
Aninda melirik ruang OSIS yang berada tak jauh dari lapangan basket. Di depan ruang OSIS duduk dua sosok yang sangat dikenalnya, marsya dan yovi. Sudah tentu ada rasa cemburu dalam lubuk hati aninda, tapi ia berusaha menepisnya.
Aninda mengalihkan pandangannya ke pokok lapangan. Ada syifa dan merli yang tampaknya kesal menyaksikan kehebohan kelas aninda. Beberapa detik kemudian syifa dan merli mendekati ketua kelas aninda yang sedang beristirahat. Aninda mendengus kesal. Syifa dan merli selalu saja membuatnya tidak nyaman.
"Ayo! Semangat, teman-teman!" Teriakan rizka membuat telinga aninda berdenging. Rizka memang berdiri persis di sebelah aninda.
"Nin, mana semangatmu?" Protes restiana yang berdiri di sebelah aninda juga.
"Haus res. Aku kekelas dulu ya ambil minum" pamit aninda lemes. Sejak tadi kerongkongannya memang kering kerontong.
Saat berjalan menuju kelasnya, aninda melihat ricko yang hendak keluar menuju gerbang. Perasaan hari ini nggak ada jadwal latihan karate, batin aninda heran. Ia tahu persis hal itu karena teman sekelasnya juga anak karate. Mungkin ada yang ketinggalan tadi, pikir aninda sambil kembali melangkah.
Dikelas aninda minum dengan cepat. Rasa hausnya tak kira-kira, seperti orang yang mengalami dehidrasi parah. Puas minum, aninda mengelus perutnya yang menjadi kembung.
Sewaktu kembali kelapangan, aninda melihat vigo berjalan cepat menuju gerbang. Ini yang lebih aneh, batin aninda. Setahunya vigo paling anti pulang sekolah sore. Ia hanya pulang sore saat latihan basket. Tapi hari ini kan lapangan yang cuma satu-satunya itu dipakai kelas aninda. Kelas vigo juga nggak ada jadwal latihan. Tiba-tiba muncul kecurigaan dalam diri aninda.
***
Marsya yang sejak tadi duduk disamping yovi masih dia membisu. Yovi juga tak mengajaknya ngobrol, ia terlalu sibuk memperhatikan permainan kelas aninda. Sementara marsya sibuk memikirkan adiknya, ricko. Baginya sangat aneh ricko pulang sesore itu. Dan kenapa tak lama setelah kepergian ricko, tahu-tahu vigo muncul?
__ADS_1
***
Pada waktu yang sama di tempat yang berbeda...
Yasmin terus memegangi perutnya yang mulas bukan main. Ia berjalan dengan susah payah keluar kamarnya. Sejak semalam perutnya memang sudah terasa mulas. Ia tak memberitahu suaminya semalam karena tak mau membuatnya khawatir.
"Yah!" Teriak yasmin setengah merintih.
Tak ada jawaban dari satriya.
"Pasti dihalaman belakang" gumam yasmin kesal. Pelan-pelan ia menuruni tangga menuju lantai bawah. Satriya, suaminya tertidur pulas didepan TV yang masih menyala. "Yah!" Yasmin merasa kecapekan.
"Kerumah sakit yah!" Jerit yasmin tak kuat menahan sakit.
Dengan segera satriya memapah istrinya ke mobil. Sesuai yang dijadwalkan, rumah bersalin memang telah menanti mereka.
***
__ADS_1
Aninda merogoh hp yang bergetar disaku roknya. Tertera nama "satriya" memanggil. Cepatcepat aninda menjawabnya. Perasaan kaget sekaligus senang membuncah didada aninda. Beberapa kali ia manggut-manggut, kemudian sambungan putus.
"Res, yasmin udah melahirkan" bisik aninda sangat pelan. Bisa dipastikan hanya dirinya dan restiana yang tahu.
Restiana menutup mulutnya, terkejut.
"Jenguk yuk!" Ajak aninda bersemangat.
"Tapi hari ini aku ada acara keluarga nin. Titip salam aja buat dia ya!"
Aninda kecewa, bagaimana ia bisa sampai dengan cepat dirumah sakit kalau tidak ada tebengan? Ia teringat yovi. Cepat-cepat ia menggendong tas dan berlari menuju tempat yovi dan marsya masih duduk berduaan.
______________________________________
Like
Komen
Vote❤😘
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
S.A.L™