Cinta Harus Memilih

Cinta Harus Memilih
Biarkanlah Rasa Cinta Itu Ada.


__ADS_3

Farada duduk bermenung di sofa kamarnya dengan perasaan campur aduk. Hubungan yang baru mulai terjalin dengan Restu, seperti kandas begitu saja. Kadang dia pikir, apakah benar apa yang dikatakan di sebuah buku yang pernah dibaca, nama pengarangnya dia lupa, bahwa ketika kau mencintai seseorang, maka kamu harus siap akan kehilangan cinta itu?


Semakin dalam kamu mencintai seseorang, maka akan semakin besar potensi kamu akan kehilangan dan patah hati!


Begitukah?


Lalu, apa yang dia alami sekarang? Patah hatikah? Ya Tuhan, begini rasanya patah hati?


Ketukan pelan di pintu menghentikan lamunan Farada. Dia melirik malas. Tapi ketika ketukan itu terdengar berulang, Farada pun bangun dengan gerakan malas menyeret kaki membuka pintu, "Eh!..Allahu Akbar!" Farada berseru kaget melihat siapa yang tiba-tiba mendorong pintu ketika baru sedikit dia buka. Gerakannya pun terlambat untuk menutup pergerakan seseorang yang menerobos masuk tersebut. Bodohnya, dia tidak melihat dulu di lubang kecil pintu seperti kebiasaannya selama ini.


"Kamu...disakiti dia lagi?" Tanya pria tersebut dengan tanpa rasa bersalah. Keningnya mengkerut, meminta jawaban.


"Bukan urusan kamu..." jawab Farada lemah, Ia tak punya tenaga untuk marah sekarang ini. Dia yakin Tissa pasti bercerita pada pria menyebalkan ini.


"Jadi urusan aku...karena aku katanya ikut andil dalam masalah kamu itu, benar?"


Farada mendengus kesal, "Kenapa sih...kamu selalu bikin hidup aku bermasalah terus? Kenapa sih?"


"Karena nantinya hidup kamu akan lebih berwarna, sebab...kamu mungkin di takdirkan akan jadi jodohku kelak!" Cengir pria yang ternyata Molan dengan senyum konyolnya.


"Nggak lucu!" Farada menatap tajam, kali ini dia benar-benar marah, Ia dengan gusarnya menarik lengan Molan untuk menyeretnya ke pintu, "keluar kamu dari kamarku!"


Tapi, tenaga Molan lebih besar bukan? Pria itu tak bergeming berdiri, dia hanya memperhatikan Farada yang benar-benar sewot. Farada tak berhenti, Ia berjalan ke punggung Molan dan mendorong tubuh atletis tersebut sekuat tenaganya, namun Molan bergeser cuma satu langkah.


Farada makin kesal, Ia memukul punggung Molan dengan kepalan tangannya, "Keluar...!" dan tak hanya itu, gadis tersebut juga melayangkan cubitan di punggung pria itu berkali-kali.


Molan diam tak bersuara, Ia membiarkan Farada melampiaskan emosinya. Justru dia memejamkan matanya, seolah menikmati pukulan dan cubitan Farada. Dan, benar saja, gadis tersebut akhirnya jongkok karena lelah sambil sesegukan menangis di dekat kakinya.


Tapi, tunggu...


Mata Molan terpejam bukan menikmati pukulan, tepatnya lebih menahan perihnya cubitan yang dilayangkan Farada, salah satunya tepat mendarat di bekas cubitan yang membiru tadi, di pantai.


Beberapa menit setelahnya, suasana menjadi hening, isak tangis Farada sudah berhenti. Gadis itu berganti duduk di lantai masih di belakang Molan. Pandangannya menunduk.


"Udah?" tanya Molan membuka matanya.


Farada mendongak, lalu perlahan berdiri sambil menyeka air mata. Saat ini yang harus dilakukannya adalah istirahat di sofa. Tak mungkin dia pergi ke kamar, sementara pria menyebalkan ini masih disini.


"Duh...cubitan kamu sakit banget!" Molan baru meringis mengusap-usap lengannya yang menjadi lebam bekas cubitan di lengan.

__ADS_1


"Bodo amat!" ketus Farada tak peduli, Ia hanya ingin rebahan saja.


"Kamu punya minyak oles nggak? Beneran sakit ini" pinta Molan memperlihatkan lengannya.


Farada menengok sebentar. Dia langsung berdiri melihat hasil karyanya itu. Astaga! namun rasa kagetnya tidak di tampak-kan nya, gadis itu masuk ke kamar untuk mengambil minyak oles yang selalu dia siapkan dalam tasnya.


Molan mengangkat baju kaos nya sedikit ke atas, memberi ruang pada Farada untuk mengoles minyak di punggungnya. "Cubitanmu menyakitkan sekali! Rasanya seperti ditusuk jarum."


Farada tak menanggapi keluhan Molan, rasa bersalah menghinggapi ketika melihat punggung berotot Molan banyak jejak karyanya. Ada yang merah dan ada yang sedikit membiru. Tapi, dia lebih tertarik dengan dua buah sobekan memanjang di punggung atas dan di pinggang pria ini. Tanda bekas jahitan terkena senjata tajam.


"Anda ternyata benar-benar trouble maker ya...tuan muda?" tanya Farada penuh penekanan.


"Hah??"


"Yang ini...dan yang ini, bekas apa? bekas kena sajam kan?" Farada menunjuk dengan jarinya di punggung.


Molan diam, tak menyahut lalu bergeser dan menurunkan kembali baju kaosnya dan berjalan menuju kulkas mini di pojok ruangan, mengambil minuman kesukaannya.


"Kenapa nggak mau jawab?"


"Bukan kenapa-kenapa, luka ini bukan sebuah hal yang istimewa untuk di ceritain," jawab Molan mengelak. Bukan tak mau jawab, dia tak ingin penilaian buruk pada dirinya jika Farada tahu bahwa luka di punggung dan ada satu lagi di bagian perutnya ini akibat dia harus bertarung dengan lima orang gangster karena sesuatu hal. Dia akan di cap sebagai pria yang suka dengan kekerasan. Bukankah dia sedang masa pendeketan ke perempuan ini?


"Cih..." Farada berdecak mendengarnya.


"Aku nggak mau kemana-mana sekarang!" jawab Farada cepat, Ia langsung pasang penolakan jika Molan ingin mengajaknya pergi.


"Siapa yang mau ngajak kamu keluar? Tunggu disini," Molan langsung pergi, dia ingin melakukan sesuatu yang membuat gadis tersebut bisa melupakan kesedihannya.


"Dih!" Farada mencebik, apa lagi yang akan dilakukan pria menyebalkan itu. Pria yang susah di tebak, penuh kejutan.


***


Molan bersiul menyusuri jalan setapak menuju cottage Farada. Tangan kirinya menenteng keranjang kecil terbuat dari anyaman bambu, yang berisi banyak ikan yang dia beli dari pasar tradisional Beringkit tadi, pasar yang terletak di kota Denpasar tersebut hanya dibuka sampai pukul tujuh atau delapan malam saja.


Molan ingin memberi kejutan Farada dengan mengajak gadis itu bakar ikan di depan cottage yang punya space ruang kosong. Sesuatu yang unik bukan? bakar ikan dilingkungan hotel resort nan mewah, nanti sekalian ajak Tissa. Dia pun telah menghubungi salah seorang karyawan hotel untuk segera menyiapkan segala peralatan berikut bumbu untuk bakar ikan nanti. Mungkin sekarang sudah di kamar Farada.


Namun, semua ide yang sudah dirancang menjadi buyar. Langkahnya terhenti ketika tiba-tiba Molan melihat seorang pria tengah berdiri membelakanginya di depan pintu masuk kamar Farada. Tapi tunggu...pria tersebut seperti sedang memeluk seseorang. Apakah Farada?


Ternyata benar, itu Farada...

__ADS_1


Ia berjalan perlahan untuk memastikan bahwa penglihatannya tak salah!


Molan terdiam. Rasa kecewa menyeruak di rongga dada melihat bagaimana Farada memeluk erat pinggang pria yang di yakini itu adalah lelaki yang meninggalkannya tadi sore.


Bukankah seharusnya dia sudah take off ke Jakarta? kenapa dia kembali lagi? Batin Molan bertanya-tanya. Tapi bukan itu yang membuatnya kecewa...


Farada begitu mencintainya!


Molan masih berdiam diri lalu menundukkan kepala. Lantas dia tersenyum ..senyuman miris sambil gelengkan kepala. Ia merutuki kebodohannya sendiri.


Molan mengusap kasar rambutnya lalu memutar badannya, pergi berlalu dari situ. Saat ini yang dibutuhkannya adalah ketenangan. Ia tak sakit hati.


Dia bukan laki-laki yang akan mengemis cinta pada Farada. Wanita itu berhak memilih dan bahagia. Tak ada harapan sedikit pun baginya saat ini. Tak ada pilihan lain, selain mundur. Tapi, biarkanlah cinta itu ada, tanpa harus di hilangkan di hati.


***


Flashback


Restu masih termenung dalam taksi ketika sang sopir memberitahu bahwa mereka telah sampai di bandara I Gusti Ngurah Rai. "Maaf pak, kita sudah sampai di bandara," katanya bersuara, melihat Restu dari kaca spion.


"Oh..iya pak," jawab Restu tersentak. Ia buru-buru membayar argo taksi dan tak lupa melebihkannya sedikit buat sang sopir.


Ia melirik jam tangannya, masih ada waktu sekitar satu setengah jam lagi untuk check-in. Ternyata masih lama. Ia segera mencari tempat duduk untuk mengistirahatkan pikirannya sejak kejadian tadi di kafe.


Restu pikir, dirinya tadi terlalu keras bersikap di hadapan Farada. Padahal harusnya dia bertanya terlebih dahulu. Mendengarkan alasan dari sudut pandang wanita itu. Tapi tidak dia lakukan karena dirinya terlanjur marah ketika di ballroom melihat gadis tersebut pergi dengan seorang lelaki lain.


Seharusnya dia marah pada lelaki itu bukan? Si tuan muda yang menarik tangan Farada itu. Bukankah dia melihat sendiri bagaimana penolakan Farada ketika tangannya di tarik?


Apa sebaiknya dia minta maaf saja pada Farada dan menarik kembali ucapannya. Karena dia yakin, saat ini gadis itu pasti tengah bersedih. Restu menimbang sejenak, dan kemudian mengambil gawainya yang sejak tadi belum di sentuh dan dalam posisi mode silent.


Ada sepuluh panggilan tak terjawab dari Samantha. Ah...ya, Samantha yang sengaja merubah tiket keberangkatan yang seharusnya siang hari menjadi malam, demi bisa terbang bersama dengan Restu. Mengingat ini, Restu menjadi bimbang. Ia pikir dirinya berlaku tak adil juga terhadap Farada bahwa sebelumnya telah menyetujui keinginan Samantha.


Ada penyesalan dalam hati, atas keputusan yang dia ambil.


Tak perlu berlama lagi, Restu segera berdiri dan memutuskan berlari keluar dari ruang tunggu terminal bandara, menyetop taksi dan pergi tanpa menghiraukan panggilan Samantha yang baru saja menjejakan kaki disana.


Ia ingin meminta maaf pada Farada dan menarik ucapannya kembali.


-

__ADS_1


-


-


__ADS_2