Cinta Harus Memilih

Cinta Harus Memilih
Sita dengan absurd nya sebuah pikiran


__ADS_3

Sita, si gadis berwajah lembut mirip pemain voli dari Turkey itu mengambil tempat duduk di sebelah Molan dan melirik piring serta mangkok yang telah kosong di depan Molan. Berarti Tuan Muda sudah cukup lama duduk disini, pikirnya. Lalu, apa itu yang dimakannya? Apa higienis makanan seperti ini?


"Kamu kenapa?" tanya Molan mengernyitkan dahi melihat Sita seperti orang yang geli melihat sesuatu. "Belum pernah mencoba makanan seperti ini ya?"


Sita gelengkan kepala ragu. Seingatnya, dia memang belum pernah merasakan makan di area terbuka. Mungkin kala remaja dulu, tapi sudah lupa.


"Kamu kelamaan tinggal di luar sih. Cobain dulu. Bersih kok ini!"


Sita menerima tawaran Molan, lalu memesan makanan persis sama dengan Tuan Muda itu. Sedangkan Molan, tanpa basa-basi berdiri dan pergi ke sebuah warung kecil di seberang jalan untuk membeli sesuatu. Malam ini, Molan seakan tak peduli dengan status atau apapun pandangan orang lain terhadap dirinya. Karena beberapa pasang mata di sekeliling dari tadi kerap memperhatikannya. Bagaimana tidak? Wajah tampan dengan postur tubuh nyaris sempurna di mata kaum hawa ini terlihat begitu menonjol di antara orang - orang sekitar. Kastanya tak bisa di tutupi dengan sebuah mobil sport mewah terparkir begitu saja di pinggir jalan, tak jauh dari tempat Ia duduk. Sekali lagi, apa pedulinya?


Sita menatap punggung Molan yang berlari kecil menyeberang. Gadis itu gelengkan kepalanya. Tuan Muda yang cuek sekaligus aneh menurutnya. Penilaiannya makin bertambah setelah itu, Ia terperangah dan matanya membulat ketika Molan kembali dari warung kecil, sebatang rokok telah menyelip di sela bibir pria tampan itu. Hah!?


"Kak?...sejak kapan kamu merokok?"


Molan melirik sekilas ke samping, "Barusan," jawabnya santai.


"Maksudnya, kamu memang perokok? Soalnya aku nggak pernah liat Kakak merokok sebelumnya," tanya Sita heran, tapi dia segera mendapat jawaban di waktu Tuan Muda itu mengisap rokok dan membuang asap secara perlahan dengan membentuk huruf 'O', pertanda sudah pro!


"Dulu!...dulu aku perokok dan peminum alkohol."


Dari situ, Sita sudah dapat menarik kesimpulan bahwa ada sesuatu yang terjadi, gadis itu kemudian merubah posisi tubuhnya agak condong ke samping, lalu bertanya, "Kak...kamu lagi ada masalah?" Sambil mendekatkan kepala ke telinga Molan agar suaranya tidak di dengar orang yang berada di belakang tempat mereka duduk.


Molan menoleh, aroma wangi mawar rambut tercium di hidungnya begitu kentara, jarak mereka sepertinya terlalu dekat hingga hembusan napas mint terasa kentara di telinga pria itu. Pria itu terkesima, sampai akhirnya Sita menyadari dan cepat - cepat menarik dirinya kembali.


Molan berdehem, mencoba mengatur napasnya agar suaranya terdengar normal, "Hmm...masalah klasik, tentang keluarga dan cinta segitiga," ujarnya gamblang kemudian tertawa sumbang.


Sita memajukan tubuhnya ke meja lesehan, dengan wajah bertumpu di kedua tangan, sambil melirik dia berkata, "Cinta segitiga itu menyakitkan lho. Aku pernah berada di situasi tersebut, dan itu-"

__ADS_1


"Dia...pria yang menjadi saudara saya sekarang?" potong Molan cepat.


Sita tersentak kaget, Ia menjadi salah tingkah serta menegakkan badannya, lalu menatap pria di sebelahnya yang juga sedang melihat kearahnya.


Molan terkekeh miris, "Kita sama - sama bermasalah dengan pria yang sama."


"Kakak tau?"


Molan mengangguk, "Saya menebaknya ketika kamu bercerita tentang sepupu kamu..." pria itu mencoba mengingat sebuah nama.


"...Samantha!" jawab Sita meneruskan, "Dan, itu sebabnya Kakak tadi siang ingin mengajak aku ke DomTrav untuk bertemu Mas Restu?"


"Iya."


"Restu memang pernah menjadi tujuan akhir aku, walau belum ada kata yang diucapkannya, tapi aku tahu dia juga menyukai aku, sampai akhirnya Samantha datang dengan segala pesonanya membuat Mas Restu mungkin..." Sita menjeda, Ia ragu dengan pernyataannya, "mungkin ini yaa...Mas Restu juga menyukai Samantha."


Molan miringkan tubuhnya menghadap Sita, sepertinya ini percakapan yang menarik, "Kenapa kamu nggak perjuangkan perasaan kamu? Kalau kata mungkin, berarti kamu hanya menebaknya. Bisa jadi, sebenarnya mereka hanya berteman saja, kan?"


Molan terdiam ketika melihat sekilas melihat perubahan di wajah Sita. Ada kilatan kekecewaan tergambar.


"Kenapa kamu nggak bertanya dulu?Dan, akhirnya kamu memilih bule Denmark, tanpa kamu tahu sebenarnya apa yang terjadi dengan Restu?"


Sita menghembuskan napasnya perlahan. Ucapan Molan ada benarnya, seharusnya dia memang menanyakannya terlebih dahulu, tapi...


"Aku memang besar di Eropa namun aku masih memegang prinsip wanita ke-timuran. Pria yang seharusnya memperjuangkan cinta-"


"Saya tak sependapat!" potong Molan.

__ADS_1


"Oh ya?" Sita merubah posisinya menghadap Molan, menunggu kalimat penjelasan dari pria itu.


"Cinta harus di perjuangkan bersama, tidak ada sikap pasif disitu. Bagi saya...berjuanglah dengan orang yang sama - sama ingin berjuang, BUKAN dengan orang yang hanya ingin di perjuangkan, apa lagi dengan orang yang tidak ingin berjuang! Nonsens." cetus Molan berfilosofi entah dari mana dia dapat kalimat itu.


"Yes...Agree! Kalau begitu...kenapa Kakak nggak memperjuangkan cinta untuk Farada?"


Molan terhenyak, tak menduga Sita akan membalikkan omongannya.


"Dalam hal ini, beda. Farada dijodohkan. Sudah terikat, walau belum resmi. Aku tak ingin merebutnya, dan itu mungkin sudah takdir. Takkan pernah menang kalau melawan takdir!"


Gadis itu mengangguk setuju. Selanjutnya keheningan terjadi di antara mereka, Molan seperti kehabisan kata - kata.


Sita lalu melirik jam tangannya, sudah pukul sebelas malam. "Kak, kita pulang yuk!"


"Ayo! Kamu nyetir sendiri?"


"Nggak, aku naik taksi online."


"Ya sudah, saya antar pulang."


***


Satu jam setelah obrolan dengan Molan, Sita masih belum bisa memejamkan matanya. Jam di dinding sudah berada di angka 12 malam, pikirannya masih menerawang tentang pembicaraan dengan Molan. Ternyata pria itu sangat dewasa dalam berpikir, bertolak belakang dengan apa yang di katakan Tuan Besar mengenai puteranya tersebut.


Coba kamu dekati dia. Molan itu masih labil, urakan dan suka pilah-pilih dalam mencari pasangan. Umurnya sudah mendekati tiga puluh tahun, tapi belum berniat sama sekali untuk berumah tangga. Pusing saya!


Saya sudah terlanjur menjodohkan Restu dengan Farada. Dan, belakangan baru saya ketahui, ternyata Molan pun menyukai Farada. Tapi, saya tidak bisa memutuskan Restu. Jadi, saya minta sama kamu, alihkan perhatian Molan. Saya tak punya waktu lagi, ada hal yang tidak bisa beritahu sebabnya kenapa saya menyuruh kamu.

__ADS_1


Itu kalimat perintah yang dia terima dari Tuan Besar. Dia sebenarnya tidak tertarik dengan ide bos nya tersebut. Tapi, berdosakah rasanya jika dia ingin membalas Restu? Ya...semua karena ada Restu.


Aihh!...Sita berulang kali menepis pikirannya yang absurd. Dengan mencoba berbagai posisi untuk tidur, akhirnya dia pun terlelap masuk ke alam mimpi.


__ADS_2