
Restiana memutar bola matanya “nyante aja napa nin” aninda cengengesan “aku pulang aja nggak usah repot-repot. Aku lagi pengen naik bus” restiana tertawa mendengar celoteh aninda “padahal aku baru mau nawarin…”
“nggak mau!” aninda memasang muka serius yang justru makin membuat restiana tertawa.
***
Kebiasaan yovi menjemput aninda setiap pagi membuat keakraban mereka bertambah. Pada minggu berikutnya keakraban mereka bahkan meningkat. Yovi mengajak aninda kerumahnya untuk membantunya mengerjakan tugas bahasa inggris-nya. Mulanya aninda malu-malu menolaknya tapi akhirnya mau juga. Begitulah aninda malu-malu tapi mau.
Rumah yovi sepi karena kedua orangtuanya memang berada diluar negeri. Dua pembantunya selalu berada dirumah plus vigo yang hobi bikin kegaduhan dirumahnya sendiri. Seperti saat aninda sedang serius belajar dengan yovi, musik rock terdengar dari kamar vigo dengan volume yang sengaja dikeraskan.
“vigo…! Kecilin dikit kenapa?” teriak yovi berusaha melawan suara musik. Suara musik berubah jadi lirih sekali, kemudain volumenya diperbesar lalu diperkecil. Kalau tidak ada yovi dihadapan aninda bisa dipastikan aninda akan mendobrak kamar vigo dan memarahinya habishabisan tapi ia hanya bisa menghirup napas dalam-dalam kemudian mengembuskannya perlahan lewat mulut.
“sori ya, vigo kadang emang kurang waras gitu” yovi menggaruk rambutnya.
Aninda hanya bisa menanggapinya dengan senyuman palsu yang dibuat seindah mungkin.
HP yovi berbunyi. Ia langsung mengangkatnya dan mendengarkan orang di seberang sana dengan mimik serius. “nin, kutinggal sebentar ya. Aku mesti jemput mbok tiyem di pasar mang karyo lagi kerumah sakit ternyata”
“iya nggak papa. Lagian bagian ini nggak susah-susah amat” aninda menunjuk paragraf dilembar kerjanya.
__ADS_1
“sip, kalo vigo berulah nggak usah digubris ya” pesan yovi sambil meraih kunci mobil.
Aninda manggut-manggut bersemangat lalu yovi bergegas pergi.
Hujan turun saat aninda sedang serius mengerjakan tugasnya. DUAAAR! Guruh menggelegar keras. Aninda menjerit keras. Sejak kecil ia meman takut Guntur dan petir. Rupanya jeritan aninda membangunkan vigo yang baru saja tertidur.
“ngapain sih teriak-teriak? Ganggu orang tidur aja” omel vigo yang bergegas keluar kamar dan mendapati ternyata aninda baik-baik saja.
“gunturnya gede banget vig” kata aninda lirih. “temenin aku dong sini” imbuhnya memelas.
Vigo termenung. Ada bias ketakutan diwajah aninda dia seperti merasakan deva ju. Dengan enggan ia mendekati aninda menatapnya lekat-lekat kemudian menggeleng pelan.
Vigo memilih duduk disamping aninda dan menjaga jarak sejauh mungkin “cemen amat sih jadi orang!”
“kamu kenapa?” Tanya aninda pelan, ada sedikit nada cemas didalam suaranya.
Umar masih menunduk dan menggeleng pelan. Bibirnya membiru karena dinginnya hujan.
Aninda tak berani menanyainya lagi, ia terus berjalan memayungi umar. Aninda memandang wajar umar lewat ekor matanya. Entah kenapa ia kembali merasakan desiran aneh yang menjalari tubuhnya. Tiba-tiba suara guntur membuat aninda menjerit. Ia menututp kedua telinganya kuatkuat, payung digenggamannya jatuh ketanah. Dengan segera umar mengambil payung kemudian memayungi aninda.
__ADS_1
“sini aku gendong. Kamu takut guntur ya?” kata umar lembut diluar tabiatnya.
Aninda kecil mengangguk pelan.
Umar menggendong aninda dengan tertatih, sementara aninda memegangi payungnya dengan tangan gemetar. Aninda tersenyum kecil. Ia tahu dirinya menyukai umar.
Lamunan aninda buyar karena sentuhan vigo dipundaknya. “hobi ngelamun ya mbak?” sindir vigo kaku.
Aninda mendengus kesal kemudian kembali menekuni PR bahasa inggris-nya.
Vigo mengintip perkerjaan aninda. Sontak ia terbahak-bahak.
______________________________________
Like
Komen
Vote❤😘
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
S.A.L™