Cinta Harus Memilih

Cinta Harus Memilih
Malam Terakhir Di Sapporo


__ADS_3

Bel kamar Molan berbunyi dua kali, Ia tersentak, dilihatnya cahaya matahari sudah masuk di celah horden kamarnya. Ia gelengkan kepala agar sedikit rasa pusingnya berkurang akibat semalam kembali menenggak wine dengan Tommy.


Kembali bel kamar berbunyi...


Siapa sih..?, gumamnya sambil bangun dari tempat tidur, Ia berjalan keluar, tak lupa melongok sebentar kamar Tommy yang sudah kosong, kemana si Tommy ?


Ia membuka pintu, di depan sudah berdiri Christopher dengan pakaian rapinya, kontras dengan keadaan Molan yang hanya memakai celana jins tanpa memakai atasan memperlihatkan otot - otot atletisnya.


"Ya ampun bos?, baru bangun?...semalam minum lagi?", ujar Christ mengibaskan tangannya dan masuk mengikuti langkah Molan yang langsung berbalik.


"Masih pagi juga!", ketus Molan masuk kamarnya mengambil baju kaos.


"Pagi..?, lihat nih jam berapa?", timpal Christ perlihatkan jam tangan pada Molan, dan Molan kaget,"hah..?, jam 10?, s*alan Tommy nggak bangunin gue!".


"Tommy udah ke Tokyo, tadi dia bilang mau mencari sesuatu".


"Trus...ada apa kamu kesini?", tanya Molan kemudian.


"Tuan besar memanggil Anda bos, di tunggu di ruangannya", jawab Christ dengan bahasa formil.


Raut wajah Molan berubah, "ada apa?".


"Nggak tau, di tunggu sekarang, jangan lupa mandi dulu bos, hilangin tuh bau alkohol", ujar Christ sambil berjalan keluar dan pamit.


Molan langsung buru - buru mandi, kalau papa nya sudah memanggil secara pribadi begini, biasanya itu sesuatu hal yang sangat penting.


***


Disinilah Molan sekarang, duduk di hadapan pak Erick, papanya. Sejenak, belum ada percakapan. Pak Erick hanya duduk bersandar di kursi kebesarannya menyilangkan kaki mengamati tingkah Molan yang hanya menunduk dengan raut wajah tak bersahabat.


"Molan...kamu tau kenapa papa panggil kesini?".


Molan gelengkan kepalanya, "Nggak tau...", jawabnya cuek masih tundukkan pandangan menatap lantai.


"Tadi, pagi - pagi pak Heryawan, papa nya Donna menelpon papa...", pak Erick menangguhkan kalimatnya, sambil perhatikan perubahan wajah Molan, tapi anaknya itu tetap tak bergeming. Mendongak menatap wajahnya tanpa rasa terkejut.


"Trus .?", Molan mengernyitkan dahinya.


"Pak Heryawan bilang, Donna menangis semalam, katanya kamu marah sama dia, benar?".

__ADS_1


Molan mulai mengerti arah pembicaraan papa nya ini, Ia berdecit dengan raut tak suka, "iya, karena dia ikut campur urusan aku", jawabnya cuek, "ngomong apa Donna sama pak Hery, pa?".


Pak Erick lalu menceritakan pembicaraan antara dirinya dengan papanya Donna pagi tadi. "Intinya, Donna mengatakan dia nggak mau kamu berpaling pada perempuan lain, dan dia menanyakan kapan kamu mau melamar Donna...".


Seketika, kepala Molan mendongak menatap wajah papanya, "aku kan berkali - kali bilang sama Donna, aku nggak mau menikah sama dia, pa".


Pak Erick menghela napasnya, lalu berdiri dari duduknya berjalan mendekati jendela kamar, memandang keluar, "pak Heryawan itu rekan bisnis papa, untuk memperkuat kerajaan bisnis kita, dia meminta kamu untuk berjodoh dengan anaknya".


"...dan, papa menyetujuinya, ck..semua karena bisnis", sela Molan memotong omongan papanya cepat.


"Sebab, papa pikir dari segi apapun itu bagus!, toh Donna anaknya cantik, baik dan memang cinta sama kamu", pak Erick berkata sambil melirik anaknya sekilas, dan kemudian kembali menatap luar.


"Ck...papa itu belum tau aja kelakuan dia, Donna itu style nya glamour, angkuh, manja dan suka party-party, pak Hery juga nggak tau kan? anak nya suka dugem?".


"....hei!, kamu kayak orang benar aja kalo ngomong, memangnya kamu seperti apa?, orang baik gitu?", cibir pak Erick memotong kalimat anaknya. "Dan, kamu itu memang seharusnya sudah menikah, biar bener, mau jadi apa kamu kalo seperti ini terus, hura - hura!, dan...", pak Erick lalu berbalik melangkah mendekati, "...ingat, papa nggak akan mewariskan semuanya buat kamu, kalo kamu masih seperti ini, di sekolahkan tinggi - tinggi bukannya fokus membangun kehidupan kamu sendiri, eh ini malah buang waktu nggak karuan, main perempuan, mabuk - mabukan!", ucap sang papa dengan intonasi tinggi.


"Siapa yang main perempuan sih pa?", Molan mengernyitkan dahinya membantah tuduhan itu.


"Pokoknya, kalo kamu masih main - main juga, awas kamu...kapan kamu kembali pulang?, nanti papa ada tugasin kamu ke Bali, ada kerjaan disana", pak Erick kemudian mengalihkan topik pembicaraan mengenai rencana pengerjaan renovasi hotel milik mereka yang di pulau Dewata.


"Nanti deh pa, aku masih ada yang mau di kerjain disini.., kalo papa udah selesai ngomongnya, aku mau pamit kembali ke kamar", jawab Molan sambil berdiri.


"Iya...", jawab Molan pendek lalu beranjak pergi dari hadapan ayahnya.


Pak Erick menatap kepergian anaknya sambil memijit pelipis.


***


Malamnya...


Tissa menghampiri kamar Farada yang tengah bersiap - siap untuk pergi. Malam ini ada kunjungan ke sebuah theater di pusat kota. Farada begitu antusias kali ini karena theater yang juga akan di isi oleh salah satu penyanyi favoritnya itu.


"Fara, sudah siap ya?, ayo kita berangkat".


Beberapa saat kemudian, barulah Farada dan Tissa sampai di lobi hotel. Tissa sudah mempersiapkan taksi yang sudah menunggu di depan lobi, tapi langkah mereka di cegat oleh Molan yang tiba - tiba datang dari arah belakang.


"Hei gadis, aku mau ngomong sebentar".


"Isshh..dia lagi, mau ngapain sih !", Farada menepis tangan Molan yang berusaha menariknya. Tissa yang melihat adegan itu, melongo. Sudah dua kali ini dia melihat ada orang yang berani membentak Molan di depan umum.

__ADS_1


"Aku ada perlu sebentar, mau ngomong sama kamu", ujar Molan sambil kembali berusaha meraih tangan Farada yang sudah membuka pintu taksi. Tissa juga sudah buka pintu dari sebelah.


Farada tak bersuara, Ia memberikan tatapan membunuhnya.


Molan lalu melepaskan tangan gadis tersebut melihat Farada hanya diam dan membiarkan gadis itu masuk taksi dan menutup pintu dengan sedikit di banting.


Tissa yang merasa tak enak hati, berusaha menjelaskan pada Molan bahwa mereka ingin pergi menonton theater, "maaf tuan muda, kami ingin pergi ke...", namun kalimatnya tak di teruskannya ketika mata Molan melotot padanya. Gadis itu ciut, lalu menunduk hormat, lalu masuk ke dalam taksi.


Molan hanya memandang kepergian taksi dengan perasaan kecewa, ada banyak hal yang ingin Ia sampaikan tapi terpaksa dia urungkan.


Di dalam taksi...


"Fara, hanya kamu aja loh yang berani bersikap begitu sama tuan muda itu".


"Tapi dia memang kurang ajar Tissa, dia menganggu aku terus, aku juga bingung, dia itu selalu berada di sekeliling aku terus, padahal ceweknya ada", terang Farada dengan mimik muka kesal.


Tissa tersenyum meledek, "ehh..tapi kalo aku lihat ya, sepertinya tuan muda itu naksir deh sama kamu".


"Dih..amit - amit!, ogah aku sama dia, bukan tipe aku banget, pemabuk, urakan, kasar, huh!".


"Jangan sewot dong, ntar kebalik loh...", sela Tissa kemudian menggoda.


"Kita ngapain ngomongin dia sih?, lagian aku udah punya tipe cowok yang aku sukai tau!", Farada lalu membayangkan seseorang yang jauh di seberang sana.


"Ehh..siapa?, cerita dong", Tissa mencolek lengan Farada sambil menggeser duduknya menghadap teman barunya itu.


Farada kemudian menceritakan Restu yang sudah menyita angan - angan belakangan ini. Dengan bersemangat dia menceritakan pria idaman nya yang bermula dari pesanan katering sampai akhirnya dia bisa curi - curi pandang melihat ketampanan pria itu.


"Ganteng mana sama tuan muda Molan?.


Farada tertegun sejenak, "sama - sama ganteng sih, cuma beda karakter..pak Restu itu, ganteng kalem, berwibawa, kalo yang Molan ini, tengil, urakan, pemabuk..pokoknya, jauh lah dari kriteria aku si Molan ini, bukan aku banget!".


Farada bercerita sambil memainkan jarinya, dan kemudian tersentak, "Yahh..cincinku hilang lagi!", sambil mengingat ketinggalan dimananya.


Farada sedih, cincinnya kembali hilang, padahal ini malam terakhirnya berada di Sapporo, karena esok dia kembali ke tanah air.


-


-

__ADS_1


Lanjut


__ADS_2