Cinta Harus Memilih

Cinta Harus Memilih
Orang Yang Tidak Disangka


__ADS_3

"Hai..hai, assalamu'alaikum semuanya", Farada masuk toko dengan wajah ceria pagi itu menyapa karyawannya.


"Wa'alaikumsalam...", jawab anak buahnya serempak dengan wajah sumringah.


Lalu, Farada membagi - bagi kan hadiah yang dia bawa, "Maaf ya, hadiahnya cuma aksesoris aja, hehe", katanya memberi kan hadiah berupa aksesoris gelang dan kalung pada seluruh anak buah.


"Gimana kak disana?", tanya Dian yang baru saja meletakan tas nya di loker.


"Asyik dong...eh gimana mbak Dian, ada kendala selama aku tinggal nggak?", tanya Farada dengan cepat. Dian gelengkan kepala, "everything it's okay, nggak ada masalah sih, semuanya lancar kok", Dian berpikir sejenak, lalu "adanya berita sih...", tutur Dian sambil menyerahkan sebuah catatan keuangan.


Farada melirik Dian sambil membuka buku catatan tersebut, "berita apa?".


"Ingat nggak waktu di telepon aku bilang ada Ibu - ibu nanyain kamu?".


"Ingat..", jawabnya cepat menatap serius sambil menangguhkan membaca laporan, Ia penasaran.


"Nah, tempo hari Ibu itu datang lagi nanyain kamu, dan kali ini dia datang dengan anaknya, ganteng banget!, tapi angkuh!", ujar Dian melakukan penekanan pada kata 'ganteng' itu.


"Trus?, namanya siapa..?", Farada makin penasaran.


"Namanya siapa yah...hadeehhh...lupa aku, padahal di kenalin sama aku", Dian mengetuk jarinya ke meja, berusaha mengingat.


Tapi sayang, pembicaraan harus terputus ketika ada dua orang pelanggan datang, memesan makanan untuk karyawan kantor mereka untuk nanti siang. Dian lalu fokus ke pelanggan tersebut, "nanti deh, kita cerita lagi", imbuhnya kemudian.


Farada pun mengangguk dan membawa catatan laporan tadi ke mejanya.


***


Menjelang siang, Farada baru datang dari pasar rakyat habis membeli kebutuhan katering, Ia di temani Asep yang membawa belanjaan dapur dua kantong plastik besar.


"Mbak Dian, ada pesanan dari perusahaan DomTrav?", kata Farada bersemangat, Ia sebenarnya sudah tak sabar, satu minggu lamanya tak melihat rupa pria pujaannya.


"Ada nih..", tunjuk Dian ke sebuah bingkisan sambil melirik jam tangannya, sudah waktunya pesanannya itu di antar.

__ADS_1


"Sini, aku antar sekarang aja, sebentar lagi jam istirahat kantor", Farada lalu mengulurkan tangannya meminta bingkisan tersebut. Tanpa istirahat, Farada langsung berlalu dan tak lupa memakai minyak wangi, agar nanti tak bau keringat, maklum dari pasar.


Tak sampai 40 menit berselang, Farada sudah sampai di parkiran gedung tempat perusahaan DomTrav berada.


"Selamat siang mbak Tika", sapa Farada ketika sampai di ruangan Artika, sekretaris pak Restu. "Oh...hai, kemana aja kamu?, baru muncul lagi", antusias Artika menyambut Farada.


"Hehe...aku cuti mbak Tika, jalan - jalan", jawab Farada sambil menyerahkan bingkisan makanan.


Tiba - tiba, Bimo muncul di situ...


"Hai Fara, apa kabar?, habis liburan yah?", ujarnya sambil mengulurkan tangan.


"Oh...ehh pak Bimo, kabar baik pak, kok bapak tau?", jawab Farada canggung, menyambut uluran jabat tangan sambil menatap heran Bimo.


"Tau dong, Bimoo...", pria itu langsung membusungkan dadanya.


"Fara...bisa ikut dengan saya sebentar?", sebuah suara bariton mampu membuat semuanya terdiam. Restu yang ternyata sudah melihat kedatangan Farada menghampirinya, dan melewati mereka semua berjalan keluar.


Bimo dan Artika saling bertatapan, aura ruangan tiba - tiba berubah menjadi tidak bagus di mata mereka. Aura cemburu di wajah Bimo begitu kentara. Sedangkan Artika menatap kepergian sang bos dengan tatapan yang sulit di artikan.


Di kafe kantor, lantai dasar.


Disinilah Farada sekarang, duduk di hadapan pak Restu dengan pikiran berkecamuk. Sejenak, tak ada pembicaraan di antara mereka. Restu hanya menatap intens ke arah wajah gadis yang semakin ciut di hadapannya ini. Dan, Farada pun tak berani mengangkat kepalanya atau pun membuka suara terlebih dahulu.


Restu menarik nafas dalam - dalam, lalu " ternyata kamu orangnya...", tanya nya kemudian dengan wajah dingin.


Farada mengangkat kepala memberanikan diri melihat Restu, "ma..maksudnya apa ya pak?", jawabnya terbata.


Gaya Restu persis seperti polisi sedang mengintrogasi terdakwa.


"Kamu membatalkan janji ketemu dengan saya".


"Hah..?", muka Farada makin bingung, "nggak ngerti aku", lanjut Farada mengernyitkan dahi.

__ADS_1


"Kamu kan yang di jodohin dengan saya oleh orang tua saya, trus setelah saya penuhi keinginan Ibu saya, lalu kamu membatalkannya, setelah saya menunggu tiga puluh menit lamanya disitu!, ingat?", tutur Restu menyilangkan kakinya, dan menarik tubuhnya bersandar di kursi. Masih dengan tatapan dingin.


Wajah Farada tiba - tiba menegang, memucat, Ia mengatup mulutnya yang sempat terbuka mendengar kalimat Restu. Ia memberanikan diri kembali menatap raut muka Restu.


"Ja..di, orang yang mau ketemu sama itu, bapak?", katanya sambil meremas kain pinggiran meja bagian bawah.


"Ralat!, bukan saya yang ingin ketemu kamu, tapi penuhi keinginan Ibu saya yang bersekongkol dengan Ibu kamu untuk mengatur pertemuan itu", potong Restu cepat, Ia tak ingin kelihatan seperti pria yang mengejar perempuan.


Ya ampun..bahasanya! , batin Farada meronta dengan kata 'sekongkol' itu. Gadis ini tak tahu apa yang harus dikatakannya, jemarinya tanpa bertaut di atas lutut. Tapi di satu sisi ada kegembiraan terselip, ternyata impiannya bukan sekedar angan - angan, pria pujaannya adalah pria yang akan dijodohkan dengannya, dan Ia akan berterima kasih pada Ibunya nanti. Walaupun, pria di hadapannya itu tidak menunjukan antusias yang sama dengannya, tak apalah..cinta nanti akan datang padanya seiring berjalannya waktu


Keheningan terjadi diantara mereka. Beberapa saat kemudian, baru Restu membuka suaranya kembali, "sebagai gantinya pembatalan dari kamu itu, kamu harus temani saya nanti menghadiri pernikahan kolega saya, tiga hari lagi...kamu bersedia?".


"Se..serius pak?", Farada mendongak-an kepala, mencari kepastian di wajah Restu.


"Saya orang bisnis, tak pernah tidak serius dalam ucapan dan tindakan saya, dan kamu...", ujarnya menjeda sebentar karena minuman pesanan datang, "...jangan membatalkannya lagi, hilang harga diri saya di hadapan kolega saya nanti kalo sampai di ulang seperti pembatalan tempo hari", ucap Restu menegaskan.


"Baik pak...", jawab Farada kembali menunduk. Ia merasa bersalah, entah mengapa juga, nyali nya lolos dihadapan pria ini.


"Jam tujuh malam, nanti kamu saya jemput, ponsel kamu jangan silent..", tutur Restu dan berdiri mengajak pergi Farada dari situ, kembali ke atas.


"...dan, jangan panggil bapak jika di luar kantor, nama saya Restu".


"Baik pak..eh kak Restu" jawab Farada menunduk dan mengikuti langkah Restu keluar area kafe.


"Maaf pak..eh kak, saya langsung pulang aja, katering kakak sudah siap di atas", Farada berniat pergi langsung balik ke toko aja, dari pada keringat dingin makin deras di tubuh. Walau hatinya bahagia.


Restu berhenti sejenak, lalu "panggil Mas aja kalo kamu terbata - bata begitu, biar lebih keliatan akrab", tutur Restu tetap dengan tampang dinginnya.


Farada hanya mengangguk, lalu pamit pergi, Ia ingin buru - buru menghilang dari hadapan pria yang bikin jantungnya ini berdenyut cepat.


Restu menatap kepergian Farada sambil tersenyum...cantik! ujarnya perlahan, lalu pergi menuju lift kembali ke ruangannya.


-

__ADS_1


-


Lanjut


__ADS_2