
Seminggu berlalu sudah semenjak Tuan Besar wafat, namun berita media baik televisi maupun online masih ramai membicarakan meninggalnya salah satu orang terkaya Asia tersebut. Dan, para tamu yang melayat pun masih terlihat berdatangan walau tak banyak seperti di hari-hari sebelumnya. Tamu yang datang belakangan tersebut rata-rata relasi dari luar negeri yang tidak sempat menghadiri langsung proses pemakaman tuan besar Erick karena berbagai kendala.
Herwanto mengetuk pintu kamar tuan besar dan melongokkan kepalanya tanpa permisi. Dia tak melihat Molan ada diranjang. Lalu dia menutup pintu kamar dan berjalan lewat jalan samping menuju balkon karena dia pikir tuan muda pasti ada disana. Benar saja, Molan sedang duduk memainkan sebuah alat olahraga penguat tangan.
"Sedang apa Tuan Muda?" tanya Herwanto sambil mendudukkan pantatnya di kursi.
Molan menoleh sekilas lalu meletakkan dumbel dibawah. "Olahraga sore bagus untuk kesehatan pikiran, Om." Molan tersenyum masam, "tamu diluar masih ramai?"
Herwanto gelengkan kepala, "Sudah tidak banyak, tinggal kerabat dekat aja. Mereka tadi banyak yang menanyakan keberadaan Tuan Muda, tapi saya bilang Tuan Muda sedang istirahat," ujar Herwanto sambil mengalihkan pandangan lurus ke depan.
Molan hanya diam tak menyahut.
"Oh ya, selanjutnya mengenai perusahaan bagaimana Tuan Muda? Kita harus segera mengadakan rapat direksi dan RUPS secepatnya, agar para pemegang saham tidak kebingungan."
Mendapat pertanyaan tersebut, Molan sedikit kaget, satu hal yang belum terpikirkan olehnya, mengenai kelangsungan perusahaan. Ia menoleh pada tangan kanan Papanya tersebut, "Harusnya ini dibicarakan dengan Restu Om, kan dia yang dapat mandat dari Papa untuk kelola perusahaan-perusahaan," Molan menjeda, "sementara ini, aku ingin istirahat dulu," getir Molan menerawang.
Herwanto mengernyitkan dahi mendengar tuturan Molan, "Maksud Tuan Muda?" tanyanya tak mengerti dengan kalimat 'ingin istirahat dulu' itu.
"Nggak ada maksud apa-apa,Om...cuma ingin istirahat aja dulu. Biarkan Restu yang mengatur roda perusahaan, karna memang itu bidangnya, dan dia sudah berpengalaman memimpin perusahaan, bukan?"
Herwanto menatap iba pada anak yang sudah diasuhnya sedari kecil ini. Dia paham, ada hal tersembunyi dibalik kalimat itu. Tapi, dia tak ingin menanyakan itu saat ini. "Hm, sebaiknya Tuan Muda berbicara dulu dengan Restu, nanti saya yang mediasikan nya, bagaimana?"
"Terserah Om sajalah kalau begitu!"
Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari arah pintu samping yang menghubungkan antara ruang depan dengan balkon.
Salah satu Art muncul, "Maaf Tuan Muda, Pak Herwanto...ada Non Farada mau bertemu Tuan Muda."
Molan dan Herwanto saling berpandangan sejenak. Ada apa? Molan mengedikkan bahu, "Suruh masuk aja Bik!"
__ADS_1
"Kalau begitu, saya pamit dulu-" Herwanto kemudian berdiri bersiap pergi tapi di cegah oleh Molan, "Jangan Om, disini aja, nanti Restu curiga."
"Nggak akan, Om sekalian mau bicarakan hal tadi juga dengan Restu di bawah," jawab Herwanto namun berpapasan dengan Farada yang baru masuk.
"Pak Direktur," sapa Farada sopan, " mau kemana Pak? Saya cuma sebentar mau pamit pergi ke Tuan Muda," terang Farada pada Herwanto agar tak menimbulkan persepsi lain di pikiran direktur tersebut.
"Silahkan, Non. Saya sudah selesai, ada yang mau saya urus juga dibawah." ujar Herwanto melangkahkan kakinya meninggalkan mereka berdua disitu.
Setelah Herwanto pergi, Farada kemudian berjalan ke sisi balkon dan bersandar pada tembok sambil menatap langit yang cukup cerah sore itu. "Pemandangan disini sungguh indah!" Farada memandang takjub sekeliling mansion yang memang dibuat dua lantai ini, tapi kalau dibandingkan dengan rumah sekitar, akan terlihat lebih tinggi karena mansion tersebut sebenarnya dirancang tiga lantai untuk ukuran rumah biasa.
Molan tak menanggapi, dia hanya memandang kearah Farada menunggu kalimat lanjutan yang akan keluar dari mulut gadis itu.
Farada kemudian menoleh ke arah Molan, sejenak mereka saling tatap.
Molan kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain, memutus kontak mata yang terjadi. "Ada apa kamu kesini?" kata Molan datar.
"Bukan itu yang akan kamu katakan, bukan?" tanya Molan kembali melihat kearah Farada, masih dalam posisi duduknya.
Farada menghela napas beratnya, kecanggungan diantara mereka begitu kentara sekarang ini, "Aku mau pamit pulang. A..aku mau melihat keadaan kamu. Mm..Maksudku, sejak Tuan Besar tiada, kamu jarang terlihat, kamu hanya mengurung diri disini, sedangkan tamu banyak yang menanyakan ka--"
"Aku...baik-baik saja, kalau itu yang kamu maksud, aku hanya ingin menenangkan diri sebentar. Kejadian beruntun ini, agak berat bagi aku." Molan lalu berdiri dan berjalan ke arah sisi bersebelahan dengan Farada.
Gadis itu merundukkan pandangannya menatap lantai. Kata-kata Molan cukup menyentilnya. Bagaimana pun juga, dia adalah bagian dari kejadian beruntun itu.
"Gimana persiapan pernikahan kamu?"
Farada mendongak, lalu gelengkan kepala, air mukanya berubah, "Bisa nggak, jangan ngomongin tentang pernikahan saat ini?"
Molan terkejut. "Loh, memangnya kenapa?"
__ADS_1
"Ini masih suasana berkabung, tak elok ngomongin tentang pesta!"
Molan terkekeh mendengar jawaban Farada, "Aku nanya masalah pernikahan kamu, bukan ngomongin pesta."
"Jangan ketawa deh!" ketus Farada. Melihat pria itu tertawa dipaksakan itu membuat hatinya sakit. "aku--"
Sayangnya, kalimat Farada harus terputus ketika si bibik kembali mengetuk pintu dan berkata, "Tuan Muda, ada Ibu Sita mau bertemu, gimana?" tanya bibik yang membawa nampan berisi minuman untuk tuan mudanya dan kemudian meletakkan di meja.
"Oh, suruh masuk aja Bik!" Farada langsung angkat bicara. Sedangkan Molan mengusap tengkuknya, obrolan mulai mencair harus terhenti. Sita muncul dengan wajah sumringah tapi berubah tidak senang ketika melihat ada Farada disitu.
"Loh, kamu ada disini, Sudah lama?" tanya Sita berusaha untuk bersikap tenang, meredam perasaan tak sukanya pada gadis itu sejak dari Jogjakarta.
"Saya juga baru kesini Bu Sita, tadi mau pamit pulang sama...Tuan Muda," terang Farada cepat dan Ia melirik Molan sejenak dengan pandangan sulit diartikan, lalu melengos pergi begitu saja.
Sita memperhatikan punggung Farada yang berlalu, kemudian berbalik kearah Molan yang juga sedang melihat kearah Farada pergi. "Dia belum bisa move on dari kamu, Kak!"
Molan berdecak, matanya mengerling kearah Sita dengan alis terangkat, "Bukan urusan kamu juga, bukan?" tegurnya sambil berbalik dan meraih gelas minuman yang dibawakan Art tadi, "Kamu, ada perlu dengan saya?" tanyanya masih dengan gelas menggantung di tangan. Mood Molan berubah drastis setelah bertemu dengan Farada tadi. Ia tidak sedang mode basa basi.
"Besok pagi rencananya aku akan kembali ke Jogja, kerjaan sudah menumpuk, cuma barusan aku bicarakan dengan pak direktur Herwanto beliau bilang tunggu dua hari lagi, karena akan ada rapat internal disini dengan Tuan Muda serta...Restu."
Molan meletakkan gelas yang isinya tinggal separo di meja. Ah ya, Ia teringat rencananya yang ingin mempertemukan Sita dengan Restu dan juga Samantha, tetapi belum kesampaian, mungkin ini saatnya. Tapi, apakah Sita dan Restu sudah bertemu baru-baru ini? Mengingat sejak Papanya meninggal, dia belum ada komunikasi dengan gadis ini. "Kamu, sudah bertemu dengan Restu?"
Sita menghela napas, "Belum secara langsung, cuma berpapasan sewaktu di penguburan Tuan Besar."
"Reaksinya?"
"Nggak begitu jelas, mungkin dia lupa karena aku kan memotong pendek rambut serta sedikit lebih gemuk dari dulu yang dia kenal," timpal Sita dengan mata menerawang.
Molan berpikir sejenak, "Kalau begitu, besok malam kita adakan pertemuan!" Molan kemudian bangkit dan bersiap untuk mandi.
__ADS_1