
Di sebuah ruangan kamar Executive Suite hotel The Luxury, ruangan khusus pemilik.
Disinilah sekarang Restu Mapendra duduk dengan kikuk berhadapan dengan seorang pria paruh baya yang tengah duduk di kursi sofa singel. Pria yang tak lain adalah tuan besar Erick Mahendrata sengaja memanggil Restu untuk datang menemuinya di ruangan yang sangat mewah ini. Ia datang bersama - sama dengan ibunya, yang juga duduk berjarak sekitar satu meter di sisi sebelah kiri tuan Erick.
Restu tak bisa berkata apapun, matanya memerah menahan tangis ketika tuan Erick yang sekarang baru diketahui sebagai ayahnya ini menceritakan sebuah sejarah masa lalu serta asal-usul dan silsilah keluarga. Juga, disini Restu baru mengetahui bahwa sang ibu selama ini memakai nama palsu, untuk menghilangkan identitas masa lampaunya. Dia baru tahu nama asli ibunya adalah...Soraya.
Semua cerita dibuka tuan Erick disini...Cerita cinta segi tiga akibat perjodohan.
Restu seolah mati rasa mendengarnya. Jika di tanya perasaannya sekarang ini, dia tak akan bisa menjawab, ada perasaan hampa di relung hati. Dan, dia belum bisa menerima kenyataan bahwa pria di depannya sekarang ini adalah... ayahnya! Orang yang masuk dalam jajaran manusia terkaya di Asia.
Suasana masih hening setelah tuan Erick bercerita. Ibu Iin sendiri hanya menunduk sambil terisak, sesekali menyeka air matanya dengan tisu.
"Ayah dan ibu minta maaf padamu, nak! Karena pasti saat ini kamu belum bisa terima kenyataannya," Tuan Erick kemudian menarik nafas berat, "kami yang salah disini, terutama ayahmu ini..."
Restu melihat tak berkedip pada tuan Erick yang seperti menahan beban sedari tadi.
"Ayah bersyukur pada Tuhan, di saat umur ayah sudah di ujung, masih di beri kesempatan untuk bertemu dengan ibumu dan kamu..." kalimat tuan Erick kembali terhenti. Lelaki itu mengatur napasnya sejenak.
Ekspresi wajah Restu pun terlihat berubah melihat keadaan tuan Erick, alis matanya sedikit terangkat. Sepertinya tuan Erick sakit? batinnya.
Ibu Iin berdiri dan berjalan ke sebuah kotak di dekat kaca besar, lalu mengambil sebuah tas kecil yang berisi obat-obatan dan membukanya, kemudian mengambil air mineral. Mengambil Beberapa butir obat dan kemudian menyerahkannya ke tangan tuan Erick untuk segera di minum.
Semuanya tak lepas dari pengamatan Restu, tetapi ia tetap tak bisa berkata apa - apa. Mulutnya masih terkunci.
"Satu lagi, ayah mau beritahu kamu tetapi ini tidak ada orang lain yang tahu, selain ibumu dan dokter pribadi ayah..." tuan Erick menjeda kalimatnya, "ayah sakit dalam satu tahun ini...penyakit yang sampai saat ini belum di ketahui namanya dan obat penyembuhnya, sebuah penyakit langka. Selama ini, ayah hanya di beri obat pereda nyeri saja. Ilmuwan Perancis dan Jerman masih melakukan penelitian hingga saat ini tapi, belum..." tuan Erick gelengkan kepala, lalu melanjutkan, "umur ayah di vonis sekarang ini tinggal tiga bulan lagi."
Gesture Restu kaget, ia memajukan tubuhnya ke depan dengan kedua siku bertumpu di pegangan kursi.
"Kamu mempunyai seorang adik lain ibu...namanya Molan Pangestu, ayah rasa kamu sudah mengenalnya. Tolong rahasiakan penyakit ayah ini padanya. Dan, satu lagi nanti...kamu bimbing dia, karena anaknya sangat labil dan keras kepala, tapi kasihan...dia akan jadi yatim piatu nanti. Itu pesan ayah. Kamu berdua adalah harapan ayah sebagai penerus dan pewaris semua ini."
__ADS_1
Restu kembali tersentak. Ah ya! Molan...
***
Seminggu setelah pertemuan itu...
Tak ada yang berubah dari kehidupan Restu, ia tetap melakukan aktifitas seperti biasanya. Dia tetap merasa sebagai Restu yang hidup hanya berdua dengan ibunya. Bait yang hilang dalam tiga puluh tahun di kehidupannya, tak akan mudah untuk menerima kenyataan bagi seorang Restu, bahwa dia mempunyai seorang ayah.
"Gimana kerjamu hari ini, bang?" tanya bu Iin menghampiri anaknya yang baru saja duduk di depan televisi setelah makan malam sepulang kerja.
"Eh ibu, baik bu, cuma sekarang ini mendekati akhir tahun, sedang ribet - ribetnya."
"Trus, kamu sudah pikirkan tawaran ayahmu yang tempo hari?"
Restu menoleh cepat ke ibunya, dia baru ingat bahwa tuan Erick memintanya untuk bergabung di perusahaan ayahnya itu, memimpin salah satu hotel di Jakarta.
Restu kemudian gelengkan kepala, "Belum, aku belum mikirinnya. Tak mudah untuk memimpin sebuah hotel dengan jaringan seluas itu. Kayaknya, aku nggak tertarik, bu." ujarnya sambil mematikan televisi. Sang ibu seperti ingin mengobrol banyak dengannya.
Restu tiba - tiba tercenung. Banyak hal yang di minta oleh tuan Erick, sampai dia lupa apa saja yang diminta tuan Erick itu, karena dia tidak fokus pada waktu mendengarkannya.
"Kamu masih marah sama ayah kamu itu, nak?" tanya ibu Iin lembut.
Restu hanya diam tak bereaksi menjawabnya.
"Kalau kamu sayang sama ibu, maafkan ayahmu ya..." lanjut ibu Iin kemudian mengelus bahu anaknya beberapa kali sebelum dia pergi ke kamar meninggalkan Restu yang kemudian menunduk mendengarkannya.
Beberapa menit setelahnya. Restu berjalan berjinjit kaki mendekati kamar ibunya, hatinya trenyuh seketika mendengar suara tangis ibunya dari dalam kamar. Ia mencoba memutar handle pintu perlahan, ternyata terkunci. Tubuh Restu segera lolos kebawah, dia pun menangis.
***
__ADS_1
Sebuah mobil sedan berwarna hitam melaju dengan cepat memasuki area parkir kantor induk yang terletak di samping hotel The Luxury. Kantor pusat lima belas lantai terlihat begitu megahnya.
Pengemudi sedan hitam yang ternyata Restu kemudian memasuki lobi kantor, dan menghampiri barisan resepsionis. Kebetulan, setelah melakukan meeting dengan klien nya yang berlokasi tak jauh dari kantor induk hotel ini, dia menyempatkan waktu untuk menemui tuan Erick, karena ada hal yang ingin di bicarakannya.
"Selamat siang, saya mau bertemu dengan tuan Erick Mahendrata, bisa?"
"Maaf, sudah ada janji sebelumnya pak?..."
Restu menggelengkan kepala, "Belum, tapi bilang aja dari Restu mau bertemu."
"Di tunggu sebentar, saya hubungi sekretarisnya dulu ya," jawab resepsionis itu ramah, kemudian menghubungi seseorang.
Beberapa saat kemudian,
"Pak Restu, silahkan lewat lift G, bapak naik ke lantai 15, tuan besar sudah menunggu ya."
"Baik, terima kasih."
Setelah keluar dari lift di lantai 15, Restu langsung di sambut oleh seorang sekretaris, dan langsung mengantarkannya ke ruangan tuan Erick.
"Tuan besar sudah menunggu di dalam," ujar sang sekretaris menunduk hormat lalu kembali ke tempatnya.
Baru saja Restu ingin mengetuk, tuan Erick sudah membuka pintunya.
"Tuan Erick?"
"Boleh ayah peluk?" tanya tuan Erick di depan pintu meminta persetujuan.
Restu mengangguk. Walau dia diam saja tak membalas pelukan sang ayah, tapi Restu memejamkan matanya, meresapi momen itu. Momen pertama kali dalam hidupnya di peluk oleh seseorang yang di sebut...ayah.
__ADS_1
Cukup lama tuan Erick memeluk Restu, lalu merenggangkannya dan merangkul Restu berjalan masuk kedalam. Mata tuan Erick memerah menahan tangis.