
The Royal Imperium, Tbk
Sesuai dengan rencana yang telah di jadwalkan, hari ini diadakan rapat pertama para pemegang saham sejak meninggalnya Subronto Erick Mahendrata. Rapat yang berlangsung selama dua jam tersebut memberikan beberapa kejutan, salah satunya baru saja apa yang dilakukan oleh Molan, melalui lobi yang secara diam-diam sebelumnya, dua orang pemegang saham atas nama Maulana Akbar dan Purwandianto yang berjumlah total kepemilikan saham 15 persen atas perusahaan melepas saham mereka dan memberikannya kepada Putra kedua Erick tersebut. Sehingga total kepemilikannya sangat dominan, menjadi 70 persen dari keseluruhan gurita usaha.
Restu awalnya kaget dengan akselerasi Molan tersebut, dia yang mengira adiknya itu seperti tak tertarik dengan dunia bisnis ternyata melakukan hal yang tidak diduganya.
"Saya tak menduga kamu mengakuisisi saham Pak Purwa dan Pak Akbar?" seru Restu menyipitkan matanya melirik Molan yang sedang berdiri didepan kaca melihat kearah luar. Memandang jalanan dari lantai 16.
Herwanto pun yang sedang duduk ikut menoleh kearah Molan dengan wajah datar tapi tersenyum tipis. Pria paruh baya itu salah satu yang berperan besar dalam melobi kedua orang tersebut untuk melepas sahamnya atas permintaan anak asuhnya itu.
"Sah-sah saja, bukan? Kebetulan mereka berdua sedang butuh uang banyak dan lagi pula dalam dunia bisnis banyak hal yang tidak bisa diprediksi ke depannya toh?" jawab Molan tanpa mengalihkan pandangannya.
"Kamu mencurigaiku nanti akan merebut perusahaan?" tanya Restu sambil menegakkan punggungnya ke sandaran kursi. Tiba-tiba dia merasa Molan tidak mempercayainya terlibat dalam pengelolaan usaha.
"Kenapa lo merasa dicurigai? Ada bahasa gue yang menuduhkah?" Molan langsung berbalik badan menatap tajam kearah Restu.
"Sudah ... Sudah, sebaiknya Tuan Muda berdua tidak perlu berdebat dalam hal ini. Mungkin nanti bisa kita bicarakan secara tertutup di lain waktu. Karena ...." Herwanto melirik jam tangannya. "Sebentar lagi rapat direksi akan dimulai. Dan, sepertinya mereka sudah menunggu kita. Mari Tuan Muda!" pinta Herwanto kepada kedua penerus tuan Erick tersebut. Dia harus segera memutus perdebatan yang akan terjadi di antara mereka berdua.
Herwanto berjalan terlebih dahulu yang kemudian diikuti oleh Restu dan Molan menuju ruangan lain, dimana para direksi sudah menunggu mereka dengan agenda rapat yang salah satunya memperkenalkan para penerus ini kepada jajaran direksi perusahaan.
"Selamat siang semuanya. Terima kasih sudah menunggu," sapa Herwanto di iringi Molan dan Restu serta seorang sekretarisnya menuju kursi paling ujung.
Para direksi pun langsung berdiri menyambut mereka sambil membalas serempak sapaan Herwanto. "Selamat siang, Ketua!"
Dan, kemudian acara memperkenalkan Molan Pangestu sebagai CEO baru The Royal Imperium, Tbk dan Restu Mapendra menjadi Direktur Utama The Luxury Hotel sebagai anak cabang dari kerajaan bisnisnya pun mengalir dari mulut Herwanto dengan tugas dan fungsi dari kedua penerus itu. Sedangkan posisi Herwanto sendiri bergeser menjadi asisten Molan sekaligus pelaksana harian tugas CEO jika Molan berhalangan hadir.
Masing-masing direksi pun mendapatkan giliran untuk memperkenalkan diri mereka kepada CEO baru serta direktur utama yang baru Luxury Hotel tersebut. Namun perhatian Restu justru tertuju pada dua orang direksi wanita yang berada dalam ruangan itu. Yang salah satunya sangat dikenalnya di masa lalu, serta satu wanita lagi yang baru dia ingat, walau pernah bertemu baru-baru ini tapi karena sesuatu hal membuat Restu tidak menyadarinya.
Pun, begitu halnya dengan Sylvia Lumintang yang juga turut hadir tak kalah terkejutnya ketika dari awal pintu terbuka dengan masuknya ketiga petinggi perusahaan kedalam ruangan ini sudah membuat jantungnya berdentum lebih cepat.
"Restu?" gumamnya lirih hampir tak terdengar dengan wajah memucat sepersekian detik. Dia tak menyangka, pria yang dulu sempat menjalin cerita rumit dengannya kini hadir kembali sebagai pimpinannya sendiri. Pria yang dulu akhirnya dia tinggalkan karena konflik dengan saudarinya sendiri, kembali bertemu!
***
__ADS_1
Rapat berlangsung dua jam lamanya dengan banyak iringan tanya jawab beberapa orang direksi setelah Molan memaparkan beberapa langkah baru dalam operasional perusahaan, terutama menyangkut tentang program ke depannya, serta adanya beberapa rotasi beberapa jabatan manager dalam lingkungan departemen Luxury Hotel yang dilakukan oleh Restu.
Dan, Molan akhirnya menutup rapat setelah dia resmi sebagai pimpinan tertinggi perusahaan induk dengan beberapa catatan yang nantinya akan berlaku terhadap seluruh anak cabang perusahaan.
"Mohon izin Tuan Muda, boleh saya minta waktunya sebentar?"
Molan melirik Sylvia yang bicara ditujukan kepadanya. Wanita itu berdiri berjarak sekitar dua meter dari tempat duduknya. Restu yang sedang membereskan berkas-berkas di meja pun ikut menggerakkan kepalanya kearah Manager HRD yang posisinya tersebut baru saja di rotasi dari Luxury Bali ke Jakarta tersebut.
"Silahkan!" jawab Molan sambil menggerakkan tangan mempersilahkan Sylvia duduk. "Mau tanya mengenai kerjaan atau ... hal yang bersifat pribadi?" tanya Molan sambil melirik kearah Restu.
Sambungan kalimat tersebut membuat Restu menatap tajam kearah adiknya itu. Terlintas dalam pikirannya bahwa Molan sedang merencanakan sesuatu. Tapi yang di tatap mengabaikannya, Molan dengan muka dinginnya menunggu kalimat lanjutan Sylvia.
"Mmh ... saya--"
"Tuan Muda, Om kalau begitu kembali ke ruangan Om aja ya. Ada beberapa hal yang harus Om kerjakan. Kalau ada apa-apa nanti, panggil Om aja." Potong Herwanto melihat kearah Molan dan Restu secara bergantian.
"Oh, baik Om." Molan mengangkat tangannya, dan Restu juga mempersilahkan Herwanto meninggalkan ruang rapat.
Kini tinggallah empat orang setelah para direksi sudah meninggalkan ruangan rapat tersebut. Sitta Angelina yang sedari awal tidak bertegur sapa dengan Sylvia pun ingin pamit tetapi di tahan oleh Molan. "Saya ada perlu dengan kamu nanti!"
"Terus? Kenapa Anda jadi ragu-ragu Bu Sylvia?" ulang Molan bertanya dengan sengaja menyematkan kata 'bu' di depan nama wanita cantik itu agar tetap profesional.
Sylvia gelagapan. Ia bermaksud ingin bicara secara personal tetapi sepertinya tuan muda itu sengaja ingin berbicara dengannya di depan Restu dan Sitta.
"Kalau membicarakan masalah pekerjaan, sebaiknya segera diutarakan sekarang. Tapi jika menyangkut masalah pribadi ... Jangan disini!" Tegas Restu ambil suara.
Serentak Sitta dan Molan menoleh pada Restu. Sedangkan Sylvia melayangkan tatapan tajam ke arah pria yang dulu dicintainya itu. Kalimat Restu bernada ketus dan Ia merasa terintimidasi jadinya. Tapi gadis cantik ini segera mengatur nafasnya.
"Ehem, baiklah ... sa-saya ingin dengan atas nama bermohon, Tuan Muda berdua dapat merevisi tentang rotasi saya kesini. Saya berharap agar dapat di tempatkan diluar Jakarta ini." Sylvia menangkup tangannya di dada.
Molan mengetukkan telunjuknya beberapa kali diatas meja sebelum memberikan jawaban. "Kalau masalah itu, seharusnya kamu membicarakannya langsung dengan Restu bukan?" ujar Molan tersenyum tipis, "karena beliau ini adalah atasan kamu secara struktural ...."
"Tidak bisa!" potong Restu cepat.
__ADS_1
Sylvia kembali menoleh. Gadis itu kaget tiba-tiba Restu langsung memutuskan dengan nada ketus, entah mengapa emosinya sedikit terpancing. "Kok ... nggak bisa?" ujarnya dengan nada sedikit tinggi. Mukanya memerah menahan kesal.
"Karena semua sudah ditetapkan melalui keputusan manajemen, bukan keputusan secara personal! Jadi kalau kamu keberatan, silahkan sampaikan dulu secara tertulis kepada pihak manajemen," sambung Restu sambil berdiri menatap tajam wanita yang duduk berjarak tiga meter dari posisinya itu.
Setelah mengatakan itu Restu pun segera bersiap meninggalkan ruang rapat. Dia tak ingin berlama-lama lagi berada satu ruangan dengan tiga orang yang akan membuat adrenalinnya naik.
"Ya ... makanya saya menyampaikan secara lisan terlebih dahulu kepada Anda, Pak Direktur! karena walau bagaimanapun juga, semua keputusan untuk level Manager keatas berada di tangan Anda, kan?" Sylvia mendebat dengan sengit. Gadis itu tidak memikirkan lagi posisinya sebagai apa dan berada dimana.
"Benar, tapi walaupun begitu tetap harus menunggu selama satu bulan dulu baru bisa di rotasi kembali, karena Ber-efek tidak bagus terhadap staf yang lain," jawab Restu sambil memutar tubuhnya kembali mengarah ke Sylvia.
Molan tersenyum penuh arti melihat interaksi kedua orang tersebut. Hal itu tak luput dari penglihatan Sitta. Apa ini ide mu Tuan Muda? Apa yang sedang kamu rencanakan? batin Sitta bermonolog.
"Karena hal itu belum di sah-kan oleh manajemen, makanya saya memohon kepada Anda hari ini agar bisa merubahnya, Pak Direktur! Sebelum besok pagi sudah ada penetapan secara tertulis oleh pihak manajemen."
"Tadi, kamu memohonnya bukan kepada aku, kan?" jawab Restu cepat sambil menyipitkan matanya.
Kena kau! Pikir Molan dalam diamnya melirik Restu, tetap dengan senyum misterinya. Lalu merubah pandangannya ke arah Sitta.
"Hah?" Mata Sylvia membola. "loh ... Bukannya sama saja jika aku bicarakan disini dihadapan Anda dan Tuan Muda?"
Gothca! Molan kembali melirik Restu dengan muka mengejek Restu. Terkadang, jika ada berdebatan dua orang yang terjadi, hal-hal yang bersifat kedekatan emosional akan muncul, bukan?
Dan, Restu pun segera berpaling melihat kearah adiknya tersebut. Dia baru menyadari bahwa Molan sengaja melemparkan bola panas kepadanya. Karena ide rotasi Sylvia adalah atas rekomendasi dari adiknya itu. Tetapi sekarang Molan seperti lepas tangan. Tidak berkata apa-apa sewaktu Sylvia mendebatnya. Dia marah, dia terjebak!
"Begini aja, keputusannya tetap, kecuali ...." ujar Restu kembali mengarah pada Sylvia. Dia harus memutuskan perdebatan ini.
"Kecuali apa?" sambut Sylvia langsung.
"Kecuali kamu ingin resign dari sini!"
Sylvia terkejut, sejenak dia terpana tak menduga dengan jawaban Restu seperti itu. Dia segera berdiri untuk bersiap mendebatnya kembali tetapi Molan memberi isyarat untuk diam dan menyuruhnya untuk duduk kembali.
Sedangkan Restu langsung berjalan keluar menuju pintu, tetapi dia berhenti dan berbalik badan. Pandangannya mengarah kepada Molan.
__ADS_1
"Nanti aku ingin berbicara dengan kamu!"
"Oke!" jawab Molan dengan mimik muka konyolnya.