
"Ma, itu salah satu tempat impian adek ma, kapan lagi adek bisa kesana, gratis lagi", Farada sedang merajuk, mama nya tak mengijinkan dia pergi. Sang mama melotot, dari tadi anaknya bersikeras ingin pergi dan tak mau mengikuti rencana yang sudah dibuatnya. "Jangan dong dek, kamu itu pergi sendirian, cewek pula, nanti kalo ada apa - apa gimana?", walau gimana pun juga, mamanya tetap dengan nada lembut memberitahu.
"Yaah mama, percuma aku anak tentara ma, anak kopassus loh aku ini, masa takut pergi sendirian, gini - gini kan aku juga jago beladiri loh, ban ijo tae kwondo!, kal...aww sakit ma", Farada mengusap - usap lengan bekas cubitan mamanya.
"Lagakmu ini kayak sok iya deh!, pokoknya nggak bisa, kamu mau mama ketemuin sama ponakan teman mama".
"Yah mama, ketemuan itu kan bisa nanti - nanti aja ma, lagian harinya benturan gitu, tunda aja minggu depan".
"Nggak bisa dek, ponakan teman mama itu orang sibuk, bisa nya hari sabtu ini aja", sang mama kemudian berdiri dan berjalan ke arah dapur.
"Jangan lupa, hari sabtu jam tiga sore!", ujar sang mama sambil berlalu.
"Pa...tolongin adek dong, ngomong ama mama, papa diem aja sih", Farada beralih ke papanya yang dari tadi hanya diam menonton berita di televisi.
Pak Handoko, papa Farada menarik nafasnya dan beralih perhatikan muka anaknya. "Dek, yang di omongin mama itu benar, kamu itu cewek, kamu berangkat sendiri, mama itu kuatir dek, nanti terjadi apa - apa disana, di negara orang loh!".
Farada seketika langsung putus asa, harapan satu - satu nya, si papa juga nggak mendukung, mukanya merenggut, menahan tangis. Impiannya melayang.
"Yah papa...", Farada merajuk, Ia menangis tak bisa menahan, berjalan pergi ke kamar dan kakinya di hentak - hentakan ke lantai. Herlina, mama Farada yang kembali dari dapur sambil memegang gelas berisi teh manis terhenti "mana Farada pa?", lalu meletakan gelas di hadapan suaminya tersebut. "Nangis di kamar", kata pak Handoko memberi kode dengan gerakan kepala, menjawab santai sambil meraih gelas berisi teh hangat yang di sediakan istrinya di meja.
"Anak itu, kerasnya minta ampun deh! tapi cengeng", tutur bu Herlina membayangkan perdebatan tadi dengan anaknya. "Ke Jepang itu impian Farada dari dulu ma, makanya dia bersikeras pengen pergi, apalagi ini dapat tiket gratis dan akomodasi, plus dapat uang saku begitu papa dengar - dengar".
Sementara, Farada menguping pembicaraan kedua orang tuanya dari balik pintu kamar yang posisinya tak jauh dari ruang keluarga. Suasana rumah yang sepi, suara keduanya cukup jelas di dengarnya.
"Iya, tapi kan mama kuatir juga kalo berangkat sendirian gitu pa", ujar bu Herlina dengan muka serius, "lagian mama udah terlanjur janji juga dengan bu Gendis, ngenalin Farada sama ponakannya, harinya bersamaan, sabtu besok".
"Emang nggak bisa di tunda gitu?, kan bisa hari lain, minggu depan misalnya, kan Farada udah pulang tuh"
Betul itu pah!...Farada membatin, kupingnya makin menempel di pintu.
"Ponakan bu Gendis itu orang sibuk, dia General Manager loh pa...bisanya hari Sabtu besok, itu pun pake di bujuk - bujuk dulu sama mamanya", imbuh bu Herlina membanggakan. "Loh, emangnya ponakan bu Gendis itu, nggak mau sama Farada?, kalo nggak mau, jangan!...kasian sama anak kita, masa perempuan yang nguber - nguber laki nya nanti, bisa semena - mena dia", protes pak Handoko tak setuju.
Yes..!, aku padamu pah, teriak dalam hati Farada, tangannya mengepal ke udara.
__ADS_1
Ibu Herlina terdiam, lalu...
"Bukannya nggak mau, mereka kan belum dikenalin, cuma...ponakannya itu nggak mau di jodoh-jodohin, sementara anak itu belum tergerak nyari pasangan, umurnya udah 28 tahun kalo nggak salah, nah...mamanya itu kuatir, gitu pa".
"Dia tinggal sama mamanya?, papa nya itu udah nggak ada?", selidik pak Handoko kemudian.
Bu Herlina menarik nafas rendah, dia harus ceritakan asal - usul calon yang mau dikenali nya itu, cerita yang dia dapat dari ibu Gendis.
"Singkatnya begini pa...mamanya anak itu dulu punya pacar, udah dua tahunan. Tapi, orang tua dari si laki - laki itu nggak setuju, mereka menentang hubungan mama nya anak ini...", bu Herlina menjeda kalimatnya, dia berusaha mengingat cerita dari bu Gendis. "Lalu, kedua orang tua dari pacar mamanya itu menjodohkannya dengan seorang perempuan lain, alasannya ya...biar sederajat. Mereka keluarga kaya raya. Dan, memaksa pacar mamanya itu harus menikahi perempuan yang di jodohin itu. Tapi, pacarnya tersebut nekat, mengajak mamanya ini nikah siri, dan...ketahuan sama orang tua si pria itu, kalo nggak salah lima hari setelah mereka nikah. Nah, keluarga si pria ini marah besar, mereka berusaha memisahkan. Entah gimana ceritanya, si pria itu di nikahkan dengan pilihan orang tuanya, trus mamanya ini pergi keluar negeri, menghilang, dan kembali ke negeri ini lima belas tahun kemudian".
"Dan, ternyata mamanya tersebut pergi membawa janin dalam perut?, atau mamanya nikah lagi di luar negeri?", kata pak Handoko yang sedari tadi menyimak cerita.
"Iya, tanpa disadari oleh mamanya itu, dia pergi membawa janin dalam perut. Sejak pergi itu, dia nggak pernah nikah lagi".
Pak Handoko manggut - manggut, "nah...waktu mamanya itu balik lagi kesini, dia nggak pernah ketemu sama pacarnya eh suami siri nya itu?", lanjut pertanyaan pak Handoko.
"Menurut bu Gendis, nggak pernah lagi. Dia menutup semuanya, dan nggak pernah mau mencari tahu, dia bilang sama anaknya itu, calon yang mau di kenali sama Farada ini, bahwa papanya sudah meninggal".
"Nggak tau, kata bu Gendis juga dikasih tau sama kakaknya itu juga sudah meninggal sih", jawab bu Herlina.
Kembali, pak Handoko manggut - manggut, "kasian juga yah?...rumit jalan hidupnya".
"Makanya, anaknya itu menjadi workaholic !", timpal bu Herlina.
Farada yang juga setia menguping dari balik pintu kamar melongo, complicated bener hidupnya? tapi gimana nih kelanjutan ijinnya, ayo dong pah, bantuin...
"Trus, kembali ke cerita tadi, gimana jadinya Farada ma?, kasian juga dia kalo perginya nggak jadi", kata pak Handoko sambil menyilangkan kaki kirinya ke paha kanan. Sang istri langsung menatap intens ke arah pak Handoko, "jadi...sebenarnya papa itu ngijinin Farada itu pergi atau nggak sih?", bu Herlina bertanya gusar ke suaminya itu, maksud hati ingin menonjolkan cerita perjodohan, ternyata sang suami ini malah mikirin perginya Farada.
Pak Handoko mengusap wajahnya dengan tangan beberapa kali, "bukan, maksud papa kasian juga gitu, kalo si adek nggak jadi pergi, kapan lagi kesempatan itu datang lagi, ya kan?", pak Handoko mencoba membujuk melihat intonasi istri sudah naik satu oktaf.
"Nggak bisa, nggak boleh pokoknya, bisa jantungan mama kalo si adek pergi trus kenapa - kenapa disana, siapa tanggung jawab?".
Seketika, Farada loloskan diri ke lantai, destinasi liburan terancam gagal, Ia baru tahu, keras dirinya turunan dari siapa. Air matanya menetes.
__ADS_1
Pak Handoko hanya diam memperhatikan punggung sang istri yang pergi ke kamar dengan wajah kesal. Dilema, memberi ijin anaknya akan dapat tentangan dari sang istri walau sebenarnya Ia mampu mengirim pengawal secara diam - diam buat jaga Farada disana, tapi melarang pergi pun dia tak tega.
Perjodohan...hmm, bukankah tanpa disadari oleh mamanya si pria itu, kalo dia mengulang sejarah dari papa pria itu sendiri? pikir pak Handoko bermonolog dalam pikirannya.
***
Hari menjelang sore di hari sabtu,
Suasana bandara terlihat sangat ramai, weekend. Orang - orang banyak memanfaatkan waktu untuk pergi berlibur, seperti hal nya Farada, dengan wajah sumringah hari ini akan berangkat ke Jepang. Setelah melalui perdebatan cukup alot yang di bantu papa untuk meyakinkan mamanya memberikan ijin. Ibu Herlina, mama Farada akhirnya memberikan restu berangkat asal dirinya sendiri yang bicara untuk batalkan pertemuan dengan pria yang terlanjur dijanjikan bertemu di sebuah kafe tersebut. Mamanya tak ingin ikut campur lagi, malu dengan ibu Gendis.
Di Tempat lain...
Restu sudah hampir 30 menit menunggu seseorang yang akan bertemu dengannya di kafe X. Seorang wanita yang di rekomendasikan Ibu dan tantenya. Awalnya dia menolak, tapi paksaan sang Ibu akhirnya dia mengalah. Dia mau menemui walau setengah hati.
Beberapa kali melirik jam tangan dengan raut muka kesal, Ia tak terbiasa menunggu, selalu tepat waktu begitu prinsipnya. Tiba - tiba ponselnya bergetar, sebuah nomor tak dikenal menghubunginya. Mungkin ini dia orangnya...
"Halo...".
"Maaf mas, aku dapat nomor ini dari mama aku, cuma namanya mas aku belum tau".
"Kamu yang akan bertemu saya di kafe X ini?, kenapa belum datang", suara to the point Restu terdengar dingin dan tegas.
"Oh..mas sudah sampai?, maaf ya..karna sesuatu hal, aku nggak bisa datang hari ini, nanti..ki..".
"Saya sudah hampir 30 menit menunggu disini, kalo gitu ya sudah...", Restu langsung memotong pembicaraan dan memutuskan komunikasi, lalu tanpa basa basi dia pergi dari situ.
Yaa..dimatiin, cih!..bodo amaat ! Farada dengan kesal segera bersiap berangkat ke Jepang.
-
-
Lanjut
__ADS_1