Cinta Harus Memilih

Cinta Harus Memilih
Batal


__ADS_3

Molan menjejakkan pantatnya di kursi panjang pinggir pantai menikmati udara sore Nusa Dua. Ya, sudah tiga hari ini Molan berada di pulau dewata Bali untuk mengawasi dan ikut membantu mendekorasi pernikahan Restu dan Farada yang akan dilangsungkan satu minggu lagi.


Hari ini selesai semua sudah tugasnya. Ia tersenyum sambil mengedarkan pandangannya menyisir ke berbagai arah. Seperti tak ingin melewati setiap momen yang dia lihat. Sesekali dia merapikan rambutnya yang sudah mulai panjang di sapu angin yang bertiup lumayan kencang sore itu. Tujuannya hanya satu, ingin menikmati sunset sendirian.


Ketika momen itu tiba, dia sandarkan punggungnya, tangannya membentang menguasai kursi. Pandangan tertuju pada matahari yang perlahan menghilang di balik ombak. Dia tersenyum lara, lalu meraih ponsel dan menghubungi seseorang.


"Om ... Semua sudah beres!"


Pria di seberang sana terdengar menarik napasnya dalam-dalam. "Selanjutnya, gimana Tuan Muda?"


"Semuanya tetap seperti yang aku rencanakan, Om."


"Tuan Muda sudah pikirkan benar-benar rencana itu?"


Molan tundukan pandangannya menatap kakinya yang sedang memainkan pasir. "Sudah Om! itu sementara, sampai aku benar-benar siap, baru aku kembali."


"Baik Tuan Muda, kalau begitu segala sesuatunya telah di siapkan. Jaga diri Tuan Muda baik-baik. Tetap kabari Om kalau ada apa-apa."


Molan mengangguk, "Aku titip perusahaan ya , Om!"


"Siap Tuan Muda!"


***


Ibu Iin atau yang sekarang kembali memakai nama Soraya memandang foto kenangan terakhirnya dengan Erick. Cukup lama Ia berdiam diri melihat foto keluarga yang belum sempat di pajang, masih tergeletak di bawah bersandar di tembok kamarnya. Ketika matanya tertuju melihat sosok Molan yang berdiri sendiri terpisah dengan Restu dan Farada, Ia termenung. Dia sempat mengutarakan penolakannya sewaktu tuan besar ingin melakukan foto bersama karena serba mendadak dan akan memukul mental Molan. Tapi keinginan Erick tak bisa dia tolak.


"Halo?" Molan menjawab telepon dari sebuah nomor yang tak dikenalnya


Hening beberapa detik tapi suara helaan napas berat di seberang sana menandakan itu seorang wanita.


"Halo." suara lembut menyapa.


"Ibu...?" Sapa Molan yang tengah bersiap dengan sebuah koper di tangan, kemudian menghentikan langkahnya. Dia mengenali suara itu. "Apa kabar, Bu?"

__ADS_1


"Alhamdulillah. Kamu baik-baik aja disana, Nak?"


Molan mengangguk, walau tak terlihat. "Baik. Ibu ada perlu sesuatu dengan saya?" tanya Molan masih dengan keheranannya.


"Nggak ada, Ibu cuma mau tanya kabar kamu saja. Kalau begitu, ya sudah, pesan Ibu kalau Molan butuh Ibu, jangan sungkan kabari Ibu ya."


Molan terdiam sejenak, dia yang sedari kecil tak pernah merasakan kasih sayang seorang Ibu, tertegun. "Iya, Bu."


Percakapan nan singkat itu memberi arti yang mendalam bagi seorang Molan. Dia berdiri di depan pintu beberapa saat meresapi momen singkat tadi sebelum meneruskan langkahnya menuju bandara untuk meninggalkan pulau Bali.


***


Pantai Maho adalah sebuah pantai yang unik di kawasan Saint Martin kepulauan Karibia, karena letaknya yang berdekatan dengan landasan pacu Bandara Internasional Putri Juliana. Banyak penggemar pesawat yang datang setiap hari untuk melihat pesawat yang datang dan lepas landas menjadi atraksi wisata yang menarik sambil berjemur di pinggir pantai ini.


Di tambah berjejer begitu banyak kafe-kafe serta penginapan berkelas di sepanjang pesisir pantai di kawasan tersebut yang menjadi nilai tambah daya tarik wisatawan dari berbagai negara di dunia.


Tak terkecuali bagi seorang Molan yang sudah dua hari melabuhkan dirinya di Karibia ini.


"Gue cari-cari ternyata disini!"


Tommy, sang sahabat mendudukkan pantatnya di kursi malas di seberang meja Molan, "Ngantuk gue, lagian lo mendadak nyuruh gue kesini, Bos!" jawab Tommy sembari memanggil pelayan kafe meminta dibuatkan minuman.


"Lo, juga dadakan ngabarin mau ketemu gue, Tom! Kalo jauh-jauh hari, mungkin gue langsung ke Singapura dulu."


Tommy baru datang hampir tengah malam dari Singapura karena Molan menyuruh segera menyusulnya. Bukan tanpa sebab sebenarnya, dia sedang meminta bantuan karibnya itu mengenai permasalahan di perusahaan Papanya Donna.


"Sori, bos! Gue juga baru tau kejadian sebenarnya, setelah gue meminta audit secara menyeluruh, ternyata ada penggelapan di perusahaan Om Hery," Tommy menjeda, seorang pelayan datang membawa minuman dan meletakkannya di meja kecil, "...dan, lo tau? Itu sudah berlangsung cukup lama," sambung Tommy kembali setelah pelayan itu pergi.


Molan bersidekap tangan, pandangannya tetap tak beralih melihat para wisatawan yang sedang bermain di pinggir pantai menunggu pesawat landing dan take off. "Karna itu, lo menunda pernikahan dengan Donna?"


"Sebenarnya bukan karna itu aja sih, Papanya Donna kan sedang sakit. Beliau sebelumnya stroke ringan udah satu bulan ini."


"Stroke?" Molan menoleh, alisnya bertaut.

__ADS_1


"Iya, ternyata Om hery sudah mencium adanya penggelapan di perusahaannya sejak beberapa bulan yang lalu. Kepikiran karena oknum direktur keuangan itu bekerja sama dengan mafia!" Tommy membuang napasnya dengan kasar, "makanya, gue mau minta tolong sama elo," imbuhnya.


Molan mengusap dagunya beberapa kali, otaknya berpikir. "Berarti, kita harus beraksi lagi nih?" ujar Molan sambil tersenyum.


Ya, Molan sebenarnya ingin mengubur masa-masa beberapa tahun yang lalu, ketika Ia sering terlibat berjibaku dalam dunia mafia dulu. Tapi sepertinya dia harus menunda keinginannya tersebut.


"Yaudah, nanti gue hubungi yang lain. Trus? Gimana dengan kepolisian?" tanya Molan memastikan.


"Urusan verbal tetap jalan, tapi tau sendiri kan? Kalau berurusan dengan mafia pihak berwajib agak kesulitan, jadi...mafia harus lawan mafia!" jawab Tommy sambil menyeruput minumannya.


Pembicaraan mereka terhenti kala sebuah pesawat terlihat hendak mendarat. Bunyinya yang nyaring seolah pesawat itu di atas kepala mereka serta teriakan dari penonton yang riuh adalah sebuah pemandangan seru yang jarang terlihat. Hanya di pantai Maho ini!


"Omong-omong ... Soal Farada, gimana?"


Molan tak langsung menjawab, dia gelengkan kepalanya.


"Sori, bukan maksud gue ungkit itu tapi gue heran aja, pernikahan Restu dan Farada sebentar lagi , eh ... Elo nya malah liburan begini. Habis ini kemana tujuan lo?"


Molan menarik napasnya, "Gue mau menetap sementara di suatu tempat, tapi gue belum ingin ngasih tau siapa-siapa dulu!"


"Ck, termasuk sama gue?"


"Ho oh, termasuk elo!" cengir Molan lalu tertawa pelan.


Tommy merubah posisinya menghadap sahabatnya itu, "Segitu besarnya arti Farada buat Lo, Bro? Sampai harus begini? Dan, gue nggak habis pikir bahwa elo yang mendesain persiapan itu sebagus mungkin lalu ... Kemudian pergi. Apa maksudnya, Sob?"


"Gue hanya ingin melihat Farada tersenyum, itu aja," jawab Molan datar.


"Tapi, gue nggak yakin dia akan tersenyum, justru dia akan bersedih Tuan Muda!"


Molan langsung melirik Tommy yang masih melihatnya dengan tajam, "Kenapa ha_" Tiba-tiba ponsel Molan berdering. Dia meliriknya gawai sekilas. Dia langsung bangkit dari leyeh-leyehnya, dahinya berkerut ketika nama Paman tertera di layar memanggil. Ada apa Om Herwanto menelpon?


"Halo, Om?"

__ADS_1


Setelah itu, tiba-tiba wajah Molan berubah tegang dan pandangannya terdongak ke atas, " Hah? Batal...??"


__ADS_2