Cinta Harus Memilih

Cinta Harus Memilih
Semua Berawal Disini


__ADS_3

Ibu Iin terlihat masih menikmati minuman jus alpukat dan pisang bakar yang dipesan-nya, sambil sesekali menelpon seseorang. Juga, ibu Iin sudah mendapat kabar dari Farada beberapa menit yang lalu bahwa dia sebentar lagi akan sampai ke tempat itu.


Tak berapa lama kemudian, benar saja Farada pun tiba dan langsung berjalan cepat masuk ke dalam setelah parkirkan motornya terlebih dahulu.


"Maaf bu aku telat," ucap Farada seraya mengulurkan tangannya, menyalami ibu Iin. "Tadi ada truk besar mogok, jadi jalanan agak tersendat."


"Oh, nggak apa-apa kok Fara, ibu juga nggak kasih kabar sebelumnya sama kamu, kebetulan tadi ibu ada perlu di sekitaran sini, jadi sekalian mampir," sambut ibu Iin tersenyum sambil mengusap pelan bahu Farada.


"Ibu mau pesan makanan lagi?" tanya Farada menawarkan dan mengangkat tangannya memanggil salah satu karyawannya.


"Cukup Fara, ibu sudah pesan pisang bakar dan jus, ini sudah cukup. Di umur seperti ibu ini kapasitas makanan sudah harus terjaga..." tolak bu Iin dengan halus.


Kemudian seorang pelayan wanita datang menghampiri, dan menanyakan Farada mau diambilkan minuman apa.


"Samakan saja dengan ibu Iin, makanannya nggak usah, aku udah makan tadi."


"Baik mbak Fara, tunggu sebentar ya," jawab pelayan tersebut yang kemudian kembali ke belakang.


"Ngomong-ngomong, Farada habis dari mana?" tanya ibu Iin setelah pelayan tersebut pergi. Dilihat gadis yang akan dijodohkan dengan putranya ini memakai model stelan busana kerja.


"Aku habis melakukan wawancara di sebuah hotel bu Iin. Beberapa hari yang lalu aku coba-coba memasuk-kan lamaran yang aku lihat di internet, ehh...ternyata aku dipanggil untuk lakukan wawancara hari ini, doain ya, bu," terang Farada tersenyum manis pada bu Iin.


"Kamu mau kerja? kenapa nggak coba melamar di perusahaan DomTrav? nanti ibu coba bantuin deh bilangin ke Restu. Memangnya basic jurusan kuliah Farada apa sih?"


"Oh, aku basic-nya perhotelan bu Iin...," ucapan Farada terhenti, karna pelayan datang membawakan minuman dan meletakkan di meja. "Trima kasih ya mbak," ucapnya pada pelayan.


"Trus, kalau kamu kerja, siapa yang kelola usaha kafe ini?"


"Ada temanku, namanya Dian yang mengurusnya nanti," jawab Farada sambil menunjukkan pada bu Iin seorang gadis yang berapa di dekat kasir.

__ADS_1


"O gitu...." Bu Iin ikut berpaling kearah yang ditunjukkan dan kemudian manggut-manggut setelahnya dengan sorot mata melihat Farada tak berkedip menilai. Anak ini aktif juga ternyata.


Suasana sore itu cukup teduh. Sepertinya nanti malam hujan akan turun. Terlihat dari perarakan awan yang mulai berkumpul menutupi matahari sore. Sedangkan pria paruh baya yang masih terlihat gagah, dalam mobil mewah itu masih tetap dalam diam-nya memperhatikan interaksi dua orang perempuan beda generasi di dalam kafe dari tempatnya parkir. Ingin rasanya menemui salah satu wanita tersebut. Ya, wanita yang sangat dicintainya dulu, 30 tahun silam.


Tapi, dia merasa belum siap untuk bertemu. Mengapa?...karena perempuan itu pernah di-kecewakannya. Dan, sebuah fakta yang baru diketahuinya, ternyata wanita itu dulu pergi tinggalkan dirinya, tak hanya membawa luka hati, juga membawa jabang bayi dalam perut. Itu anaknya!


Pria paruh baya itu berulang kali menghela nafas beratnya sebelum memutuskan tinggalkan tempat itu.


***


Di Bali


Molan menyerahkan kunci mobil BMW Sport keluaran terbarunya pada valet yang menyambutnya di pelataran lobi hotel resort di kawasan Nusa Dua-Bali. Sambil melangkah menuju lobi, Ia mengangguk sambil melemparkan senyum tipis pada beberapa karyawan hotel yang berbaris menyambut kedatangannya.


Herwanto, orang yang dipercaya oleh tuan Erick untuk mengelola hotel resort di Bali, langsung menghampiri Molan. Dia sudah diberitahu oleh tuan Erick agar membimbing dan mengajari puteranya tersebut yang mulai saat ini dia tempatkan sebagai karyawan biasa disitu, sebelum nantinya menjadi pimpinan.


Pria kepercayaan itu merentangkan tangannya sambil memeluk. "Selamat datang, tuan muda. Bagaimana penerbangannya? lancarkah?" tanyanya dan menepuk pelan kedua bahu Molan.


"Ooh...syukurlah. Ayo, aku antar ke kamar Anda tuan, semua sudah di persiapkan, besok pagi-pagi kita meeting dan perkenalan pada yang lain, karena ada beberapa staf baru disini."


Mereka berdua kemudian berjalan menuju bagian samping hotel yang tembus ke bangunan tempat menginap khusus keluarga.


"Aku disini ditempatkan di bagian apa sebenarnya sih, Om?" tanya Molan mengernyitkan dahi. Ya, dia memang tidak pernah diberitahu posisi apa yang akan dia pegang. Hanya disuruh menemui Herwanto. Awalnya dia menolak perintah papanya untuk bekerja di hotel milik mereka tersebut, cuma bagaimana lagi? Ancaman coret dari kepemilikan aset-aset papanya dua hari yang lalu masih terngiang-ngiang di telinga.


"Nanti saja kita bicarakan, okay? hari ini silahkan tuan muda nikmati dulu suasana disini, istirahat atau jalan-jalan mungkin?" jawab Herwanto sedikit menggoda. Pasalnya, dia mendapat perintah dari tuan besar agar menempatkan Molan di bagian biasa, staf marketing! Jika dia beritahu sekarang, Molan pasti menolak, atau bahkan bisa jadi akan kabur.


"Ck..." Molan berdecit pendek mendengar jawaban Herwanto. "Soalnya papa nggak ngasih tahu aku bekerja sebagai apa disini. Om juga, pake rahasia-rahasia segala!" cicitnya lagi menggerutu pada orang yang telah di anggap Om-nya sendiri, yang merawatnya dari kecil.


Herwanto memperlambat langkahnya dan menoleh ke samping. "Tenang aja, nanti malam aku kesini, kita bicarakan tugas-tugas tuan muda apa saja, gimana?"

__ADS_1


Molan kembali mengangguk. "Ya, sudah kalo gitu."


"Karena semuanya akan berawal dari sini," sambung Herwanto dengan kalimat ambigu.


Molan menghentikan langkahnya, menatap heran ke arah punggung Herwanto yang terus berjalan, "Maksudnya?"


***


Farada membaca email yang dia terima sekitar satu jam yang lalu, cuma baru sempat dia buka. "Yeeéy!..." Teriaknya sambil mengepalkan tangan keatas. Email panggilan wawancara penempatan dari Grand Luxury Hotel.


Ibu Herlina dan pak Handoko serentak menoleh menatap putrinya heran. "Ada apa sih Dek? Teriak-teriak??"


"Aku dapat panggilan ke 2, wawancara penempatan. Tahu nggak Ma...Pa, aku di tempatkan dimana?"


"Ya, mana mama kamu itu tahu Dek, kamu belum ngomong," cetus pak Handoko.


"Aku di tempatkan di Bali, dan kalau aku setuju, besok jam 09.00 pagi aku datang sekaligus tanda tangan kontrak."


"Ehh...nggak ada...nggak ada, nggak boleh!" Bu Herlina langsung berdiri dari duduknya dengan mata melotot.


Ibarat mendengar suara petir yang menggelegar, Farada langsung terdiam, mukanya pucat, terpana tak percaya sang mama bakal menolaknya. Wajah yang tadinya begitu gembira, tiba-tiba murung. Kelopak matanya spontan mengembun.


"Yaahh...Papaa, tolongin adek doongg, ini kan impian adek bekerja di hotel. Dan, ini hotel yang boleh di bilang nomor satu di negara ini" dengan suara lirih Farada memohon bantuan papanya, lalu terisak-isak dengan air mata yang mulai mengalir perlahan.


"Ini impian adek, Ma..." Ulangnya lagi sambil menghentakkan kaki, Farada pergi ke kamarnya.


Pak Handoko menatap punggung putrinya itu, lalu melirik ke istrinya. "Biarkan dia Ma, sudah waktunya dia terbang."


-

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2