
Keesokan harinya, Farada yang tengah bersiap melakukan destinasi terakhirnya tertegun. Sosok Molan keluar dari lobi bersama Tommy dengan langkah sedikit menuju sebuah mobil, di belakang mereka berdua terlihat satu orang karyawan hotel membawa troli berisi tiga buah koper. Tak berselang, di belakang mereka muncul sosok Donna dengan langkah sedikit berlari menyusul.
Mereka sepertinya hendak pergi, batin Farada.
Wajah Molan terlihat datar dan dingin, begitu pun ketika tatapan mereka bertemu. Tak ada reaksi apa pun dari raut Molan walaupun Farada berusaha sedikit memberikan sedikit senyum padanya. Molan hanya menatapnya dalam diam, datar tanpa ekspresi.
Waah..tumben itu dia, masih marah kayaknya , batin Farada.
Molan kemudian masuk ke dalam mobil dan duduk di tengah, kemudian di susul Donna yang masuk dari arah sebelahnya. Sedangkan Tommy mengambil posisi di bagian depan, di sebelah sopir. Pria itu tetap tak menengok ke arah Farada, ketika mobil perlahan beranjak pergi dari situ.
Tissa melirik ke arah Farada lalu menghampiri, "aku dengar selentingan, mereka check out hari ini, di suruh pergi pulang ke Indonesia oleh tuan besar", ujarnya sambil berbisik.
"Oh ya...?", Farada kaget, Ia menebak itu pasti gara - gara kejadian semalam, karena dia. "Ya ampun, pasti gara - gara gue", lanjutnya bergumam pelan, sambil memandang kepergian mobil itu pergi.
"Kenapa..?", tanya Tissa karena dia tak begitu mendengar kalimat yang ucapkan Farada.
Farada terkesiap, "oh..nggak apa - apa!, ayo kita berangkat", Farada pun mengalihkan perhatian Tissa dan masuk ke dalam mobil yang akan membawa mereka ke pusat kota untuk berbelanja. Hari ini hari terakhir Farada berada di Sapporo, karena sore nanti dia juga akan pulang ke Indonesia.
Sementara itu, Molan menghembuskan nafas dengan kasar ketika mobil sudah melaju meninggalkan area hotel. Berpura - pura itu menyusahkan pikirnya. Ia memasang busa di leher dan menyandarkan kepala ke belakang, seolah mau tidur. Padahal tidak!.
Ingatannya justru berputar beberapa hari ini selama di Sapporo, Ia terbayang wajah Farada. Entah kenapa, gadis tersebut menarik perhatiannya. Aroma gadis itu masih tercium di benaknya, waktu dia menyandarkan tubuh gadis itu ke tembok, karena menghindari Donna, dan membawanya pergi naik gondola melihat pesta kembang api.
Ah..Donna!, bicara tentang Donna. Gadis manja yang dalam setahun ini mengejar cintanya tapi entah kenapa pula dia tak pernah bisa. Padahal Donna, aura kecantikannya seluruh laki - laki pasti akan sepakat dengannya. Donna mempunyai semua kriteria tampilan luar yang di idam - idamkan oleh para lelaki.
Tapi entah kenapa, dia tak bisa!
Molan bermonolog dengan pikirannya dalam diam, ketika menyebut nama Donna kembali, Ia melirik gadis yang di sebelahnya. Dan, ternyata Donna sedari tadi dengan intens memperhatikan tingkah laku Molan. Ketika tatapan mereka bertemu, buru - buru kemudian Molan mengalihkan dengan menutup matanya kembali berpura tidur.
__ADS_1
"Kamu kenapa kak?, dari tadi aku lihat diam aja?", kata Donna sambil mengarahkan tubuhnya pada Molan. "Kak..?", tanya nya kembali.
"Apa sih?, nggak kenapa - kenapa!", jawab Molan acuh dan merubah arah pandangannya ke luar jendela, masih dengan mata tertutup.
"Kamu kesel sama aku? atau kamu lagi mikirin gadis itu?".
Molan reflek buka mata dan melirik Donna, hebat dia..dua - dua nya bener! . "Aku nggak mau berdebat sama kamu ya, jadi tolong kamu diam!", jawab Molan dengan muka mengeras.
"Kamu kenapa sih, begitu banget sama aku?..ngomong nggak pernah lembut sama aku?", Donna berkata sambil berusaha menahan air matanya. Batinnya merasa lelah.
"Tau nggak kamu, gara - gara kamu ngomong sama om Hery, papa menyuruh aku pulang?", Molan menjeda sebentar, Ia menegakkan posisi tubuhnya, "ngapain coba kamu pake ngadu - ngadu papa kamu, bilang aku marah sama kamu?, hah?..", lanjutnya dengan nada sewot.
"Karena kamu membela gadis itu!", Donna terpancing amarah.
"Yaa..kan karena kamu emang salah, pake ngelabrak dia, apa urusannya coba pake ngelabrak - ngelabrak!".
"Karena dia menantang aku, dia duluan yang mulai".
Tommy yang sedari tadi hanya diam mendengar pertengkaran tersebut, lalu bersuara, "udah - udah!, ngapain jadi pada ribut?, kita mau pulang ini...nggak baik suasana begini, nanti bisa kenapa - kenapa di jalan", sela nya menengahi.
"Diam lo!", bentak Molan sambil memukul jok sandaran Tommy. Dan, Tommy pun bungkam seketika.
"Donna, aku bilangin sama kamu ya?", lanjut Molan pada Donna, lalu mengatur nafas nya yang terpancing emosi, "aku tau kamu suka sama aku, tapi...cinta itu nggak bisa di paksain, aku nggak bisa, kan sudah berkali - kali aku katakan ini", ujar Molan dan kembali menarik nafas dalam - dalam, "aku nggak pengen kasar - kasar sama kamu, tapi tingkah kamu makin agresif, dan ini udah yang ketiga kalinya loh, kamu melabrak orang gara - gara dekat sama aku. Lama - lama aku nggak punya teman karena kamu seperti itu, jadi....berhentilah!", Molan menatap tajam wajah Donna.
Dan, batin Donna mencelos seketika, Ia menundukkan pandangannya dan air mata sukses mengalir di pipi.
***
__ADS_1
Keesokan harinya...
Farada sudah kembali ke tanah air, Ia sampai di Indonesia pagi ini tepat jam 09.00.
Pak Handoko, Papanya Farada mengetuk pintu setelah tadi mama Farada keluar dari kamarnya. Farada tengah membereskan barangnya dan memisahkan baju - baju untuk kembali di masukan ke lemari pakaian.
"Gimana dek?, disana..enak?", tanya papanya sambil duduk di kursi meja.
"Senang banget pah, makasih ya udah ngijinin adek..", tutur Farada sambil memeluk papanya. Lalu, Farada menceritakan pengalamannya selama tujuh hari di Sapporo. Pak Handoko menyimak celotehan cerita anak bungsunya ini, dan sesekali ikut tersenyum.
Setelah beberapa lama, ketika pak Handoko berdiri di pintu hendak keluar, Ia berujar, "dari tadi papa nyimak cerita kamu, tapi kok papa merasa ada cerita yang nggak kamu sampaikan?", tanya papanya sambil senyum menggoda anaknya itu.
"Hah...?, maksud papa, cerita apaan?", Farada kaget.
"Yaa..nggak tau, misalnya cerita kenalan sama cowok ganteng mungkin, sampe nyasar - nyasar".
"Hah..?", Farada terpana, kok papa tau aku nyasar ya? batinnya sambil matanya tetap menatap wajah papanya tak percaya.
"Hah..hoh..hah..hoh aja kamu, langkah kamu itu udah papa jagain tahu nggak!", jawab sang papa sambil tersenyum lalu menutup pintu kamar.
Farada masih bingung, dari mana papa tau? masa papa kenal sama orang hotel xxx? ah..tapi nggak mungkin kenal, atau...jangan - jangan papa kirim anak buahnya?
Farada lalu geleng - geleng kepala, Ia yakin pasti papanya dapat laporan dari orang yang dia utus buat jagain dia...luv u full papa!
Hari ini dia berniat untuk beristirahat saja, besok pagi dia harus memulai rutinitasnya kembali, dan kembali...bisa melihat pangeran tampan nya di DomTrav.
-
__ADS_1
-
Lanjut