Cinta Harus Memilih

Cinta Harus Memilih
Molan Yang Kecewa


__ADS_3

Di Theater...


Baru sepuluh menit menikmati suguhan theater, ponsel Tissa tiba - tiba berdering, chief nya di klub hotel menghubunginya bahwa ada meeting mendadak yang harus dilakukan malam itu juga, waktunya tiga puluh menit lagi, dan itu butuh Tissa sebagai salah satu pimpinan di klub. Esok hari ada rombongan petinggi kota akan menginap di hotel mereka tersebut.


"Fara, maaf banget, kayaknya aku harus balik ke hotel sekarang. Ada rapat mendadak malam ini juga, urgent soalnya", kata Tissa merasa tak hati dan Ia menawarkan pada Farada untuk ikut kembali ke hotel atau kalau Farada masih ingin menikmati tontonan, dia akan menjemput kembali nanti setelah Farada selesai.


Farada masih ingin disitu, karena penyanyi favoritnya sebentar lagi akan tampil, setelah drama kolosal Jepang yang sedang dia tonton ini.


"Nggak apa - apa deh, aku disini aja dulu, soalnya tanggung, sebentar lagi Ayumi Hamasaki mau tampil, dia idolaku", ujarnya menyebut nama salah satu penyanyi wanita Jepang yang berpengaruh di negeri itu.


"Oh, ya udah deh kalo gitu, nanti kalo sudah mendekati selesai, kamu kabari aku ya, biar aku jemput atau aku suruh pihak klub menjemputnya" Tissa pun kemudian berdiri bersiap pergi.


"Oke, nanti aku kabari ya", Farada melambaikan tangannya, lalu kembali serius menonton drama kolosal yang sebenarnya dia tak begitu mengerti dialog nya, tapi dia cukup mengerti alur cerita drama tersebut.


***


Ketika sampai di hotel, Tissa langsung di cegat oleh Molan yang sepertinya tengah bersiap pergi.


"Eh..kamu, siapa nama kamu?", ucapnya sambil menarik lengan Tissa ke pinggir.


"Oh tuan muda, nama saya Tissa tuan muda", ujar Tissa yang awalnya kaget karena tiba - tiba di cegat, tapi begitu tahu siapa pria itu langsung membungkuk hormat.


"Teman kamu tadi mana?".


"Ada di theater tuan muda, maaf tuan, saya harus buru - buru, sebentar lagi ada rapat di klub", jawab Tissa sambil melirik jam tangannya, Ia tak punya waktu banyak untuk bertanya ini-itu pada tuan mudanya ini.


"Tunggu dulu, di theater mana?", Molan kembali menahan lengan gadis itu.


Tissa lalu memberikan sebuah brosur bulat kecil pada Molan, lalu pamit pergi dengan sedikit berlari menuju ruangan meeting klub.

__ADS_1


Molan memperhatikan brosur di tangannya, Ia tersenyum simpul lalu menyuruh valet untuk mengambil mobilnya.


Beberapa menit kemudian, mobil nya sampai di lobi dan Molan langsung tancap gas menuju theater.


Hanya butuh tiga puluh menit bagi Molan untuk sampai di mall kecil tempat lokasi theater tersebut berada. Setelah bertanya pada seseorang, Ia kemudian melihat sebuah aula besar yang bertuliskan theater dan umbul - umbul disitu. Nah ini dia tempatnya!


Tak lupa Ia membeli tiket, dan segera masuk. Cukup lama bagi Molan berkeliling di tengah keramaian penonton untuk mencari seorang Farada. Agak kesulitan memang, karena lampu aula dimatikan dan hanya lampu sorot yang mengarah ke panggung yang menyala. Menyorot penyanyi Ayumi Hamasaki.


Lalu, tatapannya tertuju pada seorang gadis yang sedang di dekati oleh seorang pria.


Ahh ya..itu dia! tapi siapa itu yang dekat dia?


Molan mendekati dengan perlahan untuk memastikannya. Benar! batinnya, wajahnya berubah seketika, Farada ternyata sedang di rayu oleh pria tersebut.


Molan memperhatikan sejenak, Ia melihat reaksi gadis itu sejenak. Terlihat Farada berusaha menghindar dan menepis tangan pria Jepang tersebut, tanda tak sudi di dekati. Tapi, pria Jepang itu memaksa, dan mulai dengan tingkah nakal menggoda Farada.


Molan langsung bereaksi, Ia menarik kerah pria tersebut dari belakang dan menghantam perutnya. Pria itu langsung mengaduh kesakitan, pukulan yang tak begitu keras di lepaskannya tapi karena Molan cukup ahli dalam bela diri, pukulannya tersebut mampu membuat lelaki penggoda itu tersungkur dengan tertunduk di antara kursi penonton.


Hanya Farada yang terbelalak matanya, tadinya Ia bersyukur dalam hati karena tiba - tiba ada yang menolongnya, namun mukanya berubah, dia lagi ? batinnya tanpa mengucapkan terima kasih.


Molan langsung menarik tangan Farada keluar dengan sedikit memaksa.


"Lepasin!", Farada lalu memukul lengan Molan yang menyeretnya pergi itu. Setelah sampai di luar, Molan baru melepaskan cengkraman tangannya. "Kamu itu, bukannya berterima kasih malah marah, gimana sih!", omel Molan bertolak pinggang.


"Tangan saya sakit kamu tarik, tau nggak!", ujar Farada tak kalah garangnya.


"Sakitan mana nanti kalo kamu di apa - apain sama orang Jepang tadi, trus aku nggak ada, hah?", mata Molan mendelik.


"Ayo balik ke hotel!", ajak Molan ingin meraih tangan Farada, tapi kembali gadis itu menepisnya, "nggak mau, saya belum selesai nonton konser", Farada lalu berniat pergi, tapi kemudian di halangi oleh Molan.

__ADS_1


Tiba - tiba Farada dari kejauhan melihat pak Erick sedang berjalan baru keluar dari lift. Seperti ingin menuju arah ruangan theater. Papa Molan tersebut di temani oleh seorang asisten pribadinya.


Farada terbersit sebuah ide..."Nanti kalo saya adukan perlakuan kamu sama papa kamu, gimana? hayo, kamu menghalangi seorang tamu hotel menonton acara konser".


Molan berdecit, Ia heran dengan gadis di depannya ini, "ckk..kamu ini bener - bener ya?, bukannya berterima kasih di tolongin", ujarnya sambil geleng-geleng kepala, "aduin sana kalo bisa!".


Posisi Molan yang membelakangi, tak menyadari bahwa papanya sudah mendekat. Farada melambaikan tangannya pada pria berumur namun masih terlihat gagah itu, "tolong!, saya di ganggu sama orang ini!", ucapnya sambil berusaha lari dari kungkungan Molan.


Pak Erick terperanjat ketika Molan berbalik badan yang sambil tersenyum mengejek pada Farada. Molan pun kaget melihat papanya dan tak menyangka ternyata Farada benar - benar bertindak seperti orang yang teraniaya.


"Molan !!!...", bentak pak Erick dengan mata membesar. Ini hal yang memalukan baginya.


Molan dengan tampang kecewa dengan cepat meraih tangan Farada, lalu merogoh kantong dan memasangkan sebuah cincin ke jari manis Farada dengan sedikit agak kasar.


"Aku hanya mau mengembalikan cincin kamu yang jatuh sebelum naik taksi tadi", katanya sambil menatap datar Farada, Ia kecewa dengan gadis itu. Dan, kemudian dia pergi meninggalkan area tersebut.


"Molan !", teriak papanya, tapi Molan tak menggubrisnya, Ia tetap berlalu dari situ.


Dan, Farada pun menatap nanar punggung Molan, Ia merasa bersalah.


***


Malam itu juga, kembali Molan harus tertunduk di hadapan papanya. Ya, kali ini sang papa meng-ultimatum Molan bahwa besok dia harus meninggalkan Sapporo, harus kembali ke tanah air.


Sedangkan Farada sendiri, setelah kejadian tadi dia kembali ke hotel dengan pak Erick, tentunya setelah dia menjelaskan bahwa dirinya adalah tamu hotel di milik pak Erick tersebut. Dia hanya menunduk di ranjang hotel, merasa bersalah terhadap Molan, yang telah membantunya, juga...sebenarnya bersikap baik untuk mengembalikan cincinnya.


Ia bertekad, esok mau meminta maaf pada pria tersebut.


-

__ADS_1


-


Lanjut


__ADS_2