
"Res, boleh Ibu masuk?"
Restu menoleh ke arah pintu ruang kerjanya, ibunya sedang melongok-kan wajahnya setengah. "Silahkan, Bu. Kok Ibu belum tidur?" Restu kemudian merapikan dokumen yang baru saja selesai dia kerjakan.
"Belum," Ibu Soraya masuk dan melirik sekilas ke atas meja kerja anaknya itu lalu berjalan ke sofa, sambil melirik jam di dinding dia berkata, "Udah jam 10 malam kamu masih kerja? Banyak kerjaan kantor yang belum di selesaikan?"
"Iya Bu, soalnya ada beberapa laporan baru dari cabang yang baru masuk hari ini. Kenapa Bu? Ada yang mau di omongin, hm?" ujar Restu sambil berjalan dan duduk di samping ibunya.
"Bukan hal penting sih, cuma...mau tanya, kamu baik-baik aja kan? Ibu liat dua hari ini kamu tidur larut malam terus?" Ibu Soraya kemudian merapikan helai rambut anaknya yang berantakan, "muka kamu juga lelah begini!"
Restu tersenyum, "Sangat baik, Bu! gagal nikah bukan berarti dunia kiamat toh? Udah jalannya seperti itu gimana lagi. Aku kecewa...iya, tapi aku nggak benci sama Farada, kalo itu yang mau Ibu tanyain," Restu menjawab dengan gamblang. Dia sudah tahu maksud Ibunya mendatanginya. Ingin menanyakan masalah dia dengan Farada.
"Sejak kapan anak Ibu ini jadi cenayang, hm? Membaca pikiran orang, walau bukan itu intinya Ibu kesini," Ibu Soraya terkekeh. "Ibu udah dengar semua ceritanya dari Gendis, Bulikmu dan orang tua Farada. Alasan Farada kenapa dia ambil keputusan tersebut."
"Trus, Ibu mau nanyain apa?"
"Bagaimana hubungan kamu dengan Molan?" selidik Ibu Soraya sambil memperhatikan wajah anaknya yang tiba-tiba berubah.
"Ck..." Restu langsung berdecak mendengar nama adiknya itu disebut, dia memutar bola matanya pertanda tak peduli dengan nama itu, "Nggak tau Bu!" Sebisa mungkin dia ingin menghindari obrolan tentang Molan, "Ibu tanya aja langsung ke dia, karena masalah ini sumbernya dari dia!"
"Bukannya...hubungan kamu sempat membaik? Buktinya dia yang mengurus persiapan nikah kamu, kan?"
"Iya, tapi gara-gara dia juga yang bikin Farada membatalkannya, jangan lupakan itu Bu!" cetus Restu menyanggah.
Ibu Soraya menghela napasnya perlahan. Suasana menjadi hening sesaat, lalu...
"Bang, mau nggak kamu dengarkan pinta Ibu yang satu ini?" ujar Soraya dengan sorot mata penuh harap.
Restu tersentak, "Apa itu Bu?"
"Dia adik kamu, walau lain Ibu. Tapi hubungan darah kalian sangat kuat. Keturunan Erick Mahendrata hanya kalian berdua. Apa pun yang terjadi, kalian harus kompak, saling mem-back up. Kamu, posisi sebagai kakak, yang di besarkan oleh Ibu dengan penuh kasih sayang, harus lebih sabar, lebih dewasa menghadapi adikmu yang besarnya tanpa dampingan seorang Ibu. Kasihan dia, Bang!"
Ibu Soraya menarik napasnya kembali, menyusun kalimat untuk menggugah hati anaknya, "Tentang Farada...memang awalnya Ibu sangat ingin kamu menikah dengannya, tapi setelah kondisi seperti sekarang, Ibu setuju dengan Farada yang memilih mundur, karena menjaga marwah kalian beradik-kakak. Kalian terlibat cinta segi tiga, itu berbahaya bagi hubungan kalian bersaudara."
Soraya kemudian menoleh, menjeda kalimat dan menatap manik mata anaknya, "Untuk itu...berdamailah dengan semua yang terjadi." lalu sang Ibu mengusap-usap pundak anaknya sebentar, dan kemudian berdiri. Dia merasa sudah cukup untuk bicara dengan Restu malam ini.
Restu hanya termangu meresapi kata-kata ibunya tanpa menyadari ibunya sudah kembali ke kamarnya.
***
"Restu, tunggu!"
Pria itu menoleh ke belakang, dia menghentikan langkahnya yang hendak pergi ke suatu tempat untuk makan siang dengan seseorang. Dilihatnya Molan berjalan baru keluar dari lift juga seperti hendak pergi.
"Gue mau ngomong sama elo!"
"Ngomong apaan?" Restu mengernyitkan dahi, "gue sedang buru-buru!" ujarnya merubah penyebutan dirinya dengan Molan.
__ADS_1
"Nah, gitu dong! Jangan bahasa formal saya-kamu ama gue." cengir Molan berbasa-basi.
"Ngomong apaan?" ulang Restu tanpa memedulikan guyonan adiknya.
"Lepasin Farada!"
Restu berdecak lidah, hal yang tidak pas menurutnya untuk dibicarakan di lobi kantor yang ramai seperti ini. "Lo...nggak liat tempat kalau ngomong yah? Liat sekeliling elo!" ujar Restu pelan memberi isyarat dengan matanya yang bergerak ke kiri dan kanan, menunjuk pada orang-orang yang cukup ramai lalu lalang di lobi kantor.
Muka Molan mengeras, dia mendekat berdiri sejajar dengan Restu, seolah sama-sama sedang menunggu sopir. "Lo cek handphone, gue udah beberapa kali telpon untuk ketemu tapi nggak lo angkat," ujarnya dengan nada datar.
"Lo menelpon di saat nggak tepat, Molan! Kan bisa datang ke rumah. Tapi, kalo masalah itu yang mau ditanyain,....gue udah nggak ada urusan lagi dengan Farada!" tegas Restu sambil bersiap pergi karena mobilnya sudah datang di bawakan oleh valet kantor.
"Hei! Gue belum selesai!"
"Itu menjadi masalah lo!" ujar Restu dan lalu masuk mobilnya meninggalkan Molan yang geram.
Molan mengepalkan tangan menahan rasa kesalnya karena bukan itu maksud dia meminta Restu untuk melepaskan Farada. Bah! Mustahil dia nggak tahu maksud gue! Pria itu kemudian berjalan cepat menuju area parkir tanpa hiraukan beberapa pasang yang melihat dua petinggi perusahaan mereka bicara beradu urat leher tadi.
Sementara di sisi lain, Restu melajukan kendaraannya dengan cepat menuju sebuah kafe di bilangan Senayan, tempat yang sudah di sepakati dengan seseorang. Ck! Lepasin Farada? dia tertawa miris. Walau dia agak bingung dengan kalimat Molan ngomong begitu, tapi dia coba meraba maksudnya, sedikitnya dia mengerti, bahwa Molan menginginkan Farada.
Beberapa menit kemudian Restu sampai di tempat yang di tuju. Sebuah kafe dengan view terbuka. Disana telah menunggu seorang wanita berpakaian kerja.
"Maaf, lama menunggu, tadi sedikit telat keluar dari kantor," ujar Restu sambil menarik sebuah kursi dan duduk di hadapan wanita tersebut.
Wanita itu membetulkan posisi duduknya, "Oh nggak apa-apa Res, aku juga baru sampai kok," kemudian menjentikan jarinya memanggil pelayan kafe, "aku udah pesan minum duluan, kamu mau minum apa?" tanyanya.
Pelayan yang baru datang kemudian mencatat minuman dan berikut makanan yang di pesan, dan pergi setelah memastikan tidak ada lagi yang di inginkan Restu dan wanita itu.
"Sori Res...aku turut prihatin dengan batalnya pernikahan kamu, sebenarnya ada masalah apa sih?"
Restu mengibaskan tangannya, seolah itu bukan masalah besar baginya. "Nggak ada masalah sebenarnya, itu keputusan Farada, dia melibatkan hati lain."
Wanita itu menatap serius, "Maksud kamu? Farada mencintai yang lain?"
Restu mengangguk, "Iya, dan itu adikku sendiri."
Kemudian Restu menceritakan kronologi kejadian dari awal sampai batalnya pernikahannya tersebut, sampai bagaimana perseteruannya dengan Molan.
"Ya, aku terima keputusan Farada itu sih. Cuma...aku kecewa aja, dan cincin itu nggak aku terima," tutur Restu mengakhiri ceritanya.
Wanita itu manggut-manggut menyimaknya. "Hmm...aku udah menebak dari awal kalau Molan itu menyukai Farada. Ingat? Waktu malam-malam kita di bulungan kamu hampir berantem dengan dia, dimalam Tuan Erick kolaps?"
Restu menerawang mengingat, lalu mengangguk.
"Tapi, kalau aku liat, Molan sebenarnya udah rela loh! Dengan ikut andil menyiapkan pesta kamu itu," sambung wanita itu kembali.
"Iya, tapi justru itu yang makin membuat Farada nggak tega dan bulat ambil keputusan batal, apa lagi dia setelah itu dia mendengar Molan pergi ke Karibia."
__ADS_1
"Ser_"
Omongan wanita itu terputus, ketika tiba-tiba seseorang datang dan menyela pembicaraan mereka.
"Halo Tha-tha, ternyata kamu disini? pantas tadi aku ajak makan siang kamu bilang nggak bisa!"
"Mas...?"
Restu mendongak ke samping, dia terkejut melihat siapa yang datang.
"Bimo...?"
"Halo Pak Restu, apa kabar? Udah lama nggak ketemu sejak keluar dari DomTrav," Pria yang ternyata Bimo tersebut kemudian langsung mengambil duduk di antara Restu dan wanita itu.
Wanita yang ternyata Samantha itu menjadi grogi. Dia merasa tak enak hati, Restu melihat Bimo begitu tajam. Dan kagetnya, ternyata dua pria ini saling mengenal.
Restu awalnya biasa melihat Bimo tiba-tiba muncul, tapi dia menjadi tidak suka ketika Bimo dengan lancang mengambil tempat duduk dekat Samantha.
"Kamu...ngapain disini?" tanya Restu dengan nada tidak suka.
"Wah...wah! Ternyata Pak Restu masih galak seperti di DomTrav nih, ingat Pak, kita tidak satu bendera lagi, jangan galak-galak lah!"
"Mas...!" bentak Samantha ke Bimo, dia merasakan ada sesuatu diantara mereka berdua, "kamu, kenapa sih?"
Restu justru terperangah mendengar Samantha memanggil Bimo dengan sebutan itu.
Restu mengibaskan tangannya pada Samantha, agar diam.
"Kamu...ada masalah apa sama saya, hm?" tanya Restu dingin, muka mengeras.
Bimo menyondongkan badannya ke arah Restu, "Dulu saya mendekati Farada, tau apa selanjutnya? Pak Restu ingin menikahinya, dan saya mengalah," dia menjeda kalimatnya, menoleh pada Samantha, "sekarang, setelah gagal, Pak Restu juga mendekati Samantha...pacar saya? Kali ini, saya tak akan mengalah!" ujarnya tajam. Dia mengibarkan bendera peperangan.
Restu makin terkejut, ini bukan Bimo yang gue kenal! batinnya. Dia memandang Bimo dan Samantha bergantian, "Kalian....? Kenal dimana? Ingat Bim...saya tahu reputasi kamu!" telunjuknya terangkat mengarah ke Bimo. Dia tiba-tiba merasa tidak rela Samantha menjadi korban Bimo nantinya.
"Pak Restu! Hati-hati kalau bicara! Dulu kita atasan dan bawahan, mungkin saya bisa mengalah Tapi...jangan harap sekarang saya takut! Kalau Anda macem-macem? Saya akan buat perhitungan, apapun caranya, paham!" ancam Bimo menepis jari Restu, "Ayo...kita pergi!" ujarnya sambil menarik tangan Samantha.
"Mas...! Apa-apaan sih!" Samantha menolak.
Restu pun menepis tangan Bimo yang sedang menarik tangan Samantha.
Tiba-tiba....
Buggh!
Bimo melepaskan pukulan ke perut Restu. Pria itu langsung terjajar ke belakang hampir jatuh untung tertahan oleh sebuah kursi.
"Mas..!!!" Samantha berteriak membentak Bimo, tapi tak di gubris. Bimo masih berniat menghajar Restu tapi dihalangi oleh beberapa orang termasuk sekuriti memisahkan mereka.
__ADS_1
Samantha menangis!