Cinta Dan Dusta

Cinta Dan Dusta
Chapter 5


__ADS_3

Esok paginya aninda baru tahu arti senyuman kedua orangtuanys kemarin. Honda Jazz telah terparkir anggun di depan rumahnya. Pemilik mobil tersebut sedang mengobrol dengan ibu aninda. “lho ngapain kak yovi jemput aku?” teriak aninda histeris. 


Ibu aninda langsung membulatkan kedua bola matanya “ninda, jangan teriak-teriak gitu kasihan yovi” “nggak papa bu. Aninda kalau ngomong emang gitu. Yuk berangkat, ntar telat lho” kata yovi sopan. 


Sepanjang perjalanan kesekolah aninda merasa tidak enak hati. Ia terus berpikir ini pasti akalakalan kedua orangtuanya. Aninda anak bungsu jelas dirinyalah yang selalu jadi objek keisengan orang rumah. Kedua kakaknya bekerja dijakarta, jadi untuk saat ini ia sepeti anak tunggal. Orangtuanya pengusaha batik tradisional dengan pendapatan tak seberapa sehingga mereka terbiasa hidup sederhana. Kedatangan yovi dengan mobil mewah tentu saja membuat girang orangtuanya. Apa lagi meereka memang baru kali itu kedatangan teman cowok aninda yang seramah yovi.


“kenapa diem? Kirain aku kamu susah diem” yovi membuyar kebisuan aninda. “eh, nggak papa| jawab aninda singkat. “nggak perlu terlalu sopan kok ngomong sama aku. Kemarin kamu berani bentak-bentak” goda yovi mengingatkan aninda pada kejadian kejadian salah paham kemarin. “anggap aja aku teman sebayamu. Lagian aku risi ngomong sama orang yang terlalu sopan kayak kamu” imbuh yovi semakin meledek. “jadi nggak papa nih manggil aku-kamu?” Tanya aninda lugu.


“yaela…nyante aja lagi” senyum yovi mengembang sempurna dan saat aninda melihat senyum itu, desiran aneh merayapi dadanya. Terakhir aninda merasakan desiran aneh seperti ini ketika ia masih SD, persisnya setiap kali menatap umas. Mungkin terdengar ajaib, tapi cinta pertamanya adalah musuh bebuyutannya sendiri. Umar preman di SD-nya, gemar membuat keributan dan mengganggu anak-anak lemah salah satunya ricko. Aninda selalu menolong ricko yang dikeroyok umar dan teman-temannya. Sejak saat itu aninda menganggap umar sebagai musuh abadinya begitupun sebaliknya.

__ADS_1


Desiran aneh itu bermula saat aninda pulang dari rumah yasmin. Saat itu aninda kelas lima SD, itu berarti sudah lima tahun dirinya berperang dengan umar. Hujan deras mengguyur perjalanan pulang aninda tapi untung saja kedua orangtuanya telah membekalinya dengan payung kecil warna pelangi aninda bersenandung pelan untuk menahan rasa takut karena derasnya hujan. Dari kejauhan ia melihat seorang anak laki-laki berjalan didepannya sempoyongan tanpa pelindung hujan. Aninda berlari penasaran dan menjejeri laki-laki kecil yang ternyata umar. Merasa iba melihat umar yang sepertinya sedang ada masalah ia memayunginya. Mata umar sayu, ada kesepian disitu. 


umar kamu kenapa?” Tanya aninda pelan, ada sedikit kecemasan dalam suaranya. “aninda jangan bengong terus dong!” seruan yovi membuyarkan lamunan aninda. “apa sih yang ada dipikiranmu?” “lagi mikirin PR bahasa inggris nih” aninda berbohong. “emang susah?” Tanya yovi menengok sekilas. “aku memang nggak bisa mata pelajaran ini dari dulu” jawab aninda polos. Yovi tersenyum lebar dan…lagi-lagi aninda meleleh tersengat senyum yovi yang menurutnya luar biasa menawan.


***


Aninda berusaha tersenyum pada setiap mata yang meliriknya. Senyum konyol yang hanya dimiliki Aninda Chandraningsih. Tapi hatinya kembali mencelus ketika melihat ketiga pentolan cheerleader—marsya, syifa, dan merli—juga memandang kearahnya. Aninda menelan ludah sambil komat-kamit tidak jelas. 


______________________________________

__ADS_1


Like


Komen


Vote❤😘


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


S.A.L

__ADS_1


__ADS_2