Cinta Harus Memilih

Cinta Harus Memilih
Mendadak semuanya berubah


__ADS_3

Sita menatap punggung Farada sampai gadis itu menghilang berbelok menuju resto. Dia sudah menduganya. Apa itu tadi? Mau ambil berkas yang tertinggal di kamar. Ck, alasan klasik Farada! Sita tersenyum masam sekilas, kemudian dia melanjutkan langkahnya menuju ruang seminar dan pelatihan.


Farada celingukan mencari keberadaan Molan, suasana yang temaram dan banyak orang yang sedang makan malam cukup menghalangi pandangannya. Sampai sebuah tangan terangkat dari kejauhan, agak terpisah dari tamu lain. Ish...bahkan dia dan Ibu Sita mencari tempat duduk yang terkesan romantis, gitu? beuh.


"Waah...indah sekali view nya. Pas banget buat candle light dinner sama pasangan disini," Farada memainkan kedua alis matanya naik turun, lalu melihat ke atas sana, langit sangat cerah di taburi jutaan bintang, "sementara orang di dalam sana sedang sibuk mendengarkan petuah mentor, mencatat hal - hal yang penting di laptop, eh...dia enak - enak berduaan sama Ibu Sita disini. Ck, keterl_"


"Hei...hei, kamu tadi nelpon ada perlu dengan aku cuma mau ngomong begini, hm?" Molan langsung memotong sindiran Farada, "duduk dulu, kamu ngomel gitu persis kayak nenek - nenek yang lagi datang bulan!"


Sinting! mana ada!


"Sembarangan kalau ngomong! aku lagi bosan, lama - lama mendengar mentor bicara aku jadi ngantuk." imbuhnya sambil melipat tangan di meja dan meletakkan kepalanya disitu.


Tentu saja Farada harus berbohong, padahal tadi dia begitu semangat dan sangat antusias mendengarkan khotbah Mr. Ferdinand, kalau saja Tissa tak mengusik, mungkin jarinya akan 'menjerit' karena terasa pegal mengetik di laptop.


Mendengar itu, Molan mengetuk telunjuknya ke meja, dia sedang memikirkan sesuatu.


"Gimana kalau kita ke kota makan gudeg? kamu doyan kan?," Molan melihat jam di tangan " masih ada waktu."


Ini yang Farada suka dari Molan, selalu punya cara untuk menghiburnya, "Ayo!" Dan langsung berdiri.


Molan kemudian mengambil ponsel lalu menghubungi bagian operasional kendaraan hotel dan meminta disiapkan satu buah unit mobil untuk dia gunakan. Setelah itu menjentik jarinya pada pelayan meminta bill.


"Maaf Tuan Muda, semua sudah dibayar oleh Ibu Sita tadi," jawab pegawal resto membungkukkan badan.


***


"Omong - omong, kok kamu tahu aku tadi sama Sita?" tanya Molan dari balik kemudi ketika mereka sudah dalam perjalanan menuju kota.


"Aku papasan sama Ibu Sita tadi waktu beliau keluar dari resto itu. Ya...siapa lagi yang dia temui kalau bukan kamu, ya kan?"


"..."


"Omong - omong juga, kok Ibu Sita bisa ketemu kamu disitu? soalnya aku liat tadi Ibu itu masih di ruangan pelatihan."


Molan tak langsung menjawab, Ia sedang membelokkan stir mobil ke arah Sleman. "Dan... karena itu kamu menelpon mencari aku dan meninggalkan seminar yang sedang berlangsung?" Molan kemudian mengerling menggoda ke arah Farada.

__ADS_1


Skak mat! Farada kehilangan kosa kata sejenak. Tapi segera menguasai keadaan. "Percaya diri sekali Anda Tuan Muda!...ngapain aku cemburu? aku tuh tadi memang lagi bosan duduk lama - lama di ruangan, aku pengen ngajak Tissa, dia sepertinya lagi serius. Ya sudah, aku hubungi kamu. Jangan lupakan, kamu yang menyodorkan nama aku ke pak Direktur agar dikirim ke Jogja ini. Jadi...ya kamu yang tanggung jawab!"


"Perasaan, aku tadi nggak bilang kamu cemburu loh! Ak_"


"Yaa ..sama aja!, arah omongan kamu pasti kesana, ya kan?..." timpal Farada tak mau kalah, "...udah ah, kita mau makan gudeg dimana ini? lapar aku jadinya."


Molan terbahak mendengarnya, "Aku ta_"


"Diam nggak!"


Dan, pria itu langsung mengatup mulutnya. Dalam hatinya dia tertawa geli.


Bolehkah dia sekarang berpikir lain tentang wanita di sebelahnya ini? Apa Farada sekarang sudah mulai membuka hati untuknya? Lalu, bagaimana dengan Restu yang sedang melakukan pendekatan dengan gadis tersebut, bahkan dengan mata kepalanya sendiri melihat pria itu memeluk Farada dan gadis itu tidak menolaknya.


Dia sudah menarik diri untuk tidak lagi mendekati Farada tetapi gadis tersebut malah seperti membuka harapan lagi untuknya, seperti sekarang ini. Dia tidak bodoh untuk menafsirkan tadi bahwa... gadis itu sedang cemburu!


Perjalanan yang ditempuh memakan waktu lebih kurang 45 menit untuk sampai di Sleman. Molan berhenti di sebuah warung gudeg yang lumayan besar dan ramai pengunjung. Memang di kota Sleman, warung gudeg ini sudah sangat terkenal sekali sampai keluar daerah.


Gudeg yang menyajikan dua jenis rasa, gudeg basah dan kering.


"Dari teksturnya berbeda mas. Kalau gudeg basah mengandung kuah areh yang banyak airnya, sebaliknya gudeg kering lebih kental. Juga, warna gudeg kering itu lebih kelihatan gelap dan merah kecoklatan. Sedangkan gudeg basah lebih pucat warnanya dan terang," terang mbak Yu tersebut sambil menunggu.


"Kamu mau yang mana?" tanya Molan pada Farada yang sedang sibuk mengetik sesuatu di ponsel, sepertinya sedang komunikasi via chat.


"Oh...aku mau yang gudeg kering aja mbak Yu." jawab Farada mendongak, lalu kembali menatap layar ponsel.


"Samain aja kalau gitu, mbak Yu, dua!."


Hening.


Mama: "Dek, kamu masih di luar atau udah di kamar?"


Farada: "Masih diluar Ma...ada apa Mama kok tumben malam - malam hubungi aku?"


Mama: "Tadi siang, Mama di undang oleh Ibunya Restu makan siang. Disitu udah ada Restu dan satu lagi...seseorang yang ternyata Ayahnya. Dan, Mama sangat kaget Nak! Siapa orangnya..."

__ADS_1


"Hah!?..." Tanpa sadar Farada bersuara agak keras, setelah sadar, dia segera menutup mulutnya yang terbuka.


"Kamu kenapa? Sedang chatting- an sama siapa sih?" tanya Molan mengernyitkan dahi.


"Mama," jawab Farada pendek dan dia memberi kode dengan tangannya untuk meneruskan chatting an tersebut.


Farada: "Serius Ma?...bukannya ayahnya Mas Restu udah meninggal?"


Mama: "Itu dia, kan tadi Mama bilang kaget. Tapi faktanya ayahnya masih hidup. Dan, lebih kaget lagi kalau kamu akan tahu siapa orangnya."


Farada: "Siapa Ma?"


Mama: "Nanti aja, intinya mereka mau segera melamar kamu. Kamu dan Restu akan menikah secepatnya."


Tubuh Farada langsung mencelos. Tulang terasa lemas, mimik wajahnya kebingungan. Seharusnya dia bahagia bukan? Tapi...kenapa, dia tidak bahagia mendengarnya?


Farada belum membalas chat Mama nya, otaknya stagnan! Sampai kembali satu nada pesan masuk berbunyi.


Mama: "Oh ya...dua hari lagi kamu berangkat ke Jakarta ya, nanti semua di jelaskan disini."


Farada: "Aku belum boleh ambil cuti Ma. Peraturannya kalau sudah bekerja satu tahun, baru boleh."


Mama: " Udah kamu tenang aja, semuanya sudah di atur, pokoknya kamu tinggal berangkat dua hari lagi."


Farada: "Hah? Kok bisa? Adek jadi nggak ngerti Ma...ada apa sih sebenarnya?"


Mama: "Udah, tenang aja. Mama ngantuk Dek, besok Mama kabari lagi ya. Kamu hati - hati."


Farada: "Iya Ma."


Molan memperhatikan semua gerak gerik Farada. Ekspresi gadis itu terkadang melotot, terkadang sedih, dan kaget. Kenapa dia? Tapi dia tidak bertanya, dia ingin memberi ruang.


"Nah, gudegnya sudah datang, yuk...kita makan dulu."


"Boleh dibungkus aja nggak? Aku makan di kamar aja, pesanin sekalian buat Tissa, ya," ujar Farada dengan suara lirih. Dia sudah tak berniat lagi untuk makan, saat ini dia ingin menangis sendirian.

__ADS_1


Molan hanya mengangguk. Dia tahu, Farada sedang terjadi sesuatu.


__ADS_2