
Molan sedang berendam dalam bathtub yang berisi air hangat. Beberapa saat yang lalu, dia habis - habisan di marahi pak Erick. Karena membohongi papa nya tersebut karena tempo hari mengatakan pergi ke Bali. Dia sudah kebal rasanya mendengar omelan dan menerima kemarahan dari papa nya itu. Baginya itu sebuah nyanyian nina bobo.
Yang ada dalam benaknya sekarang adalah, Farada !.
Ya, gadis itu sukses menyita perhatiannya sekarang ini. Entah mengapa, ingin rasanya selalu berada di dekat gadis yang sangat cuek padanya dan juga galak. Selama ini, dia selalu di kelilingi oleh wanita yang selalu ingin merebut perhatiannya, yang ingin menjadi kekasih atau bahkan ada yang terang - terangan ingin menjadi istrinya.
Di kalangan teman yang mengenalnya, Ia di sebut Don Juan, karena terlihat sering bergonta ganti pasangan. Hanya dirinya sendiri yang tahu, bahwa wanita yang dekat dengannya selalu kecewa karena di diamkannya. Dia bukan pria nakal, tapi cenderung tengil dan urakan, ingin bersenang - senang. Dan, Tommy...adalah seorang sahabat satu - satunya yang mengerti bahwa dirinya adalah pria kesepian, dan sulit untuk jatuh cinta.
Ting..tong, ting..tong
Lamunan Molan tersentak ketika bel kamar berbunyi, siapa lagi sih? batinnya. Lalu dia segera melanjutkan mandinya.
Tommy melirik ke celah lobang kaca kecil melihat siapa yang datang, aduhh..ngapain lagi sih nih orang kesini? gumamnya pelan, tapi tetap membuka pintu. "Ada apa?", tanyanya kemudian pada seorang wanita yang ternyata Donna, "minggir !", Donna menerobos masuk, mendorong tubuh Tommy yang tetap berdiri menghalangi. "Mana Molan?", tanya Donna, Ia tak melihat makhluk berujud pria itu di ruangan itu. "Nggak ada!", Tommy menjawab judes dengan tatapan sinis, dia masih berdiri di dekat pintu masuk. "Kemana dia memangnya?, bohong kamu!", Donna menautkan alis, dia tak percaya omongan Tommy, dilihatnya ponsel Molan tergeletak di meja dekat televisi.
Lagak lo, udah kayak nyonya besar aja!, gumam Tommy perlahan, namun masih terdengar samar di telinga Donna. Gadis itu lalu berjalan perlahan menghampiri Tommy, "kamu ngomong apa?...", gadis itu menjeda, dan menantang mata Tommy, "ada masalah apa sih kamu sebenarnya dengan aku? hah...?", imbuhnya kemudian sambil mendongak.
"Cihh...gara - gara lo tadi ikut ama gue, gue jadi sasaran kemarahan Molan tau nggak lo!", timpal Tommy tak mau kalah sambil berkacak pinggang.
Kening Donna mengkerut mendengar itu, "memangnya ada hubungan apa Molan dengan wanita itu?".
"Yaa..lo tanya aja sendiri sama Molan, yang pasti gara - gara lo judesin cewek tadi, gue yang di marahin sama Molan...", Tommy berjalan kemudian ke ruangan tamu, "karena lo ikut sama gue kesitu!", tambah Tommy dengan nada sarkas sambil menunjuk ke arah Donna.
"Kenapa kamu yang di marahin?, Molan cemburu sama kamu?", tanya Donna absurd.
Aisshhh..ini cewek pura - pura b*g* atau emang b*g* beneran yah? , batinnya sambil gelengkan kepala.
Tiba - tiba...
"Heh .!, ngapain pada ribut sih, berisik!", Molan tengah bertolak pinggang di depan pintu kamar mandi, handuk masih melilit di pinggangnya mempertontonkan tubuh atletis. "Mau ngapain malam - malam kesini?", tanyanya dengan gerakan kepala pada Donna.
Tommy yang melihat Molan sudah ada disitu kemudian pergi ke kamarnya yang bersebelahan dengan Molan, Ia tak mau berlama - lama berada di dekat Donna.
"Tuh..!, katanya nggak ada!", ucapnya sambil mencibir ke arah Tommy yang hanya melengos berlalu.
__ADS_1
"Ini orang berdua, lama - lama jatuh cinta nih", sindir Molan yang berjalan ke arah kamarnya.
"Ya ampun, amit - amit...", timpal Donna cepat mengurut dadanya, "kok kamu ngomong gitu sih yank!", ujarnya dengan nada berubah manja.
"Eh..aku bilang sekali lagi ya, jangan ngomong ayank - ayank sama aku!", Molan melototkan matanya, dan setelah itu buka pintu masuk kamar meninggalkan Donna sendiri di ruang tamu.
Hampir 30 menit lamanya Donna duduk menunggu di ruang tamu, tetapi tak ada tanda - tanda Molan akan keluar dari kamarnya, begitu pun juga Tommy. Mereka berdua seperti kompak tak ingin menemuinya. Donna merasa bosan sendiri, majalah tour di meja sudah berulang kali dia bolak balik tanpa di baca, ponsel juga buka tutup, namun kedua makhluk berujud pria itu tetap tak menampakan batang hidungnya. Ia lalu berdiri mengetuk kamar Molan.
"Kak,...kak Molan?", tak ada sahutan dari dalam kamar. Prakk!... Donna kesal, lalu memukul pintu Molan dengan keras. Berhasil !...
Pintu kamar terbuka, wajah Molan kusut seperti bangun tidur menghardiknya, "apa sih ?, aku baru mau tidur, kamu berisik deh!".
"Yaa..kakak, aku mau ngobrol sebentar...ada hubungan apa sih kakak sama cewek tadi kok bisa per..."
"Itu bukan mau ngobrol namanya, itu mau nanya!, besok aja...aku mau tidur, capek seharian", potong Molan membungkam pertanyaan Donna. "Pastiin pintu kamu tutup kalo keluar ya..", sambung Molan menunjuk ke pintu, melanjutkan kalimatnya.
"Ishh...", Donna menghentakan kakinya berbalik pergi keluar.
Terdengar kemudian pintu masuk tertutup. Tiba - tiba Molan dan Tommy serentak membuka pintu kamarnya, keduanya tertawa serempak.
Farada berbaring di kamar setelah berendam cukup lama dengan air hangat, sambil menonton televisi, Ia berulang kali mengganti channel mencari acara kesukaannya. Sebenarnya bukan itu, Ia sedang tidak fokus ke acara televisi tersebut, pikirannya sedang berkecamuk memikirkan kejadian siang tadi, walau ada rasa kesal dengan Molan, tapi juga ada momen yang menyenangkan baginya dengan pria itu, tersasar.
Molan..ahh, pria tengil dan pemabuk itu kenapa bisa berulang kali bertemu dengannya, dan itu secara kebetulan. Jujur sih, sebenarnya pria ganteng nan urakan itu menyenangkan, walau terlihat br*ngsek, tapi sebenarnya baik, sampai saat ini. Ganteng..?, aihh kenapa gue memujinya sih?
Ia merenung sambil mengusap bibirnya,
Ehh..tunggu dulu!, kan dia memang br*ngsek?, bukankan dia udah berani menempelkan badannya dan hampir merenggut kesucian bibirnya kemarin malam? huh..!.
Farada lalu menepis bayangan pria br*ngsek menurutnya tadi, lamunannya berganti ke tanah kelahirannya yang sudah hampir empat hari ini dia tinggalkan. Ada kerinduan menyeruak dalam dada, walau bagaimana pun juga, enaknya di negeri orang, masih lebih terasa enak di negeri sendiri.
Pak Restu...apa kabarnya yah, aihh...kenapa mikirin pak Restu sih?
Farada gelengkan kepala berulang kali untuk menepisnya, tapi justru makin nyata. Kangen juga dengan bapak GM yang satu itu, walau hanya sebatas ngeliat wajahnya aja udah seneng gue...ternyata se-sederhana itu bahagia gue, hihi..sedang apa sekarang yah?
__ADS_1
Ting tong, ting tong!
Monolog Farada buyar...Ia melirik jam di atas televisi, jam 10 malam?, siapa ya?. Lalu gadis itu beringsut turun dari kasur dan berjalan perlahan ke pintu, atau jangan - jangan si Molan lagi?, hadeehh...jangan dong! batinnya.
Ia berjalan mengendap dan melirik lobang kaca bulat kecil di atas handel pintu, Hah..?, cewek itu mau ngapain kesini? pikirnya tertegun.
Ting tong ting tong...
Farada kaget, bunyi bel yang beruntun.
"Ada apa ya?", tanya Farada melongokan kepala keluar, Ia langsung memakai percakapan bahasa Indonesia. "Boleh saya masuk?", kata gadis tersebut, tapi dengan wajah yang dingin.
Farada tak menjawab, Ia membuka pintu dan menggeser tubuhnya tanda mempersilahkan masuk. Gadis itu melangkah pelan, dengan kedua bahu terkesan angkuh.
"Ada apa mbak?", Farada mengulang pertanyaannya dengan sopan, Ia berjalan mengekori gadis itu.
"Kamu ada hubungan apa dengan Molan?", tanya gadis itu dengan wajah mendongak dan dingin.
"Maksudnya..?", Farada menyipitkan matanya, tak mengerti.
"Masak nggak ngerti arah pertanyaan saya?, kamu ada hubungan apa dengan Molan, sampai - sampai harus berduaan di tengah salju".
"Loh..mbak harusnya tanya ke Molan, kenapa dia mengikuti saya", Farada menyilangkan kedua tangannya di dada, "saya nggak ada hubungan apa - apa sama dia, dia yang mengikuti, saya kan kesini mau wisata bukan nyari pacar!", sambungnya kemudian, Ia harus tegas, karena wanita ini sudah menunjukan tanda permusuhan dengannya.
"Bagus..!, jangan melenceng dari tujuan kamu, saya nggak suka liat kamu berdua - dua-an dengan pacar saya!, awas aja kalo merebut...", ujar gadis itu dengan nada mengancam, sambil berbalik badan hendak keluar.
"Dihh..makanya, pacarnya jangan ditinggal - tinggal, di ikat!", cibir Farada dengan sarkas.
Gadis itu berbalik seketika, Ia tak terima perkataan Farada, Ia ingin mendamprat tetapi justru di hardik duluan oleh Farada, "Apa !", ujar Farada menantang mata gadis itu.
"Huh..!", gadis itu berbalik badan dan membanting pintu kamar Farada pergi dari situ.
"### Cih..!, lo kira gue takut apa?, ama Molan aja gue berani, apa lagi ama elu!..hihi", gumam Farada kembali menuju tempat tidur.
__ADS_1
-
Lanjut