
Vigo mulai membersihkan salah satu bilik toilet, aninda membersihkan bilik sebelahnya.
"Hei, makhluk mars, jadi orang jangan sentimen banget napa sih?" Teriak aninda parau.
Vigo tak menjawab, membuat aninda jengkel.
Keduanya bekerja dalam bisu. Yang terdengar hanya suara siraman air dan sikat.
"Vig!"
"Hmm..." Jawab vigo ketus.
"Kenapa yovi nggak main basket lagi?"
"Emang penting?"
"Penting tau! Aku kan ceweknya!"
"Menurutku nggak penting!"
Aninda mendengus kesal, kemudian dengan berapi-api mendekati vigo. "Vig aku serius!" Vigo menghela napas jengkel.
***
Marsya masih sibuk dengan berkas-berkas diruang OSIS, sementara kedua sahabatnya pamit beli jajanan dikantin sekolah. Gelak tawa para pemain basket terdengar jelas ditelinga marsya. Ia memandang keluar jendela, anak-anak basket sedang latihan. Satriya juga ikut bersama mereka dan tentu saja yovi. Rupanya kubu yovi sedang bertanding melawan kubu satriya. Beberapa kali bola ada ditangan yovi, namun selalu saja gagal masuk ke ring.
__ADS_1
Hati marsya serasa dicabik luka lama yang berusaha ia kubur. Seharusnya yovi menjadi kapten tim basket sekolahnya, seharusnya yovilah yang menjadi pemain terbaik, bukan vigo. Mata marsya memanas mengingat masa lalunya.
Marsya baru kelas sepuluh dan ia masih sangat lugu. Belum tersentuh salon dan segala macam polesan alat kecantikan. Rambut panjangnya selalu dikucir dua, dan kacamata tebal membingkai matanya yang indah.
Saat itu perpustakaan sekolah sepi seperti biasa. Ia menarik sebuah buku tebal dari rak kecil, lalu mulai membuka-buka isinya. Tiba-tiba dari arah samping seseorang cewek menarik rambutnya.
"Heh! Cewek cupu! Rajin amat kamu!" Teriak senior yang menjambaknya. Dia bersama temanteman satu geng.
Marsya mengaduh kesakitan. Mereka justru tertawa. Tawa yang malamnya menghantui mimpi marsya.
Salah seorang dari mereka yang berpenampilan tomboi mendorong marsya hingga dia jatuh tersungkur mengenai rak kecil itu. Rak itu berderit karena hantaman tubuh marsya. Semua kembali tertawa melengking.
"Aku peringatin, jangan berani lagi deketin yovi. Dia inceranku!"
Itu kata-kata terakhir dari gerombolan cewek jahat itu. Mereka pergi dengan gelak tawa mengerikan. Marsya yang masih ketakutan menangis. Tubuhnya masih tersungkur gemetaran.
"Sya?" Yovi muncul dari balik rak. Ia kaget mendapati marsya menangis ketakutan.
"Awas!" Teriak yovi yang sigap mendorong marsya untuk menjauhi tubuhnya dari rak yang akan roboh itu. Marsya terhindar dari tumpahan buku-buku tebal yang jatuh secara berbarengan. Sayangnya justru yovilah yang menjadi korban. Jari-jarinya mengalami cedera permanen karena berusaha menyangga rak.
Sejak itu yovi tak bisa bermain basket lagi. Tangannya tak bisa digunakan dengan sempurna untuk menembak bola, untuk mendribel saja kadang sulit. Kalaupun sesekali ikut bermain, yovi melakukannya sekadar sebagai rekreasi dan bukan mengejar prestasi.
Kejadian itu mengubah marsya secara drastis. Ia bertekad menjadi pribadi yang ditakuti semua siswa disekolahnya. Ia mengubah penampilannya menjadi marsya yang sekarang.
***
"Apa kamu benar-benar mencintai yovi?" Aninda terkejut mendengar pertanyaan vigo yang diucapkan tanpa tedeng aling-aling itu.
__ADS_1
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Aninda melirik vigo yang kini memandanganya serius.
Mereka terdiam. Mungkin keduanya merasa sedikit bingung dengan situasi yang tiba-tiba berubah menjadi serius.
"Aku cuma tanya" kata vigo akhirnya.
"Aku akan selalu berada didekatnya selama dia masih menginginkanku" kata aninda kaku. Dalam hati ia menyesali telah mengatakan hal seperti itu.
"Bukan itu jawaban yang ingin kudengar" vigo kembali menatap aninda tajam.
"Lalu?"
"Oh, susah juga ngobrol dengan si superloading!" Tatapan mata vigo tampak meremehkan aninda.
Aninda mendengus. "Dasar makhluk mars!" Ujarnya sebal. "Apa kamu bilang?" Oh, ternyata vigo peduli.
Aninda menjawab santai. "Emang aku bilang apa barusan?" Vigo menggeram dongkol.
Aninda cekikikan puas.
______________________________________
Like
Komen
Vote❤😘
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
S.A.L™