Cinta Harus Memilih

Cinta Harus Memilih
Tom & Jerry


__ADS_3

"Yaudah, sekarang kamu mau ngomong apa?" desak Farada bernada ketus, setelah berhasil mendorong tubuh Molan kembali ke sofa.


"Disini nggak ada minuman dingin?" tanya Molan tanpa hiraukan pertanyaan Farada, kemudian matanya tertuju pada kulkas kecil di pojok kamar.


"Aishhh..." Farada berjalan membuka kulkas yang mana dia sendiri pun belum pernah mengambil isinya. Karena pasti masuk ke dalam tagihan akhir bulan. Potong gaji! walau karyawan mendapat potongan hingga 70 persen, tapi tetap berpengaruh pada pendapatan bukan?


"Tenang aja, nanti bill-nya biar semua masuk ke tagihan aku," ucap Molan seolah membaca pikiran Farada.


"Ih...ngapain? Nggak usah!" ketus Farada menolak dan menyerahkan satu buah minuman kaleng.


Molan menerima minuman sambil melirik Farada yang tetap berdiri sambil berpangku tangan.


"Cepetan, mau ngomong apa sih? aku mau tidur, besok pagi-pagi sudah harus siap-siap, aku nggak mau di hari pertama kerja udah dapat penilaian yang jelek!'


"Cerewetnyaa...duduk dulu, nggak enak ngobrolnya kalau kamunya berdiri gitu," lalu Molan membuka minuman kaleng dan meminumnya sedikit, "seperti suami sedang di introgasi ketahuan selingkuh ha...ha...ha"


"Dih!!..nggak lucu," timpal Farada kesal, tapi dia akhirnya duduk juga dengan gerakan malas.


"Kamu kok bisa tiba-tiba bekerja di hotel ini?" tanya Molan mulai membuka topik pembicaraan.


"Ya bisalah!, kenapa memangnya?"


Molan garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal mendengar jawaban ketus gadis di depannya ini. "Kamu jangan galak-galak, seolah aku ini musuh kamu, kita partner kerja loh! akan selalu bertemu tiap hari."


Farada tertegun, ucapan Molan ada benarnya, tapi bagaimana tidak kesal kalau ingat kejadian di Sapporo, si Molan ini dengan tidak sopan telah menyentuh bibirnya untuk pertama kali pemirsah!


Farada lalu memejamkan mata sejenak untuk mengatur emosinya, "Aku melamar kerja nggak cuma di hotel ini aja, banyak...cuma hotel Luxury ini yang respon lebih dulu, dan kebetulan penempatannya di Bali, itu impian aku dari dulu."


"Tanggapan orang tua kamu...mereka kasih ijin?"


Farada mengangguk, "Mereka kasih ijin, kalau nggak mana berani aku kesini."


"Kalau pacar kamu? kasih ijin?"


"Hah...? Pacar?" Farada menautkan alisnya, "aku belum punya pacar," sambung Farada selanjutnya. Ah..ya, apa kabarnya mas Restu ya? udah bisa dibilang pacar atau baru calon ya?, soalnya mas Restu belum ngomong, tapi kok sampai sekarang belum ngabarin aku?, apa masih kesal gara-gara aku terima tawaran kerja di Bali ini?

__ADS_1


"Yee...malah bengong!...Itu, yang datang bersama kamu waktu acara wedding tempo hari di Dharmawangsa."


Farada terkesiap dari pikirannya yang menerawang ke Jakarta, "Oh, mas Restu. Dia baru calon pacar dan mungkin nanti jadi calon suami hihi," Farada menjawab dengan bangganya, yang tanpa dia perhatikan perubahan wajah pria yang di depannya ini, berubah cerah dengan sudut bibir terangkat.


Hmm..baru calon!, belum taken!


"Berar.."


Pembicaraan jadi terhenti, Farada mengangkat tangannya ketika ponsel berbunyi. Ada panggilan dari mamanya.


"Maaf mama aku telpon, udah dulu ya..." imbuh Farada pelan dan telunjuknya terangkat ke bibir memberi isyarat agar Molan jangan bersuara.


Molan menangkap maksud Farada, dia pun pakai isyarat untuk pergi dari situ dengan perlahan.


***


Seminggu berlalu sudah semenjak Farada mulai bekerja di Luxury Resort Bali ini. Dia mulai mengerti seluk beluk cara kerja marketing perhotelan. Harap maklum, ini kerja perdananya di bidang yang sesuai dengan basic pendidikannya. Walau nggak pas-pas amat karena background-nya F&B bukan? Jadi, butuh adaptasi yang terbilang lambat, walau hanya satu minggu.


Farada menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Hari ini cukup melelahkan baginya yang masih kategori junior sales. Seharian tadi berkutat di depan komputer untuk mengirimkan email penawaran kerjasama ke beberapa instansi pemerintah maupun swasta dan menghubungi beberapa klien. Mereka mempunyai beberapa ballroom yang cukup besar untuk dipakai acara seminar-seminar atau resepsi pernikahan.


Ngomong-ngomong tentang seminar, apa mas Restu ikut nggak yah? coba aku tanya ah...


Farada bangkit dan merogoh tas mengambil ponsel. Tapi wajahnya berubah sendu. Pria yang di sukainya itu tidak pernah mau mengangkat telponnya. Beberapa kali dia pernah coba hubungi tak di angkat. Baru keesokan harinya masuk pesan singkat, Semalam saya sudah tidur atau di lain hari, semalam saya masih ada rapat dengan klien...tapi tak pernah menghubungi balik! Apa tipenya kalau marah bisa berhari-hari?


Sejenak dia ragu, apa aku coba tanya Ibu Iin yah?...


Bunyi bel kamar membuat Farada mengurungkan niatnya menelpon ibu Iin. Dia cepat-cepat mematikan lampu kamarnya. Astaga! itu pasti Molan si tuan muda brengs*k yang datang untuk mengganggunya. Lebih baik dia pura-pura tidur sajalah!


Tapi kali ini bunyi belnya berulang kali, mau tak mau dia bangun untuk mengintip siapa yang bertamu di waktu istirahatnya.


Eh...bukan si Molan! sepertinya dia kenal, seorang wanita kok ini.


"Faradaaa...!" seseorang tiba-tiba menubruknya ketika pintu terbuka. Tubuh Farada terdorong ke belakang,


"Tissaa...??" Farada menangkup wajah perempuan yang memeluknya. Ya...memang Tissa Baskoro, "Tissa? kamu apa kabarnya?, kok tiba-tiba bisa disini, bukannya kamu di Jepang?" Wajah Farada sumringah ceria dengan kedatangan temannya yang bekerja di cabang Sapporo Jepang tersebut.

__ADS_1


"Aku di pindahkan kesini, lima hari yang lalu tapi baru aktif bekerja mulai besok. Daaan...? baru aja aku tahu satu jam yang lalu kalau ternyata kamu juga bekerja di hotel ini....wuihhh, senengnya aku! Kita satu divisi loh!" celoteh Tissa menepuk tangan Farada pelan.


"Kamu tahu dari siapa, Sa..?"


"Aku!"


Farada menoleh ke arah pintu ke sumber suara, "Hah? sejak kapan kamu disitu?"


"Sejak tadi lah!...kalian ini, para cewek kalau sudah bertemu berdua, kalau sudah ngerumpi, lupa sama yang lain!" sungut Molan melangkah masuk dan langsung menuju kulkas kecil, mengambil minuman dan coklat.


"Karena yang ketiga itu set*n!" jawab Farada dengan sewot.


"Kamu itu ya...aku ini leader kamu loh! sekali lagi aku ingatkan"


Farada mencebik, "ini bukan jam kerja, aku juga mengingatkan, tuan...muda!" ketusnya mengejek.


Tissa geleng-geleng kepala, "Sudah..sudah, nggak di Jepang...nggak di Indonesia, kalian selalu ribut deh, ntar jodoh loh!" ucap Tissa menengahi.


"Astagaa...amit-amit!" Farada spontan mengetuk meja tiga kali.


"Amiiinn!" Molan menangkup jari kemuka, meng-amini, seolah selesai berdo'a kepada Tuhan.


"Dih!" Farada mengedik-kan bahu.


Tissa tertawa melihat interaksi dua orang yang seperti Tom&Jerry ini, "tadi itu aku dikasih tahu sama tuan muda Molan, kalau kamu bergabung kerja di hotel ini, dan menunjukan kamar kamu, eh ternyata kamar kita berdekatan, aku tiga ruangan jaraknya dari sini." Terang Tissa mencairkan suasana.


"Oh ya?...berarti tiap malam kita bisa ngerumpi dong?" cengir Farada kemudian, yang disambut gelak tawa Tissa sambil mengangguk.


"Baidewei, kamu gimana ceritanya kok sampai bisa kerja di hotel?, bukannya kamu punya usaha kafe dan katering, yah? dulu kamu pernah cerita, kalau nggak salah."


Farada mengubah posisi duduknya menghadap Tissa di sofa panjang tersebut, lalu mengalir cerita dari awal bagaimana akhirnya dia mengambil keputusan untuk melamar kerja di hotel.


Hampir dua jam lamanya mereka ngobrol tanpa mereka sadari di seberang mereka, seorang pria tertidur sambil duduk di sofa single.


-

__ADS_1


-


__ADS_2