Cinta Harus Memilih

Cinta Harus Memilih
Molan Yang Kembali Berulah


__ADS_3

Farada kaget ketika pintu kamarnya di ketuk, awalnya pelan tapi kemudian ketukan itu makin keras. Ia terkesiap dari sofa, lalu duduk sebentar untuk mengingat kenapa dia harus terbangun di sofa tersebut. Setelah sadar tentang kejadian semalam, bahwa Ia telah mengunci seorang Molan di kamar dalam keadaan mabuk.


Sebelumnya...


Molan tersentak dari tidurnya, hari sudah pagi, cahaya mentari sudah terlihat dari celah gorden kamar. Kepalanya pening dan masih terasa berat akibat minum wine semalam. Ia mengucek - ucek matanya dan menggelengkan kepala untuk menghilangkan pusing tersebut.


Tiba - tiba mukanya menegang kaget serta melihat sekeliling, Ia tersadar ini bukan kamarnya, tetapi tak ingat dia tidur di kamar siapa. Duh!..apa gue tidur di kamar tamu, atau...wanita panggilan yah?


Molan kemudian buru - buru bangun, setelah merapikan bajunya dan memakai jas yang sempat tercecer di lantai, Ia merogoh dompet di kantong ahh..masih ada , lalu dia mengambil beberapa lembar mata uang Yen dan meletakkannya di atas meja. Maksudnya ingin mengganti kerugian.


Farada membuka pintu kamar, Molan melongo, mulut membulat tak percaya ternyata dia berada di kamar gadis semalam yang dia culik. "Heh!..kamu memang bener - bener ba**ngan yah?, seenaknya masuk kamar orang, dalam keadaan mabuk pula!, aku nggak peduli kamu siapa, kamu sudah mengganggu privasi tamu, aku akan laporkan kamu!", Farada langsung melabrak Molan dengan kata - kata tajam, Ia tak tahan lagi karena sudah dua kali pria ini mengganggu waktu liburannya.


Molan memasang tampang konyol, "Eh..hehe maaf, ternyata aku di kamar kamu, jangan marah dong, kita satu rumpun harus kerja sama di negeri orang", ucapnya absurd sambil garuk - garuk kepala yang tak gatal.


"Enak aja kamu, keluar dari sini !", timpal Farada sambil memukul bahu Molan dan mendorong punggung pria itu agar keluar.


"Pelan - pelan dong...kepalaku masih pusing nih!", kata Molan berjalan mengikuti dorongan Farada sambil goyangkan kepalanya.


"Aku - aku..kita nggak kenal!, bau badan kamu ihh !..., dasar pemabuk!, mandi sana !", Farada kemudian membanting pintu ketika Molan sudah keluar.


Farada lalu masuk ke kamar yang di tinggal Molan, Aisshh...bau banget! gerutunya sambil membuka gorden dan jendela kamar membiarkan sinar mentari masuk, Ia mengibaskan udara kamar itu agar bau alkohol berganti. Tapi kemudian matanya tertuju ke atas meja, dia melihat ada beberapa lembar mata uang Yen disitu. S**lan!, dia kira gue cewek panggilan apa, pake ninggalin duit!. Ia meraih lembaran duit tersebut dan merenung apa yang harus dilakukannya nanti.


Beberapa jam setelah itu...


"Jadi lo tidur di kamar cewek yang semalam lo bawa naik gondola?", tanya Tommy di waktu mereka sedang breakfast di lantai bawah. Tommy semenjak di kamar sudah mencecar Molan dengan pertanyaan kemana perginya dari semalam.


"Iya, gue nggak ingat, gue lupa masuk kamar siapa, yaa itu tadi..gegara minum kelebihan!", jawab Molan santai.


"Trus, lo apain dia bro?", tanya Tommy sedikit berbisik dengan tampang konyol.


"Sembarangan lo, nggak gue apa - apain, yang ada gue di omel - omelin sama di...a".


Perkataan Molan terputus, tiba - tiba Farada datang membanting sejumlah uang ke atas meja, "Heh..!, ini apa maksud kamu ninggalin duit di kamar saya?, kamu anggap saya cewek bayaran apa?", tanpa basa basi Farada mengomeli Molan yang mendongak dengan wajah bingung. Sedangkan Tommy mengelus dadanya, matanya melotot. Baru kali ini seorang Molan di omelin wanita, dan itu di tempat terbuka.


"Bu..bukan gitu, ya ampun galak bener kamu, bukan itu maksud aku, tad...", Molan berniat ingin memberitahu Farada bahwa maksudnya hanya ingin mengganti kerugian yang dia timbulkan, tapi justru tidak jadi, ini bukan waktu yang tepat.


"Aku...aku!, kita baru kenal!", intonasi Farada belum menurun, dia masih kesal. "Iya, saya tadi itu...". kembali kalimat Molan harus terhenti, ucapannya langsung di potong Farada, "pokoknya saya nggak terima, itu sama aja menganggap saya perempuan nggak bener, dasar pemabuk!", kata Farada lalu meninggalkan Molan dan Tommy yang hanya terdiam terkesima.


"Gila tuh cewek, berani bener dia!", Tommy gelengkan kepalanya lalu melihat lembaran uang yang di banting Farada di meja, "emang lo apain sih dia bro? jadi galak begitu?", sambungnya kemudian.


Molan hanya diam menatap punggung Farada sampai menghilang di belokan menuju lift. Dia menjadi tertarik dengan kepribadian gadis tersebut.


"Hoi !, malah bengong...waahh, jangan - jangan naksir nih", ledek Tommy ketika sahabatnya tersebut tak merespon omongannya. "Apaan sih lo, udah lanjutin makannya", Molan kemudian menunjuk makanan di hadapannya. Tapi, baru akan melanjutkan sarapannya, ponsel Molan bergetar, Christopher menghubunginya.


"Halo..?", Molan awalnya menyahut santai, tapi kemudian raut mukanya menegang dan memucat, "kapan..?".

__ADS_1


"Hah..?, udah on the way kesini?", Molan lalu memutus percakapan, "gawat..!", ujarnya pada Tommy dan berlalu pergi dari situ dengan muka panik meninggalkan acara breakfast nya. Tommy pun mengikutinya, "ada apa sih?", tanyanya tak mengerti. "Papa gue udah menuju kesini, gue harus kabur dulu", ucapnya tanpa hiraukan Tommy yang akhirnya juga ikut panik. Itu bukan berita yang baik bagi mereka berdua.


***


Di sudut lain, Farada sedang menunggu lift, namun ketika pintu terbuka dia berpapasan dengan Tissa yang baru keluar. "Nah..ini dia, aku cari - cari dari tadi, kemana aja sih Fara?", tanya Tissa menahan lengan Farada yang ingin masuk lift. "Eh ..Tissa, aku habis ngomelin laki - laki br*ngsek itu!, enak aja, dia kira aku cewek bayaran apa?".


"Maksudnya apa sih?, siapa yang br*ngs*k itu Fara?", Tissa yang tak tahu duduk persoalan melongo. "Ntar aku ceritain..tapi jangan disini", ujarnya sambil melangkah masuk lift.


"Eh..tapi?, hari ini kita ada jadwal kesini..", Tissa lalu menunjukkan sebuah brosur di tangannya. "Ke peternakan domba gunung?".


"Iya, nggak hanya kesitu tapi ke sini juga", jawab Tissa sambil menunjukkan tempat - tempat yang akan dikunjungi hari itu. "Yaudah, kalo gitu aku ambil jaket dulu ke kamar".


"Aku tunggu di lobi ya...", Tissa kemudian keluar ketika lift sampai di lantai lobi, sedangkan Farada melanjutkan ke kamarnya.


Selang dua puluh menit kemudian...


Tissa dan Farada bersiap memasuki taksi yang akan membawa mereka ke tempat peternakan. Farada masuk terlebih dahulu, tapi tiba - tiba ada seseorang menyerobot dan ikut masuk taksi dan duduk di samping Farada, hingga Tissa terpental ke belakang karena di tarik tangannya ke belakang oleh orang itu. Seorang pria tanpa permisi langsung menutup pintu taksi dan menyuruh sopir segera pergi dari situ. Dia belum menyadari keberadaan Farada. Pria itu menundukkan kepalanya ketika sebuah mobil datang dan berhenti di depan lobi dan terlihat seorang bapak - bapak turun. Pak Subronto Erick, papa nya Molan telah sampai di hotel miliknya.


"Hei..!! Aisshh...kamu lagi!", ujar Farada sampai terperanjat kaget begitu sadar bukan Tissa yang ada di sampingnya, tetapi Molan!, "ngapain sih kamu ganggu aku terus ?", teriaknya kemudian, hingga sang sopir taksi pun juga terperanjat mendengarnya.


"Sstt...diam!", Molan menempelkan telunjuknya di mulut, sambil tetap menundukkan kepalanya. Farada melihat keluar, pasti dia takut sama orang itu batinnya.


Seorang bapak - bapak berwibawa terlihat disambut dengan penghormatan oleh para karyawan hotel yang berbaris di lobi.


"Udah pak, buruan jalan!", perintah Molan pada sang sopir.


Sejenak, tak ada percakapan yang terjadi. Farada melihat keluar hamparan salju yang memenuhi kota tersebut, hari sudah menjelang siang, namun suhu udara justru semakin dingin. "Ini tujuan kita kemana ya?", suara sang sopir memecah keheningan sambil memberhentikan mobil itu, dari tadi sopir ini belum tahu kemana harus membawa penumpangnya tersebut.


"Oh..ehh, ini...kita kesini pak", Farada tersentak dari lamunannya dan kemudian perlihatkan peta kecil yang dari tadi di genggamnya. Sang sopir melihat sebentar, lalu "peternakan domba gunung...", sopir tersebut berpikir sebentar, "berarti kita harus putar arah, tapi nanti saya tidak bisa di antar sampai ke peternakan itu, tak ada akses mobil, kalian harus lanjutkan berjalan kaki", ujar sang sopir sambil kembali menjalankan mobilnya mencari tempat berputar arah.


"Cuma saya pak, dia nggak ikut!", protes Farada sambil melirik dengan muka cemberut pada Molan di sampingnya. Molan cuma menyengir dengan tampang konyol tanpa menyahut sepatah kata pun. "Tapi sudah pernah kesana?, hati - hati nanti tersasar, soalnya tidak ada akses kendaraan disitu", sahut si sopir menasehati Farada.


"Belum sih..!".


"Nah!", Molan menimpali perkataan sang sopir sambil menjentikkan jarinya.


"Apa..?", jawab Farada dengan mata melotot, "jadi perginya harus sama kamu gitu?, emang kamu udah pernah kesana?", lanjutnya lalu menyipitkan mata.


"Ya belum sih, tapi kan se-enggaknya kalo nyasar ada temannya, ya kan?".


"Nggak bisa!, aku pergi sendiri aja...", jawab Farafa cepat, tetap keukeuh tak mau di temani oleh pria yang sangat menyebalkan dimatanya ini.


"Beuh...!", Molan membuang mukanya kesamping, melihat keluar kaca.


Setelah beberapa lama kemudian, taksi berhenti di sebuah perempatan jalan, suasana terlihat agak lengang, karena memang turis jarang berkunjung ke area peternakan domba tersebut.

__ADS_1


Molan merogoh kantongnya untuk membayar taksi, tapi kemudian dia menepuk jidatnya karena dompet ketinggalan di kamar hotel, akibat terburu - buru pergi takut bertemu dengan papa nya.


Melihat reaksi Molan itu, Farada bertanya sambil mengernyitkan dahi "kenapa kamu?", sambil membayar ongkos taksi.


"Dompet aku ketinggalan, nanti aku ganti deh seluruh biaya yang kamu keluarkan hari ini ya".


"Aku...aku!, nggak usah di ganti, lagian kamu nggak ikut kan sama saya", jawab Farada sambil turun dari taksi.


"Yaa..jangan gitu dong, jangan formil gitu, kita kan udah beberapa kali ngobrol dan ketemu...aku belum jadi sarapan tadi, pinjam dulu uang kamu, beneran nanti aku ganti seluruh biaya kamu hari ini, kalo perlu aku ganti double deh!". kata Molan tetap mengekori langkah Farada dari belakang. Mendengar itu Farada berhenti, dan berbalik badan, "kamu selalu menilai sesuatu dengan uang yah?, kamu pikir saya perempuan apa sih?".


"Yaa..salah tanggap lagi. Bukan itu maksud aku, justru aku menghormati kamu, kan kamu udah aku repotin dan kamu kesini juga tujuannya wisata, pengeluaran kamu pasti banyak...dan kita sama - sama satu rumpun, satu bangsa, saling menolong, setidaknya jangan judes - judes gitu..". ujar Molan, dia sedikit kesal karena wanita di depannya ini tak pernah berkata lembut pada nya.


"Bodo !", Farada kembali balik badan dan berjalan kearah titik peta yang dia bawa. "Kamu kan punya cewek, kamu tolong aja itu pacar kamu, ini malah di tinggal - tinggal".


"Itu bukan pacar aku, dia aja yang ngejar aku terus".


Farada hanya mengangkat bahunya tak pedulikan jawaban Molan. Tapi dia pikir omongan pria itu benar juga, di negara orang ini harusnya sesama anak bangsa saling membantu, cuma karena terlanjur kesal akibat kejadian malam itu, yang tubuhnya seenaknya di peluk serta bibir nya yang hanya berjarak beberapa senti hampir di curi oleh pria tersebut. Untung aja hampir.


Molan tetap mengikuti langkah Farada dari belakang, berjarak sekitar satu meter, perutnya sudah terasa lapar.


Mereka akhirnya sampai di peternakan yang di tuju. Setelah berbincang sejenak dengan pemilik peternakan, walau dengan percakapan Farada yang terbata - bata berbahasa Jepang karena memakai kamus, tetapi untung ada Molan yang cukup fasih berkomunikasi membantu, hingga mereka pun terlibat dalam peternakan tersebut. Sang pemilik mengajarkan cara bagaimana beternak domba gunung dengan baik.


Setelah cukup lama, komunikasi antara Molan dan Farada mulai cair. Sesekali Farada harus memarahi Molan yang tak becus memberikan makanan pada domba, dan juga melemparkan sebongkah salju ketika Molan dengan jahil menendang pantat salah satu domba karena sang domba keluar dari barisan.


***


"Hei gadis...ayo kita cari makan yuk, aku lapar nih, tadi sarapannya nggak jadi", Molan dengan wajah memelas duduk diatas salju, hari sudah siang, tapi udara makin terasa dingin. Beberapa menit yang lalu, mereka telah keluar dari area peternakan.


"Hei..hei, yang sopan kalo manggil orang!", jawab Farada melotot. "Ya, kan nama kamu aku belum tau".


Farada melengos, lalu berjalan memasuki sebuah warung kecil yang menjual mie ramen kuah. Salah satu mie terbaik di Jepang, yang berisi telur dan dedaunan serta di campur sayur toge.


Molan hanya melongo perhatikan Farada yang begitu lahap memakan mie ramen tersebut, dia memang tak terbiasa memakan mie, boleh dikatakan belum pernah.


"Kenapa kamu diam?, katanya lapar...ya udah, makan!", kata Farada ketika lihat pria itu hanya bengong seperti tak berselera.


"Aku nggak biasa makan mie, belum pernah", jawab Molan tanpa mengalihkan pandangannya dari mangkok.


"Hah..belum pernah?", Farada menepuk jidatnya. Molan menggelengkan kepalanya tak percaya, "serius..?", lanjutnya sambil kemudian tertawa terbahak.


"Kenapa kamu tertawa..?, aneh gitu kalo orang nggak suka mie?", ujar Molan menatap heran, tapi akhirnya dia coba juga. Awalnya rasanya asing, lama - lama jadi enak pikirnya, dan habis.


.


.

__ADS_1


Lanjut...


__ADS_2