
Farada berdiri bersidekap tangan sambil melepaskan pandangannya ke laut lepas. Pikiran berkecamuk, dadanya begitu sesak. Dan sesekali menyeka air mata di pipi yang tak bisa ditahannya lagi. Inilah kejutan manis yang teramat manis yang diberikan Restu, beberapa menit yang lalu hingga air matanya makin menetes jatuh.
Aku mengajak kamu kesini, karena ada satu hal yang mau di sampaikan...
Ya, kalimat pembuka dari Restu yang di sampaikan dengan wajah dingin tadi sudah mengawali ketegangannya untuk mendengarkan kalimat selanjutnya. AC Kafe yang terbilang tak jauh dari hotel tempat Restu ajak bertemu tak mampu mendinginkan suasana hatinya.
"Aku mau kembali ke Jakarta sore ini, flight jam 16.00. Dan..." pria itu menjeda kalimat sebentar, "...Saya pikir, sebaiknya pendekatan kita ini, kita sudahi saja!"
Hening!
Farada mendongak melihat wajah pria yang duduk berseberangan dengan dia itu. Ingin bertanya...kenapa? tapi kerongkongannya seperti tercekat. Tak mampu mengeluarkan kata-kata. Lebih baik mendengarkan saja.
Pun, musik instrumen dari kafe makin membuat suasana hati Farada mencelos.
"Saya lihat, kamu disini sudah menemukan duniamu. Laki-laki yang di panggil tuan muda itu pun dapat membuat kamu tersenyum! Kamu terlihat begitu bahagia dengannya, jadi tak ada gunanya juga kita membuang waktu untuk meneruskannya, bukan?"
Farada tetap tak bereaksi, sebenarnya Ia ingin menerangkan dan membantah menyangkut Molan, tapi mulutnya terkunci. Toh, tak ada gunanya juga. Pria itu sudah mengambil keputusan tanpa bertanya padanya. Ngomong soal Molan, ingin rasanya memukul kepala lelaki itu, tapi sayang dia tak ada disini.
"Kenapa kamu diam aja?" tanya Restu mengernyitkan dahi karena gadis itu dari tadi hanya menunduk tanpa ada bantahan.
"Aku ikut maunya kamu aja, mas..."
Restu menghela napasnya dan menarik posisi duduknya kebelakang. Ada sedikit rasa kecewa, bukan jawaban itu yang di inginkannya.
Hening kembali!
Setelah di rasa tak ada lagi yang perlu di bicarakan, Restu melirik jam tangannya dan bersiap pergi menuju bandara "Ya sudah kalau begitu, saya harus segera berangkat."
Farada tersentak dari lamunannya. Buru-buru Ia hapus air matanya dan menoleh. Sebuah tangan mengelus punggung dan kemudian merangkul bahunya. Tissa!
"Fara...kamu kenapa?" tanya Tissa lembut.
Farada gelengkan kepalanya dan tersenyum pada sahabatnya itu. "Oh, aku nggak kenapa-kenapa kok, Sa..." lirih gadis itu.
Tissa tak percaya begitu saja, "Tuan muda Molan menyakiti kamu lagi?"
"Bukan Sa, ini bukan tentang Molan, ini masalah lain." Cerita mengalir begitu saja dari mulut Farada. Entah kenapa, dari pertama bertemu, dia merasa nyaman dengan teman yang baru di kenalnya ini.
__ADS_1
"Tuh, benarkan? pasti ada apa-apa. Aku pikir karena tuan muda, kejadian yang kemarin itu," timpal Tissa sambil merapikan rambutnya yang berantakan di terpa angin, "nggak mau cerita? aku siap jadi pendengar yang baik kok Fara...terkadang, dengan berbagi dapat mengurangi beban lho," ujar Tissa tanpa menoleh, pandangannya tetap lurus ke laut lepas.
Farada pun ikut merapikan rambutnya, menguncir dengan karet gelang yang selalu di siapkannya. Menghela napas sebentar, dia pikir omongan Tissa ada benarnya, "Sebenarnya, ini ada menyangkut dengan Molan juga sih, kalau bukan gara-gara dia, mungkin nggak di putus oleh calon aku..."
"Calon?, maksudnya...kamu punya pacar?"
"Aku pernah cerita nggak sih sama kamu sebelumnya?" Farada mencoba mengingat waktu di Jepang.
"Belum pernah kayaknya"
"Gimana ngomongnya yah?, bukan pacar sih tapi...?" Farada bingung bagaimana jelaskan status hubungannya dengan Restu pada Tissa, "Gini deh...aku di jodohkan dengan seorang pria bernama Restu oleh kolaborasi mamaku, tantenya dan ibunya Restu. Awalnya aku menolak, dan sempat kabur ke Jepang...yang waktu itu ketemu sama kamu, di Sapporo, ingat, kan?"
"Oh i see...tapi, bukannya kamu ke Jepang itu karena menang undian tiket ya? Waktu itu kamu pernah cerita." sahut Tissa cepat. Memorinya langsung berputar mengingat kejadian di Sapporo tersebut.
"Iya bener. Itu berbarengan dengan rencana pertemuan mas Restu. Aku lebih memilih berangkat ke Jepang, dan batalin ketemuan..." Farada menjeda kalimatnya, Ia tertawa miris, "lucunya, ternyata pria yang di jodohkan mamaku itu, cowok yang aku suka. Mamaku nggak bilang kalau namanya Restu di awal."
Farada berhenti sejenak, Ia menoleh ke belakang. Kakinya mulai terasa pegal karena berdiri terlalu lama, di tambah angin makin kencang membuat rambutnya yang di kuncir jadi awur-awuran kembali, "Kita duduk disana yuk!" ujarnya sambil berjalan ke kursi panjang di dekat barisan pohon kelapa. Tissa pun mengikuti.
"Nah...terus? ada apa dengan kejadian setelah itu?" Tanya Tissa mulai membuka percakapan setelah mereka duduk.
Tissa menoleh menunggu kalimat lanjutan, menghadap Farada yang terdiam. "Dia, kenapa?"
"Mas Restu itu nggak setuju aku kerja di Bali ini...di hotel ini. Dan, dia juga nggak suka aku dekat-dekat dengan Molan, sepertinya."
"Loh, dia kenal sama Molan?"
Farada mengangguk, "Siapa yang nggak kenal dengan Molan?, apa lagi brengs*k nya dia!"
"Tunggu...jangan kamu bilang Restu itu yang jadi pembicara di seminar kemarin, General Manager DomTrav terkenal itu!" Tissa mengurai cerita Farada, dan dia menghubungkannya dengan kejadian tempo hari.
Farada tersenyum tipis, "Iya, benar!"
"Owalaaa!..pantesan kemarin dia seperti mengejar seseorang dan hampir menabrak aku, pas setelah kita berpapasan waktu kamu di tarik sama tuan muda itu loh!'
"Hah?...serius Sa?" Mata Farada membulat. Ini fakta baru yang dia ketahui, dan dia baru mengerti, mengapa Restu tiba-tiba berubah sikap.
Tissa mengangguk, "Beneran, serius! Dan, aku...."
__ADS_1
"Dan aku cari-cari, ternyata kalian disini!'
"Hah?" Tissa dan Farada spontan teriak kaget. Ya Tuhan...
Plak!
"Astaga!...orang ini," seru Farada sembari reflek mencubit lengan seseorang yang baru datang dengan tiba-tiba.
***
"Aduh!..." Molan meringis kesakitan sambil mengusap-usap tangannya. Cubitan halus Farada kali ini sangat bertenaga, meninggalkan jejak yang perlahan membiru di bawah lengan.
Farada tak hiraukan muka memelas Molan yang menahan sakit, gadis itu langsung berbalik badan dan pergi meninggalkan dua orang itu dengan mimik menahan amarah. Sedangkan Molan yang tak tahu ada apa tadinya, menatap bingung dan menoleh pada Tissa yang masih berdiri disitu.
"Kenapa sih dia?"
"Aku nggak tau apa-apa Tuan Muda," jawab Tissa dengan sedikit grogi bercampur takut. Gadis itu ingin buru-buru pergi menyusul Farada.
"Hei...Tissa, kamu mau kemana?, sini dulu, ikut-ikutan mau kabur aja," Molan mengomel sembari melayangkan tatapan intimidasi, "kamu mau di kirim lagi ke Jepang?"
Tissa gelengkan kepala cepat, "Jangan Tuan Muda."
"Kalau gitu, jawab...Farada kenapa?"
Tissa mau tak mau akhirnya bercerita juga. Dari pada dia di kirim kembali ke Jepang bukan? dia masih ingin bekerja di hotel ini. Di samping salary-nya memang di atas rata-rata, hingga perekonomian keluarganya jadi terangkat, juga kalau bekerja di hotel ini sangat kekeluargaan, walau profesionalisme tetap di atas segalanya. Ia nyaman bekerja di grup Luxury ini.
Sedangkan Molan sendiri adalah orang yang tidak bisa dibantah oleh siapa-pun. Tuan muda itu sangat berkuasa, sekalipun papanya , tak mampu mengendalikannya. Hanya dengan Herwanto, dia sedikit menurut.
"Lagi??" Ujar Molan geram. Dengan kening mengkerut, Molan menaikkan intonasinya. Dia heran setelah Tissa cerita secara garis besar apa yang di alami Farada tadi.
"Terus...sekarang Farada di putusin laki-laki itu dan dia marah sama saya?..."
Tissa mengangguk, "Dan, Farada itu sekarang lagi bersedih, Tuan Muda..."
-
Bersambung
__ADS_1