
Cukup lama rasanya Restu membiarkan Farada tersedu di depan kaca tersebut. Dia bingung tanpa tahu harus berbuat apa. Sikap Farada seperti tak bahagia dengan rencana pernikahan mereka ini. Berbagai tanya dalam pikiran mengganggu, mungkinkah Farada marah karena Samantha? Atau, sebab pertanyaan tempo hari tentang apakah dia mencintai gadis itu, yang belum dia jawab? Tapi, haruskah dia menjawab tanya itu, sementara dia sudah komitmen untuk melaksanakan pernikahan yang sebentar lagi terlaksana?
Restu menyandarkan kepalanya ke tiang. hati wanita memang sulit untuk dimengerti!
Desainer dan fitter baju harus bolak balik untuk melihat apakah Farada sudah selesai dalam kesendiriannya, tapi Restu memberi isyarat dengan jarinya agar tidak mengganggu wanitanya itu dan membiarkan dulu sampai Farada terlihat sudah siap. Setelah memberi isyarat, Restu kemudian keluar dari ruangan itu dan berjalan menuju ruang tamu untuk sekedar melonggarkan pikiran. Minum kopi merupakan ide yang tepat saat ini.
Satu jam berlalu. Setelah selesai melakukan fitting baju, Farada pun menghampiri Restu yang sudah menunggunya di ruang tamu. Gadis itu melihat gelas kopi di atas meja sudah kosong pertanda sudah cukup lama duduk disitu. Kenapa dia nggak liatin model baju yang dia pilih? pikir Farada. Karena seharusnya mereka harus saling mencocokkan dan kemudian berfoto bersama.
"Mas, udah selesai? Model yang mana Mas pilih?"
Restu yang sedang melihat-lihat majalah, menghentikan kegiatannya, kepalanya mendongak ke arah Farada, "Udah dari tadi, saya lihat kamu tadi sedang asyik dengan pikiran kamu sendiri jadi saya nggak ingin mengganggunya," Farada termangu mendengar sindiran Restu. Setelah mengatakan itu, Restu berdiri untuk segera bersiap pergi. "Ayo, nanti kamu saya antar pulang dulu, habis itu saya balik ke kantor lagi," ujar Restu tegas dan kemudian berpamitan pada desainer yang baru keluar dari ruangan dari ruangannya.
Farada tak ingin berdebat, dia mengikuti saja langkah Restu yang melangkah lebar dari belakang. Dia merasa calon suaminya itu mungkin marah padanya. Farada merasa bersalah, karena tadi sempat terpikir suatu hal yang tak mungkin dia katakan kepada Restu yang tiba-tiba membuat hatinya melankolis dan menangis. Tapi kan harusnya dia membujuk, menghibur atau apa gitu agar pikirannya tak melantur? Huh! Dasar pria tak peka!
"Kamu sedang mengumpat saya?" tanya Restu ketika membuka pintu mobil.
"Hah? Ng-enggak!" Farada gelengkan kepalanya. Ya Tuhan, sejak kapan dia punya indera ke enam?
***
Molan tiba di mansion Papanya terlambat hampir lima belas menit dari jadwal. Malam ini ada acara makan malam dengan keluarga calon mertua Restu, dan semua sudah berkumpul. Termasuk Farada dan Restu. Molan sebenarnya tak ingin datang, cuma siapa yang bisa menolak perintah Tuan Besar?
"Selamat malam, maaf...saya terlambat!"
Semua mata langsung menoleh dan tertuju pada Molan yang baru datang sambil menangkupkan kedua tangan di dada. Papa dan Mama Farada yang turut hadir tersenyum pada Molan lalu menganggukkan kepala. Orang tua Farada, terutama Pak Handoko sudah beberapa kali melihat putera kedua Tuan Erick ini, walau secara tak langsung bertemu tapi informasi mengenai Molan dia sudah tahu. Sedangkan, Restu dan Farada hanya diam saja. Apalagi Farada sendiri, dia tak berani menatap mata Molan yang tadi sekilas meliriknya.
Tuan Besar Erick berdehem sambil menyuruh anaknya itu segera duduk, "Duduk, kamu terlambat lagi, Molan!" ujarnya dengan nada dingin yang dijawab oleh anaknya itu pendek saja, "Macet, Pa."
__ADS_1
Di meja makan yang berbentuk bundar itu Molan kebagian tempat duduk di antara Ibu Soraya dan Pak Handoko, sebelum duduk Molan kemudian tak lupa menyalami kedua orang tua Farada terlebih dahulu.
Menjelang makanan di hidangkan, Molan mencoba mengurai kekakuan suasana yang terjadi setelah dirinya datang. "Pak Handoko, setelah pensiun dari tentara, sekarang kegiatannya apa, Pak?" tanya Molan membuka percakapan dengan orang tua Farada.
"Oh, saya...masih tak jauh-jauh dari kegiatan kemiliteran, Molan. Saya masih di minta dan diperbantukan di Hankam, yaah...itung-itung biar ada kesibukan, toh? Dari pada pengangguran," Lalu Pak Handoko terkekeh.
Molan pun ikut tertawa, "Dulu, saya sempat pengen jadi tentara, Pak Handoko."
"Oh ya? Terus kenapa tidak jadi?" tanya Papa Farada antusias. Mungkin karena dari tadi, suasana pembicaraan sedikit kaku, dan ketika Tuan Muda ini mengajak ngobrol di bidangnya sendiri, Pak Handoko jadi semangat.
"Saya dan teman berjumlah empat orang sudah mendaftar, segala persyaratan sudah kami persiapkan..eh, yang tidak jadi cuma saya sendiri, haha...malah salah satu teman saya, namanya Darwin Indrasa, dia diterima masuk Kopassus, sekarang jadi Dan Satgultor, berpangkat Mayor."
"Mayor Darwin Indrasa? sepertinya saya tahu, dia anak didik saya di Batu Jajar dulu. Nah, kalau Molan sendiri? Kenapa nggak jadi, kalau dilihat dari postur dan fisik tak mungkin gagal saya rasa," tanya Pak Handoko heran.
Molan pun garuk-garuk kepalanya yang tak gatal, "Biasa, Pak," cengir Molan sambil melirik kearah Papanya. Dan, Pak Handoko pun mengerti apa yang dimaksud, lalu terkekeh.
Sedangkan Farada, yang posisi duduknya persis di seberang Molan, memandang pria itu dengan tatapan yang tidak bisa diartikan, hanya dia sendiri yang tahu perasaannya saat ini. Lain halnya Restu, dia tetap berekspresi seperti biasanya, dingin dan datar.
"Oh ya Pa, Molan kan pernah datang ke rumah sebenarnya dulu, waktu Farada baru pulang dari Jepang, kan?" Ibu Herlina menyela melirik Molan, tapi tiba-tiba dia menutup mulutnya setelah tersadar sedang berada dimana. Tubuh Farada pun menegang, wajahnya memucat, dia berharap jangan sampai mamanya bercerita terlalu jauh tentang Molan di hadapan Restu.
Ibu Herlina menjadi serba salah akibat kelepasan omongan. Molan pun berubah wajahnya, pria itu melirik Farada sekilas yang juga sedang menatapnya sendu, lalu memutus kontak mata setelahnya.
Akhirnya, Tuan Erick berdehem beberapa kali untuk mengalihkan situasi yang berubah kikuk, dia memanggil pelayan agar segera menyiapkan hidangan makan malam.
Tak berapa lama, makanan pun segera terhidang di atas meja, lalu Tuan Erick kemudian mengajak semua untuk makan malam.
***
__ADS_1
Keesokan hari...
Molan dan Restu kembali di panggil Tuan Erick untuk datang ke mansion secara mendadak karena ada sebuah hal penting yang akan dilakukan Tuan Erick kepada kedua anaknya tersebut.
Restu dan Molan datang hampir bersamaan. Molan yang datang agak belakangan lalu memarkirkan mobilnya persis di sebelah Restu yang baru keluar dari pintu mobil.
Perang dingin di antara keduanya masih terjadi, Restu sebenarnya lebih legowo. Dia tak begitu meladeni Molan yang sedang melihatnya dengan tajam, kebencian jelas tergambar di wajahnya. Sampai di lantai dua, Tuan Erick sudah menunggu mereka di dampingi seseorang berpakaian resmi yang sangat di kenal Molan, Pak Hendro Dinata, pengacara pribadi Papanya.
Sementara Restu yang belum mengenal, hanya diam saja, setelah sebelumnya mencoba tersenyum pada pengacara itu.
Molan sempat bertanya dalam hati, apa yang sedang terjadi?
"Duduklah!" Suara berat Tuan Erick menyuruh kedua anaknya itu duduk, kemudian memperkenalkan Hendro pada Restu.
"Kini, saatnya Papa mau memberikan sesuatu yang telah Papa persiapkan dalam satu bulan ini dengan Pak Hendro," Tuan Erick menjeda, "Papa berharap, setelah ini jangan lagi ada kebencian di antara kalian berdua, terutama kamu Molan, tak ada gunanya menyimpan dendam ataupun sakit hati terhadap Papa, Restu dan Ibu," wajah Erick berubah sendu, guratan tua jelas terlihat di wajahnya yang masih tampan di usia itu. "Papa minta maaf sama kamu dan Papa menyayangi kamu," ujar Tuan Erick terbata.
Tanpa sadar, air mata mengalir di pipi Molan. Baru kali ini dia melihat Papanya lemah.
Lalu, Pak Hendro mengambil alih pembicaraan. Dia mengambil satu bundel map yang berisi kertas-kertas berharga.
"Ini, pembagian semua kekayaan Tuan Besar Erick buat kalian berdua, lengkap dengan semua bidang usaha, struktur dan fungsinya. Silahkan kalian lihat dulu, lalu tanda tangani. Dan, besok copy-an nya tolong di kembalikan ke saya."
"Pa?" Molan tertegun melihat Papanya, ada sesuatu yang terlintas di pikiran Tuan Muda itu tentang penyakit Papanya tersebut.
"Papa sudah saatnya turun tahta, kalian yang akan melanjutkannya," lalu Tuan Erick menarik napas berat, "Papa ingin kalian akur, jangan ada permusuhan lagi. Dan, kamu Restu...bimbing adikmu dengan segala pengalaman jam terbang usaha kamu. Kamu harus segera berhenti dari DomTrav!"
Restu pun mengangguk tak bersuara.
__ADS_1