Cinta Harus Memilih

Cinta Harus Memilih
Bali Dream-Land


__ADS_3

Jangan di pikir Molan akan menerima begitu saja job-desc yang disampaikan oleh Herwanto padanya. Tidak! tumpukan file diatas meja yang seharusnya dipelajari, hanya dilirik tanpa dia sentuh. Dia hanya duduk bertopang dagu, pulpen diketuk-ketuk ke meja, tanda dia sedang memikirkan hal lain.


Satu jam yang lalu, Herwanto begitu sabar memberi arahan pada Molan berbagai hal, lingkup pekerjaan yang dilakoninya.Tuan muda itu hanya diam duduk bersandar dikursi, sesekali melirik kearah Herwanto, tapi lebih banyak memainkan gadget-nya.


"Tuan muda mengerti dengan apa yang saya sampaikan?" tanya Herwanto setelah menjelaskan panjang kali lebar permasalahan dan kondisi hotel.


Molan meletakan ponselnya di meja, "Mengertilah...memangnya saya bodoh!" ketus Molan dengan muka cemberut.


Herwanto tersenyum tipis, lalu bangkit dan menghampiri Molan yang masih dalam posisi duduk. Dia memahami sifat pria muda di depannya itu. Pria yang sedari kecil dia rawat, sudah seperti anak baginya, walau dia sendiri tak ada pertalian darah dengan tuan Erick Mahendra.


"Kalau begitu, selamat bekerja tuan muda, kalau ada kesulitan kabari Om ya," ucapnya sambil menepuk bahu Molan beberapa kali dan pergi keluar dari ruangan Molan tanpa menunggu jawaban.


"Aishh...." dengus pria yang di sapa tuan muda itu.


***


Farada melangkah turun dari taksi bandara I Gusti Ngurah Rai tepat pukul 13.00 siang. Gadis itu menatap sejenak mewahnya resort tempat dia bekerja ini. Wajah sumringah terlihat jelas. Bekerja di Bali merupakan impiannya. Tiga hari yang lalu, gadis cantik ini telah menanda-tangani kontrak kerja di kantor pusat Jakarta. Ijin bekerja di Bali sudah dia kantongi setelah papanya memberi pengertian pada sang mama, yang awalnya sangat menentang.


"Maaf pak..."Farada menghampiri seorang sekuriti hotel pakai baju hitam-hitam.


"Ya mbak? ada yang perlu saya bantu?" jawab sekuriti dengan sopan.


"Saya mau tanya bagian personalia, dimana ya?"


"Silahkan lewat pintu samping yang dekat reservasi itu, nanti belok kiri tembus keluar, nah...itu jalan penghubung menuju kantor personalia," jawab sekuriti tersebut sambil mengarahkan tangannya ke arah reservasi.


"Oh, baik pak, terima kasih informasinya, saya permisi." Farada mengangguk hormat dan langsung melangkah ke arah yang di tunjukan sekuriti tadi.


Tidak sulit bagi Farada untuk menemukan ruang personalia yang dituju. Melirik sebentar ke atas untuk memastikan, ada tulisan Human Resource Departement, gadis itu kemudian masuk dan menemui resepsionis dan menunjukan amplop yang ada logo hotel untuk bertemu dengan manager personalia.


"Baik, di tunggu sebentar bu,"


Farada anggukan kepala lalu mengambil tempat duduk di sofa. Sambil menunggu panggilan bertemu, gadis itu membuka sebuah majalah yang berisi katalog dan informasi mengenai hotel.


Luxury Resort Hotel adalah hotel resort yang mewah bintang lima di kawasan pinggir pantai Nusa Dua - Bali. Dengan pemandangan menghadap ke Samudera Hindia. Hotel ini menawarkan fasilitas resor yang beragam dan liburan yang menenangkan di Bali.


"Ibu Farada, silahkan masuk, sudah di tunggu oleh ibu manager Sylvia Lumintang di dalam," suara lembut resepsionis membuyarkan konsentrasi Farada.


"Oh, baik...terima kasih," ucap Farada dan mengetuk pintu yang berada di arah sebelah kirinya.

__ADS_1


"Masuk!" Seorang wanita cantik berwibawa mengangkat wajahnya menatap lurus kearah Farada masuk dan segera persilahkan gadis itu duduk di depan mejanya. Usianya kira-kira tiga atau empat tahun di atas Farada.


Farada menyerahkan amplop penempatan dan map berlogo yang berisi kopi-an data dirinya pada Sylvia. Ibu manager ini membaca dengan teliti berkas tersebut lalu membuka komputer untuk mencocok-kan dengan data informasi yang dia terima lewat email dari kantor pusat di Jakarta. Kemudian wanita di depan Farada ini mengambil ponsel khusus kantor dan menghubungi seseorang.


"Farada, data kamu sudah sesuai dan lengkap. Mulai besok pagi, kamu sudah bisa bekerja di bagian Marketing & Promo. Kamu akan bekerja-sama dengan beberapa orang sebagai tim marketing dan nanti sebagai...."


Tiba-tiba terdengar ketukan pintu dan dua orang masuk tanpa menunggu jawaban Sylvia.


Serentak keduanya menoleh ke arah samping.


Farada melongo, kaget melihat dua orang pria masuk, salah satunya manusia yang cukup di kenal-nya, "Mati gue!" gumamnya tanpa sadar sambil menepuk jidatnya.


Sylvia mengernyit heran sekilas lihat ucapan dan tingkah Farada.


"Eh..maaf bu Sylvia," Farada tersadar ucapannya terdengar tak sopan di depan ibu manager ini...kedua tangannya menangkup di dada tanda bersalah. Apalagi ini perkenalan pertamanya, harus menunjukan attitude dan kesan yang baik, bukan? haduh! b*d*h sekali gue!


"Selamat siang pak Herwanto,...Tuan Muda," Sylvia berdiri sedikit membungkuk hormat pada kedua pria yang masuk. Farada pun mengikuti.


"Selamat siang" balas Herwanto menyapa.


"Woahhh...hai, siapa ini? hohoho," mulut Molan membulat dengan wajah kaget yang sepersekian-detik langsung berubah menyebalkan setelah memorinya mengingat gadis di depannya.


"Kalian sudah saling kenal?" tanya Herwanto heran.


"Tidak pak!"


"Kenal dong..."


Kompak sekali mereka menjawab.


Farada spontan gelengkan kepala, Molan cengir menggoda. Sedangkan Sylvia tanda tanya dalam hati dengan dahi mengernyit, ini siapanya tuan muda, pacarnya, atau...bekas pacarnyakah?


"Farada, kenalkan ini pak Hermanto Damanik. Beliau pimpinan di Luxury Resort ini," ucap Sylvia memecah situasi.


Farada gugup, tapi segera menguasai pikirannya dan mengulurkan tangan untuk berjabat, "Saya Farada Anastha Handoko, baru mendapat penempatan kerja dari Jakarta disini, pak Hermanto. Dan, mohon bimbingannya" sambut Farada sambil melemparkan senyum yang paling tulusnya.


"Iya, saya sudah dapat laporan dari Ibu Sylvia, dan kalau gitu, besok pagi kita briefing dan meeting jam 07.00 pagi, segera persiapkan diri kamu," ujar Herwanto, dan kemudian menyambung kalimatnya, "nanti kamu dapat kamar tinggal selama bekerja disini."


"Baik pak, terima kasih sebelumnya," jawab Farada cepat.

__ADS_1


Malam hari...


Farada baru saja selesai membereskan baju-baju yang dia keluarkan dari koper ke dalam lemari pakaian. Dan, setelah semua dirasa cukup, termasuk jam weker model lama, namun sangat efektif membantunya untuk membangunkan di pagi hari, telah diletakan di nakas arah kepala.


Aktivitas selanjutnya yang akan dilakukan yaitu membersihkan muka di depan kaca, harus terhenti ketika terdengar bunyi bel pintu kamar. Gadis itu melihat kearah jam di meja, jam delapan malam. Siapa malam-malam?


"Sebentar..." sahutnya sambil berjalan ke arah pintu. Dia tak mungkin akan bertanya 'siapa', bukan? karena ingin menimbulkan kesan yang baik. Ini bukan dirumahnya. Pikirnya, mungkin pihak hotel ada perlu, atau ada kelupaan pemberitahuan yang akan dipersiapkan meeting besok.


Ngga ada siapa-siapa?


Farada mengintip lobang kecil dipintu, hanya gelap seperti tertutup sesuatu. Padahal lampu luar kamarnya yang langsung mengarah ke laut lepas begitu terang. Penasaran, dia buka pintu untuk melihat.


Astagfirullah!


Farada terkejut dengan mata membola.


"Hai..." dengan wajah polos tak bersalah, Molan berdiri di depan pintu dan langsung menerobos masuk tanpa permisi. Farada harus terdorong ke samping karena bahunya sedikit di tabrak, hingga Molan sekarang sukses masuk dan langsung menuju kamar dan tidur telentang di atas kasur gadis itu.


"Heh!!, keluar nggak!" teriak Farada dan reflek langsung memburu masuk, mengambil guling dan memukuli berulang kali muka, perut dan kaki pria menyebalkan itu, tapi Molan tak bergeming. Dia diam saja pura-pura tidur.


"Bangun dong..." suara Farada terdengar lirih. Dia sudah capek memukuli tapi tak mau bangun. Air matanya mulai menggenang. Jika sampai pihak hotel tahu ada laki-laki dikamarnya, kesannya akan jelek, atau malah belum mulai kerja sudah dipecat.


Molan membuka matanya, setelah dia mendengar isakan pelan. Dilihatnya kedua bahu gadis itu terguncang sambil berdiri di dekatnya tiduran. Pria itu langsung bangun, dan menarik tangan Farada untuk duduk di sofa luar kamar tapi segera di tepis Farada.


"Kamu ngapain sih datang main masuk aja, ini sudah malam, tahu nggak?'


"Ya, makanya sini, ada yang mau di omongin, tentang esok hari"


"Cih...esok hari!, emang ada apa dengan esok hari?" omel Farada berlanjut. Air mata secepat itu mengering. Karena tadi itu memang tangisan bohong, agar Molan terbangun..eh berhasil!


"Masalah pekerjaan, sini duduk di sofa" cengir Molan.


Farada tak menanggapi, tangannya bersidekap di dada.


"Kalau gitu, aku numpang tidur lagi deh," merasa tak di gubris, Molan bangun untuk masuk kamar Farada kembali.


"Eh...jangan!" Farada langsung bergerak cepat mendorong Molan keluar.


-

__ADS_1


-


__ADS_2