru berdampingan. Benci dan cinta hanya terpisah oleh selaput tipis, setipis serpihan es. Benci dan cinta, dua hal yang kini tak bisa marsya bedakan.
Marsya duduk sendirian di ruang OSIS. Melamunkan sesuatu yang membuatnya gelisah. Rapat OSIS baru saja berakhir, namun ia memutuskan tetap berada disitu sejenak untuk merenungkan banyak hal. Terngiang-ngiang di benak marsya percakapan yovi dengan seseorang seusai rapat tadi. Marsya mendengar jelas yovi memesan seikat bunga mawar untuk malam ini. Seingat marsya, yovi hanya melakukan itu untuk dirinya. Tapi kini, yovi tak bersamanya lagi, jadi untuk siapa bunga itu? Itulah yang sejak tadi dipikirkan marsya.
Marsya memang belum sepenuhnya merelakan kepergian yovi. Terlalu sulit melupakan kenangan indah yang pernah mereka rajut bersama. Semua itu tertanam dihatinya.
Ia sendiri bingung, sebenarnya pada siapa hatinya bermekaran? Yovi atau vigo? Atau duaduanya? Marsya harus lebih banyak belajar memahami kata hatinya. Apalagi hatinya tak seindah kecantikan wajahnya.
***
Malam itu aninda mengenakan kemeja putih dan rok hitam pendek. Ia mengucirkan rambutnya agak tinggi dan membiarkan poninya jatuh alami di dahinya. Vigo semakin terlihat tampan dengan kemeja putih yang ia gulung rapi dibagian lengannya. Mereka berjalan berdampingan bak sepasang kekasih, menuju aula sekolah.
Acara pensi dimulai dengan sambutan bertele-tele dari petinggi sekolah. Yovi juga mengisi sambutan karena menjabat ketua OSIS sekaligus ketua pensi. Aninda bangga melihat yovi memberi sambutan dengan penuh wibawa, beda jauh dengan vigo yang selalu bersikap dingin pada semua orang yang dijumpainya.
______________________________________
Like
Komen
Vote❤😘
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=S.A.L™
__ADS_1