
Restu membunyikan alarm mobilnya setelah memasukan kedalam garasi rumahnya.Jam telah menunjukan pukul 10 malam. Rutinitas yang sering belakangan ini terjadi, pulang malam.
Hari ini cukup melelahkan karena ada meeting tadi sore di kawasan Sudirman yang padat dan dilanjutkan dengan acara kedua, meeting yang boleh di bilang dadakan di daerah Blok S - Kebayoran Baru. Mendadak karena ketika baru keluar dari sebuah gedung selesai rapat, ponselnya berbunyi Panggilan dari nomor tak dikenal. Dan, setelah diangkat, ternyata dari Samantha yang ingin bertemu, untuk membicarakan tentang lanjutan proyek kerjasama DomTrav dengan perusahaan tempat Samantha bekerja.
Ah! Samantha...pembicaraan yang seharusnya mengenai sebuah proyek malah berubah menjadi ajang cerita pribadi. Restu mungkin terbilang kaku dalam sebuah hubungan, bahkan dalam usia yang sebentar lagi genap 30 tahun, dia belum pernah menjalin sebuah relationship dengan seorang wanita, tapi dia tidak bodoh untuk menilai bahwa Samantha sedang berusaha mendekatinya. Sama halnya dengan Farada, yang begitu mengaguminya.
Farada..? Apa kabar nya gadis itu sekarang, tumben sudah beberapa hari ini belum menghubunginya. Mungkin gadis itu marah karena dia tak pernah balas hubungi balik. Harusnya dia yang kesal bukan? karena dia sudah melarang gadis itu untuk kerja di Bali, dan menawarkan untuk bergabung dengan perusahaan DomTrav, tapi malah di tolak. Astaga! itu anak terbaca karakternya, keras kepala!
Atau...dia malah sedang bersenang-senang sekarang?
"Bang...?, kenapa bengong disitu, Nak..." sapaan lembut ibu Iin baru keluar dari kamar tidur berhasil membuyarkan lamunan anaknya.
"Ya ampun, ibu bikin kaget aja...ibu belum tidur?" jawab Restu tersentak, kemudian hampiri ibunya dan memeluk.
"Tadi sudah tidur cuma kebangun, karena ada bunyi pintu terbuka...kamu ada masalah?"
"Nggak ada bu, tadi dua kali meeting di tempat yang berbeda. Trus, jalanan macet, jadi agak capek aja. Aku mandi dulu ya bu, badanku lengket." ujar Restu yang kemudian mendapat anggukan kepala dari ibunya.
Ibu Iin memperhatikan punggung anaknya yang berlalu dengan tatapan yang sulit di artikan sebelum melangkahkan kaki menuju ruang tengah dan duduk di sofa sambil menonton televisi.
Kasihan Restu...gumamnya pelan. Anak yang tumbuh besar tanpa di dampingi oleh seorang ayah. Dan, satu hal yang sangat mengganjal dalam hatinya, Ia menyimpan sebuah rahasia besar. Kalau di pikir, sudah saatnya Ia menceritakan rahasia tersebut pada anaknya. Rahasia yang akan mengubah dunia anaknya. Tapi, dirinya ragu menceritakan rahasia itu saat ini. Dia takut anaknya tersebut belum siap menerima kenyataan.
"Lho, ibu nonton atau malah tidur?" sahut Restu tiba-tiba. Dia baru saja selesai mandi dan ingin ngobrol seperti biasa dengan ibunya, selepas kerja.
Suara teguran anaknya sukses membuat ibu Iin tersentak, segera perbaiki duduknya, "Kamu ngagetin ibu aja!" cetus ibu Iin mengusap dada.
"Kalau ibu udah ngantuk, ibu tidur aja ke ke kamar, abang nggak apa-apa kok sendirian."
"Ibu belum ngantuk...gimana pekerjaan kamu, bang? Ibu perhatikan sekarang kamu sering pulang malam..." tanya sang ibu sambil bergeser memberi ruang pada Restu untuk duduk.
"Iya bu, sekarang ini ada sedikit kendala tentang proyek dan beberapa relasi maunya meeting diluar kantor, jadi...yah, begini, aku sering pulang telat," jawab Restu, sambil mengambil makanan ringan di meja, "oh iya, lupa kasih tahu ibu, tiga hari lagi aku berangkat ke Bali ada undangan seminar. Dan, yang di undang itu para CEO, General Manager dari perusahaan terkenal di negeri ini, di hotel Luxury Resort," sambung Restu kemudian.
"Berapa hari?"
__ADS_1
"Cuma tiga hari, berangkatnya Jumat pagi. Tapi, ibu nggak apa-apa abang tinggal sendirian?"
"Ya, nggak apa-apa dong bang..." Ibu Iin menjeda kalimatnya, dia ingat sesuatu, "ngomong-ngomong, gimana kabar Farada? kalian masih intens komunikasi kan?" tanya sang ibu mengalihkan pembicaraan. Tempo hari, ibu Iin ingat waktu ngobrol di kafe Farada, gadis itu melamar pekerjaan di perhotelan, dan kalau tidak salah, dia menyebut nama hotel Luxury, dan di Bali.
"Hah..?" dapat pertanyaan dadakan tentang Farada, Restu sedikit tak siap. Ia mengubah posisi duduknya jadi bersandar ke belakang, "Oh...dia baik-baik aja bu," jawabnya pendek.
Melihat mimik muka anaknya tak semangat, ibu Iin mengernyitkan dahi tak percaya, "Kenapa kok mukanya gitu? lagi berantem, hm?"
"Nggak sih, cuma kesal aja sama dia," ujar Restu cuek.
"Kesal kenapa? karena kerja di Bali?" tebak sang Ibu, "kamu itu sudah jalin hubungan atau masih pendekatan aja sampai sekarang?" sambung bu Iin.
Restu menghela nafasnya, "Masih pendekatan bu, belum ada kepastian."
Sang ibu gelengkan kepalanya berapa kali, lalu mengalihkan pandangan ke televisi, "Kamu itu ya..., perempuan itu di beri kepastian Res...jangan digantung, kalau cocok langsung nikah, ingat umur kamu!" ujar ibu Iin mengingatkan.
"Ck..Ibu, abang lagi malas omong soal Farada, nanti aja abang cerita, sekarang lagi nggak mood, bu..."
"Oo ya sudah kalau begitu." Ibu Iin sangat mengerti tabiat anaknya ini. Tak suka di desak dan di-dikte. Kalau ada apa-apa biarkan saja, nanti juga dia akan cerita sendiri.
***
Suasana terlihat sangat sibuk, tapi Molan yang seharusnya memimpin tim nya, malah tidak menjalankan fungsinya sebagai team leader. Dia menempel bagaikan lalat mengikuti kemana Farada pergi. Hal itu membuat pusing kepala Farada.
Seperti sore ini...
Persiapan untuk seminar sudah hampir 100 persen, tinggal besok penyempurnaannya, jikalau masih ada yang dirasa perlu. Farada menghela nafas beratnya sambil memperhatikan ruangan yang akan dipakai seminar, dan melakukan check list pada lembaran kertas ditangan. Tiba-tiba, pergelangannya ditarik seseorang menuju pantai.
"Kamu apa-apaan sih main tarik-tarik aja!" bentak Farada sambil berontak ketika sampai di tempat sepi. Walau dia sangat kesal, tapi dia masih menjaga wibawa Molan sebagai tuan muda di depan karyawan lain.
"Udah, ikut aja...kita lihat sunset disana, cuaca lagi bagus," tanpa rasa bersalah, Molan kembali menggamit tangan Farada.
"Ihh...!!" Gadis itu mendengus sebal, mau tak mau dia mengikuti langkah Molan menuju pinggir pantai. "Ini masih suasana kerja, ngapain siih?"
__ADS_1
"Tenang aja, persiapan besok sudah beres, tinggal final-nya aja, nanti bisa dikerjakan oleh bagian HK,...udah duduk sini!, kita nikmati senja,"
Farada mengikuti juga duduk di atas pasir. Busana kerja bermotif dengan rok pendek agak mengganggunya. Molan lalu berdiri dan menghampiri seorang bule, entah apa yang dia bicarakan, sang bule tersebut memberikan kain bermotif panjang yang dijadikan syal di lehernya.
Molan lalu menutupi paha Farada dengan kain tersebut. Hal itu tak luput dari perhatian Farada. Hatinya berdesir...
"Aku menyukai senja..." ujar Molan kemudian sambil perhatikan matahari yang sebentar lagi akan tenggelam di ujung laut sana.
Farada mengangguk tanpa menyahut. Dia pun sangat menikmati langit sore yang berwarna jingga di atas sana. Pikirannya begitu damai menyaksikan fenomena cakrawala yang magis itu.
Dan, tanpa mereka sadari, sepasang sorot mata sedang memperhatikan mereka begitu tajam tak jauh tersembunyi dibawah pohon kelapa dengan rahang yang mengeras!
Selepas magrib, mereka baru berdiri untuk bersiap kembali ke hotel.
"Kamu langsung ke kamar dulu atau balik ke ballroom?" tanya Molan sambil menepis pasir di celananya.
"Aku ke kamar dulu, nanti aku balik ke ballroom, kamu aja duluan kesana, tugas kamu kan pastikan semua udah beres apa belum..." jawab Farada melangkah lebih dahulu, kali ini dengan nada bicara tak lagi ketus. Mungkin karena hatinya menjadi damai setelah menikmati sunset.
"Aku temani kamu ke kamar..."
Langkah Farada terhenti, "Heh!..." dan memberikan tatapan mata melotot pada Molan. Astaga! orang ini...
***
Farada bersenandung kecil menapaki jalan menuju kamarnya. Bangunan kamar khusus karyawan ini, terpisah dari lingkungan hotel, berbentuk cottage yang mengarah ke pantai sebelah barat.
"Farada Anastha!"
Ketika tangannya akan membuka handle pintu, dia terkejut karena secara tiba-tiba suara bariton menegurnya dari belakang.
Mulut Farada membulat yang kemudian dia tutup dengan kedua telapak tangan. Lelaki yang di rindukan, tengah berdiri dengan kedua tangan masuk ke kantong celana. Menatap tajam kearahnya.
"Pak Res..eh mas Restu?" Farada mengatur nafas untuk mengatur detak jantung yang berubah cepat, "sejak kapan berada disini?" sambungnya. Ingin memeluk tapi pria itu belum siapa-siapanya bukan?
__ADS_1
"Sejak kamu berduaan di pinggir pantai menikmati sunset tadi!" Restu menjawab dengan dingin.
"Hah?"