Cinta Harus Memilih

Cinta Harus Memilih
Antara Molan - Farada dan Donna


__ADS_3

Di Jepang...


Farada baru selesai mandi dengan air hangat, malam itu udara terasa membeku. Ia berniat untuk tidur lebih awal karena kegiatan siang tadi cukup membuatnya lelah.


Baru saja ingin merebahkan badan, bel kamarnya berbunyi,...ting tong!


Aishh...bahkan mau istirahat aja susah disini! gerutu Farada lalu bangkit berjalan menuju pintu, Ia mengintip di lobang kecil, Duh!..ngapain sih dia kemari? .


Di luar, terlihat Molan sedang menunggu pintu terbuka.


"Ada apa..?", Farada langsung bertanya dengan nada ketus pada Molan. "Ya ampun...bukannya di persilahkan masuk dulu, malah ngegas !", Molan mengurut dadanya kaget, karena pintu kamar di buka dengan keras, gadis itu langsung menghardiknya.


"Nggak perlu basa basi, ada apa kesini, saya mau tidur!", ujar Farada dengan muka judes.


"Aku ada perlu sebentar, mau ngembaliin cincin kamu ini", Molan lalu perlihatkan cincin yang dia ambil dari kantung jaketnya.


"Yaudah sini!..", Farada berusaha mengambil cincin nya itu dari tangan Molan. Namun, Molan menjauhkan tangannya sambil menggenggam cincin itu. Tanpa basa basi pula dia merangsek masuk, mendorong bahu Farada dengan bahunya.


"Apaan sih..?", Farada berusaha menghalangi tetapi Molan sudah keburu di dalam dan langsung duduk di ruang tamu kamar.


"Nah, disini kan enak ngobrolnya", kata Molan dengan wajah tanpa dosa.


Farada masih berdiri, menyilangkan tangan di dada. "Apa sih mau kamu sebenarnya?", tanyanya dengan alis mata bertaut heran. Pria ini selalu saja mengganggunya.


Molan mendongak perhatikan wajah Farada sejenak, "Ayolah..cobalah bersahabat sedikit, jangan judes terus sama aku, aku hanya ingin berteman dengan kamu", dengan santai Molan kemudian meminta minum.


"Nggak usah berteman dengan saya, saya nggak mau di labrak lagi oleh pacar kamu!", jawab Farada sambil berjalan mengambil minuman mineral dari kulkas.


Molan kaget, "Hah..?, Donna melabrak kamu? kapan?".


Farada mengangguk dan menyerahkan botol mineral, "tempo hari, malamnya setelah kita nyasar waktu itu", terang Farada sambil mengambil tempat duduk berhadapan.


Molan masih tak percaya, "ngapain sih dia?..."ujarnya pelan sambil membuang muka, Ia kesal. "Dia itu bukan pacar aku, serius!", sahut Molan kembali menatap muka Farada.


"Mau iya atau nggak nya, saya tak peduli, tapi, yang jelas saya tak mau jadi kambing hitam gara - gara cewek itu cemburu!", jawab Farada mengangkat jari membentuk tanda kutip.


"Siapa yang mau bikin kamu jadi kambing sih?", canda Molan dengan wajah konyolnya.

__ADS_1


"Ihh...!, yaudah mana cincinnya sini!", Farada dengan muka kesal mengulurkan tangan meminta cincin tersebut.


"Yaelah..sabar dulu kenapa sih?, ngobrol dulu kek, apa kek!", jawab Molan masih dengan nada bercanda. Tapi kemudian dia memberikan juga cincin tersebut dan meletakannya di meja, di hadapan Farada.


"Trus...", Molan merogoh kantongnya, ada sebuah kertas yang berisi sebuah catatan, "ini catatan uang yang terpakai waktu pergi sama kamu tempo hari...", Molan menjeda kalimat sejenak, dan merogoh kantong jaketnya yang satu lagi. Farada dengan kening mengkerut memperhatikan gerak gerik Molan.


"....disitu ada biaya taksi, biaya makan, dan lain - lain, nah..ini uang gantinya, di terima ya", ujar Molan sambil meletakan sejumlah uang berupa Yen di meja.


"Hah..?, ihh...nggak mau!", tolak Farada cepat. Ia mendorong kertas dan uang ke hadapan Molan yang tiba - tiba berdiri dan berjalan ke pintu tanpa menanggapi Farada.


"Terserah kamu mau terima atau nggak. Aku kan sudah janji, nah yang penting aku udah menepatinya, terserah habis itu, mau kamu buang kek, mau di bakar kek, mau di kasih orang kek!", ucap Molan dengan senyum sambil menutup pintu kamar Farada, berlalu dari situ meninggalkan Farada yang kebingungan.


"Orang aneh!", Farada menatap uang dan cincin yang tergeletak di meja, setelah berapa lama baru Ia meraih cincin tersebut dan memasangnya di jari. Trus uang ini gimana?, batinnya.


***


Molan berjalan menuju kamar Donna. Ia merasa harus menegur gadis itu karena telah membuatnya malu di mata Farada.


Ting tong...


"Heh..kamu ngapain pake acara ngelabrak gadis itu sih?", Molan langsung memotong sambutan Donna yang terbelalak matanya, kaget. "Gadis itu..?, siapa sih..", jawab Donna masih belum nyambung, "gadis yang mana maksud kamu kak?", sambung nya dengan nada berubah lembut.


Donna mempersilahkan Molan masuk, tapi pria itu tetap berdiri di pintu sambil berkacak pinggang.


"Yang nyasar sama aku tempo hari,..jangan pura - pura nggak tau kamu".


Donna baru ingat, Ia mengatup mulutnya tak menjawab dan menundukan kepalanya. Sial*n, pake ngadu - ngadu dia! awas aja nanti!, makinya dalam hati.


"Aku nggak mau kasar sama kamu, tapi jangan paksa aku untuk berbuat itu. Jangan ganggu privasi aku, terserah aku mau dekat sama siapa, kita nggak ada hubungan apa - apa", lalu Molan berbalik badan meninggalkan Donna yang tak sempat menggunakan hak jawabnya.


Donna menatap geram punggung Molan, "awas kamu !, aku bilangin sama papa aku!", teriaknya melongok keluar dan kemudian membanting pintu ketika dia lihat Molan menghentikan langkah.


"Bilang sana!...", Molan tak melanjutkan kalimatnya ketika Donna menutup pintu.


Molan kemudian berjalan ke arah lift, dan tak lupa menelpon Tommy untuk segera turun dari kamar. Ia pergi menuju live bar hotel. Hanya minuman dan musik saat ini yang mampu menenangkan pikirannya.


Sedangkan Donna sendiri dengan amarah meluap membanting remote tivi ke lantai. Ia akan buat perhitungan dengan gadis itu!, dan mengambil ponsel nya untuk menghubungi seseorang, yaitu papa nya yang berada di Singapura.

__ADS_1


***


Tommy mendapati Molan sedang asyik di depan meja bar sambil meminum sesuatu, yang pasti itu alkohol. Ia duduk dekat sahabatnya itu dan memberi kode pada waiter di depannya, meminta seloki minuman.


"Lo keliatan kacau bener, kenapa bro?".


Molan melirik sahabatnya itu sekilas dan kembali melihat live musik yang bernyanyi dalam bahasa Jepang. Walau Ia tak begitu menyukai lagu itu, tapi tetap syahdu menikmatinya. "Si Donna nyari gara - gara mulu, ini yang ketiga kalinya dia melabrak orang...".


Dengan kening berkerut, Tommy bertanya, "Hah..?, maksud lo Donna melabrak siapa?, nggak ngerti gue".


"Itu tuuh..siapa namanya yah?,..si gadis!".


"Si gadis..?, siapa si gadis?, ngomong yang jelas brader, makin nggak ngerti gue ini!", Tommy lalu meneguk minumannya yang baru di sodori waiter.


"Hadeehh..itu, cewek yang kesasar sama gue tempo hari, dia bilang sama gue habis di labrak sama Donna, lo juga sih pake bawa - bawa dia waktu itu!", ujar Molan sewot.


"Hahaha...si gadis?, lo belum tau namanya?, ya ampun Molan..Molan, percuma julukan Don Juan!", Tommy gelengkan kepala sambil tertawa.


Molan memukul bahu Tommy, "Diem lo!, nggak ngerti gue, kenapa gue penasaran sama tuh cewek yah?, dia nggak mau ngasih tau namanya sama gue, galak bener pulak!".


"Kalo gue liat, lo suka sama dia ya?", Tommy mendekatkan wajahnya ke kuping Molan. Molan hanya diam tak menanggapi, dalam hatinya meng-iyakan.


"Kejar terus bro, gue dukung lo..., karena belum pernah gue liat cewek begitu berani sama lo, cakep lagi. Oh ya..cari tau namanya dong, kan bisa lo tanyain sama Tissa, atau bisa lo cek di resepsionis atau bisa juga tanya ke klub!".


Molan gelengkan kepalanya, "Nggak!, gue pengen dia yang ngasih tau langsung sama gue".


Kemudian, "udah yuk ah balik ke kamar, jangan kebanyakan minum lo, ntar gue bilangin sama itu cewek..", ujar Tommy menggoda sahabatnya ini.


Molan berdecak kesal, "Ckk..., yaudah ayo!".


Lalu keduanya berangkat pergi, kembali ke kamar mereka di atas.


.


.


Lanjut

__ADS_1


__ADS_2