Cinta Harus Memilih

Cinta Harus Memilih
Gaun pengantin


__ADS_3

Farada sampai di depan kantor Restu dengan naik taksi online tepat pada saat jam makan siang. Hari ini rencananya, Farada dan Restu ada jadwal fitting gaun pengantin di salah satu butik kepunyaan desainer terkenal di negeri ini. Awalnya, Restu sudah memberitahu akan menjemput Farada setelah selesai rapat dengan klien, tapi karena Farada baru selesai dari salon atas suruhan mamanya yang kebetulan tempatnya berada di area tak jauh dari kantor Restu, Farada memilih lebih baik bertemu di kantor saja dan kemudian bersama-sama menuju butik.


Gadis itu memasuki lobi dan menuju lift untuk segera naik ke lantai sembilan tempat Restu berada. Di perjalanan menuju lift tersebut, gadis itu berpapasan dengan Bimo, salah seorang staf kantor yang dulu pernah menaksir dirinya, pria tersebut baru hendak keluar untuk makan siang.


"Halo, Pak Bimo, apa kabar?" sapa Farada sambil mengulurkan tangannya. Bimo kaget melihat seorang gadis cantik menegur, tapi segera ingat, "Eh Farada? jadi pangling. Alhamdulillah kabar baik, mau ketemu Pak Restu?" tanyanya sambil menilai penampilan yang berbeda dari gadis di depannya itu yang biasanya tampil casual memakai topi, tapi kali ini lebih modis dengan pakaian longdress warna peach memakai sepatu heels. Sangat cantik!


Farada mengangguk, "Iya Pak, beliau ada kan?"


"Ada, barusan aja kami habis meeting, si-silahkan langsung aja," kata Bimo terlihat sedikit grogi dan tak ingin berlama-lama bicara.


Farada sejenak terpikir dengan sikap Bimo yang tak seperti biasanya itu, tapi segera dia abaikan dan langsung masuk ketika pintu lift untuk naik terbuka.


Di lantai atas, Artika sang sekretaris yang ingin masuk lift nomor satu, berhenti dan tak jadi masuk ketika melihat Farada baru keluar dari lift nomor tiga. Artika tadinya ingin pergi ke lantai bawah untuk mengambil sesuatu.


"Farada?"


"Mbak Tika, apa kabar?"


Artika, sama halnya dengan Bimo juga menatap kagum lihat penampilan Farada yang berbeda kali ini. "Kabar baik. Ya ampun calon pengantin, kamu cantik banget!" cetus Artika dengan wajah berbinar, lalu cipika-cipiki.


"Aihh...masih cantikan Mbak Tika dong!" seloroh Farada lalu mengurai pelukan Artika. Tapi tunggu! Sepertinya berita rencana pernikahannya sudah tersebar, ohh...pantesan Pak Bimo tadi kelihatan sikapnya berbeda, batin Farada.


"Mas...eh, Pak Restunya, ada?" tanya Farada sambil melihat ke arah ruangan Restu berada.


"Ciee, yang sekarang panggilannya menjadi, Mas! Hihi..." Artika tertawa meledek Farada, gadis itu tahu persis dulu bagaimana terobsesi dan kagumnya Farada pada sang GM mereka itu. "Ada, kamu masuk aja nggak apa-apa, Pak Restu sedang di ruang..." Artika menjeda kalimatnya, dia teringat sesuatu, "eh...tapi, kita tunggu disana aja deh, aku temani," telunjuknya mengarah ke ruangan di bagian arah berlawanan dengan ruangan meeting, sambil menggamit tangan Farada, dia melangkah.

__ADS_1


Tapi baru beberapa meter, tiba-tiba Restu muncul dari ruangan meeting berjalan keluar berdampingan dengan seorang wanita.


Mata Farada membulat melihatnya, dia kenal dengan wanita itu, tepatnya baru dikenalnya beberapa hari yang lalu di sebuah mal sewaktu Restu membelikannya berlian, sedangkan Artika sendiri menepuk jidatnya karena tadinya berniat mengajak Farada pergi, agar tidak terjadi salah paham jika mengetahui Restu sedang berbincang di ruangan meeting setelah rapat itu selesai setengah jam yang lalu dengan seorang wanita yang akhir-akhir ini sering menemui Restu di kantor.


"Mas?"


"Farada? Kok, kamu langsung kesini? Kan saya bilang tunggu di jemput aja," cetus Restu kaget karena tiba-tiba Farada ada disitu.


"Hai, Samantha," sapa Farada tersenyum tipis pada wanita di samping Restu dan mengesampingkan pertanyaan calon suaminya itu, "sudah lama?" tanya Farada kemudian dengan lembut.


"H-hai," balas Samantha agak kaku tapi Ia mencoba memberikan senyum, "baru saja selesai meeting dengan Restu, maksudnya...Pak Restu."


"Tadi kami meeting dari jam setengah sebelas, dan baru saja selesai." Restu meluruskan perkataan Samantha, "Artika juga ikut kok tadi!" Sambung Restu menerangkan kembali. Ia bagaikan suami yang kepergok sedang selingkuh.


"Saya permisi dulu," Artika yang merasa tak enak hati segera pamit ingin buru-buru pergi dari situ. Wanita itu tak ingin terlibat masalah.


Farada pun mengernyitkan dahi serta menyipitkan mata mendengarnya.


***


"Kamu jangan salah paham tadi ya, perusahaan kami ada kerjasama proyek dengan perusahaan Samantha, nah tadi itu kami rapat membahas anggaran proyek itu," terang Restu ketika mereka sudah berada dalam mobil menuju butik.


Farada yang sedang menengok keluar kaca jendela mobil, menoleh, "Oh, nggak apa-apa Mas, aku juga tadi baru dari salon, kebetulan tempatnya deket-deket sini, jadi aku pikir dari pada memakan waktu kalau aku pulang dulu terus baru kamu jemput, lebih baik aku langsung kesini aja kan? Lebih efisien."


Restu mengangguk, Ia melirik gadis di sebelahnya itu yang sebentar lagi akan menjadi istrinya, lalu berkata, "Kamu kenapa? Saya lihat dari tadi cuma diam, lagi nggak enak badan?"

__ADS_1


"Nggak apa-apa, mungkin efek baru 'dapat' aja, perutku rasanya eneg!" Farada menjawab sambil mengambil cairan sanitizer dari dalam tasnya untuk membersihkan tangan, "Oh ya, Mas udah lama kenal Samantha?" Pertanyaan yang tidak sempat dia tanyakan setelah bertemu Samantha pertama kali di mal, mengingat interaksi mereka berdua yang terlihat sangat dekat. Padahal yang dia ketahui, Restu adalah pria yang kaku dan dingin terhadap lawan jenis, tapi ini berbeda.


Mungkin, masih banyak hal yang belum dia ketahui tentang pribadi calon suaminya ini.


Raut wajah Restu berubah, tapi segera menguasai, kenapa tiba-tiba Farada bertanya tentang Samantha?


"Samantha teman kuliah saya dulu di London, adek tingkatan. Awalnya saya menyangka dia bukan orang kita, karena wajahnya yang ke bule bule-an gitu," Restu tersenyum, pria itu menjeda, dia berusaha mengingat momen waktu di Inggris, "setelah di kenalin sepupunya, baru saya tau dia itu orang Indonesia, canpuran sih, tepatnya!" imbuhnya kemudian sambil menerawang mengingat sesuatu kembali.


Farada menatap wajah Restu lekat-lekat yang bercerita dengan mimik muka yang berubah-ubah. Gembira dan sendu. Dua kata yang sulit dia terjemahkan makna dibalik cerita itu.


Hingga, tanpa sadar Restu hampir menabrak mobil yang berada di depannya tiba-tiba berhenti, ternyata lampu rambu jalan berwarna merah.


"Mas, awas!" Teriak Farada dan Restu pun langsung melakukan rem mendadak. "nanti aja ceritainnya ya Mas, jalanan lagi padat."


Restu mengangguk dan menguasai pikirannya, "Iya, butiknya juga udah dekat."


Hanya beberapa menit dari lampu merah tersebut, mereka sampai di depan sebuah butik yang di tuju. Butik milik desainer kenamaan ini merupakan kenalan dan langganan Tuan Besar Erick.


***


Restu dan Farada pun kemudian mencoba beberapa baju pengantin pria dan wanita yang telah di persiapkan khusus buat mereka atas perintah Tuan Besar. Mereka di layani beberapa orang di tempat fitting yang berbeda.


Masing-masing dipersiapkan lima buah paket baju, dan Restu pun langsung mencoba beberapa pasang jas, tuxedo dan celana yang di mix beberapa kali agar sesuai selera Restu. Setelah mendapatkan model yang sesuai, Restu pun memakainya secara utuh dan ingin memperlihatkannya pada Farada, yang fitting baju di ruangan sebelah.


Tapi, Restu tertegun ketika menyibak tirai yang menghubungkan ruangan baju dengan ruangan yang ada kaca sangat besar, di depan Farada.

__ADS_1


Dia tertegun melihat dari pantulan kaca besar, Farada duduk begitu saja termenung di lantai karpet seorang diri, masih memakai gaun pengantin putih sambil menangis tersedu-sedu.


__ADS_2