
“Aku pengen kita balik yov. Aku tahu aku egois, tapi aku emang masih saying sama kamu yov” akhirnya marsya bisa mengeluarkan unek-uneknya selama ini.
“Terlambat sya, aku udah terlanjur kecewa sama kamu” ungkap yovi.
“Aku tahu yov. Aku cuma pengen kamu tahu rasaku buat kamu masih seperti yang dulu. Aku saying kamu” ujar marsya lirih.
Yovi terdiam. Sesaat kemudian ia meninggalkan marsya sendirian.
Aku nyesel udah nyampakin kamu, gumam marsya dalam hati sambil menatap punggung yovi. Kristal-kristal kecil berguliran jatuh dari matanya.
If I could wish upon a star
Then I would hold you in my arms
And I know we could love once again
If I could turn the hands of time
The you would love me, still be mine
Baby, I would be right where are you
If I could wish upon a star
(Samantha Mumba – Wish Upon A Star)
__ADS_1
***
"Nin, kamu pulang sama vigo ya. Ada seleksi OSIS soalnya" yovi menghampiri aninda yang masih bersama restiana dikoridor kelas. "Aku udah bilangin vigo, dia masih diruang basket"
Aninda mengiyakan, kemudian bergegas menuju ruang basket. Restiana sudah dijemput sopir.
Hujan masih awet, membuat sebagian murid lebih memilih nongkrong disekolah daripada menerjang hujan. Sebentar lagi ujian semester ganjil, jadi bisa dipastikan semua anak menjaga tubuh mereka tetap fit.
Ruang basket bersebelahan dengan ruang karate yang berada dipojok. Terdengar gelak tawa dari ruang basket. Dengan hati-hati aninda mengetuk pintu, suara tawa langsung terhenti.
Seorang cowok jangkung membuka pintu untuk aninda. "Cari siapa?"
"Vigo" jawab aninda dengan mimik yang sengaja dibuat seanggun mungkin. Padahal itu justru membuatnya terlihat seperti cewek konyol.
Ruangan itu seperti ruang yang lain. Ada kursi empuk yang memanjang pada salah satu sisi, yang kini diduduki anggota tim. Lemari piala berada dipojok, kotak penyimpanan bola berada persis disampingnya. Loker berukuran besar berhadapan dengan kursi panjang.
Aninda risi karena ia satu-satunya cewek didalam ruangan itu. Vigo memberi tanda agar aninda duduk disampingnya, jauh dari jangkauan teman setimnya. Sekarang aninda merasa terlindungi.
"Pulangnya nunggu ujan reda" kata vigo angkuh.
"Iya!" Ujar aninda ketus.
"Nin, milih yovi atau vigo?" Ledek rian.
Semua tertawa.
__ADS_1
"Nggak milih dua-duanya" jawab aninda sekenanya.
Tawa anak-anak basket makin melebar.
Vigo hanya tersenyum sinis.
Hari itu aninda mendapatkan banyak teman baru, yaitu anak-anak basket. Ternyata mereka tak seangkuh seperti terlihat di lapangan. Semua bersikap ramah padanya. Apa mungkin karena ia teman kapten mereka? Kebanyakan anggota tim inti berasal dari kelas sebelas, selebihnya kelas dua belas yang sebenarnya sudah harus berhenti bermain mengingat ujian nasional semakin dekat.
Akhirnya aninda tahu si jangkung yang membukakan pintu untuknya bernama rian. Yang paling kecil rifki, paling jago bikin lelucon yang mengocok perut aninda. Dan masih banyak lagi yang aninda kenal dan langsung lupa namanya saking kecilnya volume otaknya.
"Kamu temen deket yasmin kan nin? Gimana kabar yasmin dan satriya?" Tanya rifki.
"Iya, aku terakhir kesana dua bulan lalu. Tapi masih sms-an terus. Kabarnya baik, juniornya juga baik katanya" jawab aninda pelan.
"Kapan-kapan kita jenguk mereka yuk!" Usul rifki, yang langsung disetujui semua anggota tim.
Vigo lebih banyak diam ketimbang ikut ngobrol dengan teman-temannya. Ia lebih memilih mendengarkan lagu lewat MP3. Tak peduli dengan aninda yang sejak tadi meliriknya kesal.
______________________________________
Like
Komen
Vote❤😘
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
S.A.L™