
Kelas pelatihan Marketing khusus karyawan yang bernaung di bawah bendera Luxury hotel dari berbagai tempat telah di mulai sejak tiga puluh menit yang lalu. Pada awalnya Farada dan Tissa begitu antusias mengikuti. Sesekali mereka, terutama Farada mengetik di laptop mencatat hal yang di rasa penting dan sesekali melihat ke depan memperhatikan kepiawaian sang mentor, Mr. Ferdinand dari Australia dalam menyampaikan materi terkait dengan perkembangan jaman yang sekarang ini mengandalkan teknologi digital dalam promosi. Walau penyampaiannya menggunakan bahasa Inggris, tapi Farada yakin semua peserta pasti mengerti. Bukankah bahasa Inggris merupakan syarat utama yang harus di kuasai bagi seorang marketer?
Tapi, lain halnya dengan Tissa. Gadis berwajah innocent itu bukan tipe pendengar materi yang baik. Dia lebih condong sebagai pekerja atau katakanlah sebagai 'pesuruh' dengan mengikuti aturan yang sudah dibuatkan dari pada sebagai pencetus ide. Jadi ketika materi yang disampaikan Mr. Ferdinand memasuki tahap terobosan ide, otak Tissa langsung stag.
"Sstt!" Tissa mencolek sikut Farada yang sedang mengetik sesuatu di laptop, tentunya yang berhubungan dengan materi pelatihan. Ia ingin menanyakan sesuatu hal yang menggelitik di benaknya, tentang kejadian sore tadi. Sikap ambigu Farada yang dia kira pada awal penolakannya memang karena ingin berbenah dan istirahat, namun tiba - tiba berubah ketika nama sang General Manager di sebut si Tuan Muda.
"Ada apa Sa?" tanya Farada dengan intonasi suara yang sangat pelan.
Tissa mencondongkan badannya ke arah Farada dan berbisik pada gadis itu, "Fara, jelasin. Gimana ceritanya tadi kok tiba - tiba kamu berubah pikiran waktu menolak di ajak makan Tuan Muda?"
Farada menoleh dan menarik napas panjang, ekspresinya menunjukkan rasa rikuh, tapi segera Ia kuasai dan kembali melihat lurus ke depan, "Nggak ada apa - apa, tadi itu karena memang tiba - tiba aku merasa lapar aja dan kupikir lebih baik terima tawaran Molan apa salahnya, ya kan?" ujarnya sambil kembali mengetik.
Oke, Tissa bisa memahami alasan Farada karena tiba - tiba merasa lapar, sebab sejak keberangkatan dari Bali tadi, dia tak melihat gadis itu makan nasi atau pun roti sekedar mengganjal perut. Tapi, yang tidak bisa di mengertinya adalah sikap Farada ketika berada satu meja dengan Ibu GM tadi sewaktu di jamu makan siang di Kemangi Bistro. Ralat, makan sore tepatnya. Beberapa kali dia melihat Farada menyela, melotot atau bahkan mencibir pada Tuan Muda ketika sedang ada berinteraksi dengan Ibu Sita. Apakah sekarang Farada sudah menyukai tuan muda? Sikapnya persis seperti wanita yang sedang cemburu. "Oh, kirain_"
"Kirain apa?" tukas Farada cepat serta merta menoleh dengan satu alisnya terangkat.
"Ya, nggak kenapa sih. Aku iseng aja nanya, habis...aku bosen nih!"
"..."
"Ngomong - ngomong, aku nggak liat Tuan Muda dan Ibu Sita, kemana ya? Kalau Ibu Sita tadi di meja nomor satu tapi sekarang udah nggak ada." Tissa mencoba mengalihkan pembicaraan, Ia bergumam pelan seolah berbicara ke dirinya sendiri.
Muka Farada langsung mendongak, pandangan gadis itu segera menyapu sekeliling. Benar saja, orang yang dia cari tidak tampak.
"Sa...aku ke toilet dulu sebentar, ya."
Kena kamu! cengir Tissa menatap punggung Farada yang kemudian menghilang di balik pintu.
***
"Saya sebenarnya sempat kuliah arsitek Pelita Hara**n di Jakarta, tapi cuma sampai enam semester. Setelah itu saya terbang ke Belanda, melanjutkan kuliah mengambil kuliah bisnis sampai selesai S2 disana."
__ADS_1
Di sudut lain, di sebuah restoran bernuansa alam terbuka malam itu cukup ramai. Memang resto ini adalah salah satu tempat favorit tamu hotel untuk makan malam karena iringan alunan suara musik gamelan dan semilir angin yang sejuk akan memberi kesan yang romantis terutama bagi yang dinner dengan pasangannya.
Seperti halnya dengan Sita Angelina. Alih - alih ingin kembali ke kamar mau ambil sebuah berkas yang tertinggal untuk urusan pelatihan marketing, dia malah berpapasan dengan Molan yang kebetulan ingin masuk ke ruangan tersebut. Sita berubah pikiran, dia malah membujuk Molan untuk menemaninya sekedar minuman wedang jahe racikan resto ini.
"Memangnya kenapa... arsitek nggak di terusin? kan sayang juga sudah sampai semester enam," ujar Molan menimpali perkataan Sita. Sempat terpikir olehnya, gadis itu bukan dari keluarga sembarangan. Bagi sebagian orang, kuliah di universitas swasta yang konon katanya termahal di negara ini, adalah impian yang sulit di gapai, biayanya itu loh! Sedangkan gadis itu masuk dan keluar dari situ seperti belanja ke mini market. Semudah itu.
"Orang tua saya diplomat, mereka nggak setuju kalau anaknya menjadi arsitek, mereka menginginkan saya menjadi pebisnis_" Sita kemudian tertawa miris "_itu kan dominasi kaum pria, benar nggak?"
"Saya menebak, kamu tidak punya saudara laki - laki?"
"Tebakan Anda benar, Tuan Muda...saya anak tunggal," jawab Sita sambil tersenyum, "Oh ya, omong - omong... boleh saya tanya sesuatu? Mungkin bersifat personal?"
"..."
Molan sedikit kaget, dia menarik punggungnya ke belakang, "Tentang?"
"Tuan Muda, sudah punya pacar? Kalau istri saya rasa belum, karena seluruh pegawai hotel atau bahkan sebagian penduduk negeri ini sudah mengetahui tentang silsilah owner dan juga, tentang putra tunggalnya."
Molan menggelengkan kepala, "Belum."
"Tapi, pernah jatuh cinta?..." Sita menjeda kalimat, "...kalau di cintai, itu sudah pasti banyak, ya kan?" lanjutnya sambil tersenyum tipis menampilkan kedua lesung pipinya yang samar.
Molan terkekeh mendengarnya, suasana mulai mencair dari kesan yang kaku. "Ternyata, selain berbakat jadi pelukis kamu juga punya bakat sebagai wartawan?" ujarnya sambil menyeruput minuman jahe hangat di hadapannya.
"Kamu sendiri, sudah menikah?"
Sita kembali gelengkan kepala, wajahnya berubah sendu, "Belum Tuan Muda, saya pernah dulu jatuh cinta pada pria asal Denmark, tapi hubungan kami tak berlanjut, alasan klasik... karena terkendala prinsip."
"Wah...seleramu, bule!...tapi kalian putus dengan baik - baik, kan?"
"Tak ada putus yang benar - benar baik, Tuan Muda. Selalu menyisakan luka. Hingga dari tiga tahun lalu sejak hubungan berakhir, kami tak ada komunikasi lagi, lost contact!"
__ADS_1
Molan manggut - manggut. Walau dia tidak sependapat.
"Dan, kriteria saya bukan 'harus' bule. Saya tidak bisa menentukan kepada siapa saya harus jatuh cinta, itu masalah hati."
"Kalau ini, saya sependapat. Cinta itu urusan hati, suka sama suka. Dia unik. Kita mencintai seseorang, belum tentu orang itu akan membalas cinta kita." ujar Molan bak seorang pujangga.
"Atau...bisa jadi, dua - duanya sudah saling jatuh cinta tapi mereka tidak menyadarinya, karena sebuah ego_" Sita menjeda, "Dan, ironinya...ada hati yang lain terlibat di antara keduanya."
"Hah?" Gadis ini cenayang kah? batin Molan bermonolog.
Tiba-tiba ponsel Molan bergetar. Pria itu meraih handphone dari kantongnya dan melihat Farada menghubunginya. Ia lalu memberi kode pada Sita untuk menerimanya dan menjauh.
Sita memperhatikan gestur Molan dalam berinteraksi di telpon, aura maskulinnya seolah hilang. Dia bisa menebak, siapa yang sedang berbicara dengan tuan muda tersebut.
Molan, pria yang pesonanya tak bisa di tampik oleh Sita. Karismatik, humble , terkesan sedikit urakan. Jangan lupa... potongan postur tubuhnya sangat ideal. Tampilannya lelaki sebenarnya.
"Selain hobi sebagai wartawan, kamu juga hobi melamun?"
"Eh..." Sita terkesiap dan memperbaiki posisi duduknya, lalu melirik jam di tangan. "Kalau begitu, saya pamit duluan, terima kasih mau menemani minum, saya mau kembali ke ruangan pelatihan, sepertinya sebentar lagi selesai, Tuan Muda saya tinggal nggak apa - apa?"
"Silahkan, saya mau disini dulu sebentar, udara malam disini sejuk benar."
***
"Farada? kamu sedang mencari seseorang?"
"Eh, Ibu Sita, bukan bu...saya mau ke kamar, ada berkas yang mau saya ambil." elak Farada beralasan, sebenarnya Ia malu karena ketahuan kabur dari ruang pelatihan.
Kok sama?
"Ooh...ya sudah, kamu lurus saja. Di depan situ kamu belok kanan." tukas Sita mengarahkan Farada menuju area luar resto.
__ADS_1