Cinta Dan Dusta

Cinta Dan Dusta
Chapter 12


__ADS_3

Sepulang sekolah…


“nggak latihan basket vig?” Tanya aninda heran ketika mendapati vigo sudah berdiri didepan kelasnya.


Vigo tampak enggan menjawab.


“lagi males. Ayo, buruan pulang!”


“eh tapi aku mau kerumah yasmin, mau jenguk dia” ucap aninda.


“iya nanti sekalian aku anter. Aku mau jenguk juga”


Teman-temasn sekelas aninda yang baru keluar kelas mecuit-cuiti mereka berdua.


Wajah aninda memerah. Restiana yang keluar bareng aninda memahami situasi yang ada. Ia langsung pergi tak mau mengganggu.


“ternyata anin doyan pacaran juga” ledek riska, teman sekelas aninda saat melewati aninda.


Aninda tak berani berkomentar apa-apa, wajahnya seperti kepiting rebus.


Bu purwanti keluar dari kelas dan mengerutkan dahi ketika melihat aninda bersama vigo. “is she your girlfriend?”


“perhaps tomorrow, mam. Now she is just my friend, my junior” vigo menjawab tenang, masih dengan sikap angkuhnya.


“she is a sweet girl” imbuh bu purwanti.


“you are right, mam” ujar vigo tersenyum.


Dalam perjalanan ke parkiran sekolah aninda masih memikirkan pembicaraan vigo dan bu purwanti yang sama sekali tak dimengertinya.

__ADS_1


Ingin sekali ia menanyakannya pada vigo, tapi pasti cowok itu akan menertawakannya. Lagian pasti mereka ngomongin ketololanku, pikirnya.


Vigo memberikan helm pada aninda kemudian menunggangi motornya.


“pembicaraanku sama bu purwanti nggak usah terlalu dipikirin kalau emang nggak tau artinya” vigo seolah bisa membaca pikiran aninda. Aninda memutar kedua bola matanya. Kesal.


“minggu depan sekolah kita tanding. Kamu wajib nonton aku main” vigo menjalankan motor pelan-pelan.


Aninda yang berada di boncengan menggeurutu. “aku bakal nonton tapi bukan nonton kamu”


Vigo diam tanpa ekspresi dibalik helmnya. Tanpa ba-bi-bu ia menambah gas motornya kuatkuat.


“vigo! Mulai lagi!” teriak aninda panik.


*** 


Hujan deras mengurungkan niat ricko untuk berlatih karate.


Ia memutuskan absen. Suasana hatinya juga sedang kacau karena melihat aninda berboncengan dengan vigo.


Ricko menatap lekat marsya, kakaknya. “tadi dikantin kami bareng kak. Kakak juga lihat orangnya kan? Yang kita lihat boncengan sama vigo”


Ekspresi marsya berubah menjadi terkejut, bahkan tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun. Ia menatap adiknya, berharap ada penjelasan.


“sepertinya target kita melawan arah” gumam ricko.


“jadi semua ini berhubungan dengan masa lalumu?” Tanya marsya hati-hati.


Ricko mengangguk pelan tapi mantap.

__ADS_1


Hati marsya menjadi kalang kabut memikirkan apa yang terjadi kelak. “jangan sakiti dia, rick”


Ricko tak menjawab. Ekspresi wajahnya datar. Kemudian ia beranjak pergi keluar kamar meninggalkan marsya yang bibirnya bergetar.


*** 


Aninda bingung karena vigo tak mengantarnya pulang malah membawanya kesebuah kafe bernuansa klasik.


“ngapain vig?” Tanya aninda pelan. Pikiran aneh mulai merambati isi kepalanya. Jangan-jangan aku mau dijual. Pantas aja dia menjemputku tadi pagi, pikir aninda merinding.


“laper nih. Makan yuk” vigo menarik tangan aninda kuat-kuat.


Didalam kafe suasananya lebih tenang daripada diluar. Aninda gelagapan memasuki kafe yang terlihat begitu anggun dan mewah. Ia mengusap keningnya kaku, takut kalau-kalau menabrak sesuatu yang mahal. 


Vigo memilih tempat duduk didekat panggung. Ada live music.


Dipanggung seorang laki-laki memainkan gitar dalam irama klasik. Hmm… petikan gitar yang lembut itu sunggu menambah kenyamanan suasana kafe.


______________________________________


Like


Komen


Vote😘❤


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


S.A.L™

__ADS_1


__ADS_2