
Tak ada yang lebih mengesalkan lagi bagi Farada sekarang ini selain harus bertemu muka dengan orang yang seharusnya dia hindari. Di depannya tengah berdiri seorang wanita seperti sudah lama menunggu kedatangannya di depan pintu kamar. Ya, wanita yang telah menuduh dirinya telah merebut pacarnya, katanya.
"Dari mana kamu?" tanya wanita cantik itu datar memulai genderang perang. Wanita yang tak lain adalah Donna memajukan kaki satu langkah dengan tangan berlipat di dada menunjukkan kepercayaan diri yang tinggi. Dengan balutan gaun terusan putih berkerah rendah, terlihat begitu anggun di mata orang yang melihatnya.
Farada tidak langsung menjawab, Ia mengambil kunci kamar dari dalam tasnya, kemudian menyenggol sedikit bahu Donna dengan bahunya sendiri, karena menghalangi jalan menuju pintu.
Donna berdecak karena tak di gubris, "Kuping kamu tuli ya?" Berani-beraninya perempuan ini berlaku cuek dan tadi itu apa? menabrak bahunya.
Farada menoleh sebelum masuk ke dalam, "Kamu seperti wanita yang tak diajarkan adab, menghalangi orang jalan. Bertamu tapi berlagak seperti majikan dengan pembantunya. Aku bukan pembantumu!" lalu meneruskan langkahnya masuk.
Donna pun mengikutinya dari belakang, melangkah masuk tanpa di persilahkan. Ingin rasanya dia menjambak rambut Farada dari belakang.
"Ada perlu apa kamu menemuiku dengan muka jutek itu? Molan lagi?" ujar Farada dengan senyuman sinis sambil menaruh tasnya secara asal di sofa. Ini kali kedua Donna mendatanginya di kamar, setelah dulu pernah dilakukannya waktu di Jepang.
"Cih! dasar wanita gatel!...bilang aja, kamu kerja disini untuk bisa dekat-dekat dengan Molan, kan? Biar nanti kamu gaet, trus minta di nikahi Molan agar derajat keluarga kamu terangkat karena dia pewaris tunggal keluarga tuan Erick, iya kan?"
Farada diam dan mencoba mengatur detak jantungnya yang meningkat tajam. Tuduhan Donna menyakitkan sekali, rasanya ingin dia tampar mulut gadis itu, tapi emosi segera ia redam. Menghadapi orang cemburuan ini tak perlu dengan kasar.
"Kok, aku merasa kalimat kamu itu, cocoknya buat kamu sendiri ya? bukannya kamu yang ngejar-ngejar Molan agar dinikahi, tapi..sayangnya sepertinya Molan nggak mau deh!" Sambil berkata begitu, Farada memajukan mukanya," jadi, siapa disini yang jadi perempuan gatel itu, hmm?"
Tiba-tiba Donna melayangkan tangannya menampar wajah Farada. Tapi Farada sudah menduganya, ia dengan reflek menangkap pergelangan tangan Donna, "Tak hanya mulut kamu yang kasar, tapi tanganmu juga ringan, nona!" lalu menghentakkan tangan Donna ke samping.
__ADS_1
Farada lalu berbalik badan, dia tak perlu buang energi meladeni gadis bermulut tajam itu, ia hanya perlu menjelaskan, "Aku disini hanya untuk kerja, bukan mengejar, Molan!" ujarnya sambil tersenyum mengejek, lalu masuk kamar meninggalkan Donna yang masih termangu tak berkata-kata.
Donna meringis menahan sedikit perih di pergelangan tangan. Ia mengira Farada adalah gadis yang lemah, ternyata ia salah. Gadis itu sangat kuat dan terlihat terlatih.
"Itu pintunya masih terbuka jika kamu ingin keluar."
Donna mendongak, melihat Farada sudah di depan pintu kamar mandi, ternyata ia cukup lama bermenung berdiri disitu. Tak perlu berlama-lama Ia lalu meninggalkan ruangan Farada dengan langkah yang di hentakkan, "Awas kamu! akan saya buat kamu di pecat kerja disini, huh!"
"Dih!"
Farada hanya tersenyum simpul menatap punggung Donna yang berlalu pergi. Yang dibutuhkannya sekarang ini adalah menyiram kepalanya dengan air dingin dari shower. Maklum cuaca di Bali hari ini cukup panas dengan kejadian yang juga membuat panas kepala dan hati.
***
"Restu... sini nak, ibu ada yang mau di bicarakan."
Restu yang baru saja selesai mandi sepulang kerja tadi menghampiri ibunya yang tengah duduk di sofa. Kalau ibu sudah memanggil dirinya dengan menyebut nama, itu berarti ada hal yang penting. "Ada apa, bu?" ujarnya mengambil duduk di sofa samping ibunya.
Ibu Iin Herini menatap manik mata anaknya sebentar sebelum dia membuka sebuah cerita yang nantinya akan membuat anaknya shock dan mungkin akan merubah kehidupannya. Restu pun menjadi deg-deg an melihat sang ibu melihatnya intens memperhatikan wajahnya, dan sepertinya ada sebuah beban yang besar untuk dikatakan.
"Ada apa bu? Kok ibu melihat aku seperti itu?"
__ADS_1
"Hmm...ibu nggak tau harus mulainya dari mana, cuma ibu mau tanya sama kamu satu hal..." ibu Iin menjeda sebentar, tangannya mengambil sesuatu dari dalam sebuah bundelan agak usang berisi berkas - berkas lama, "Ini, foto siapa menurut kamu?"
Restu menerima sebuah foto hitam putih tapi masih terlihat jelas dari tangan ibunya, "Ini, bukannya foto pernikahan ibu? ini ibu kan?" jawab Restu sambil melihat lebih dekat dua orang duduk bersanding di hadapan penghulu. Walau perempuan dalam foto terlihat muda tapi dia yakin pasti itu ibunya karena terlihat guratan yang sama dengan ibunya yang sekarang. Dan, pria gagah yang di samping ibunya memakai peci hitam, "dan...ini adalah ayah, kan?"
Tapi... tunggu. Restu kemudian mempertegas melihat foto ayahnya tersebut, "Aku familiar dengan wajah almarhum ayah deh, guratannya ada yang mirip seseorang yang pernah aku lihat," sambungnya sambil menerawang mengingat.
Ibu Iin tersenyum tipis, lalu memberikan lagi sebuah foto yang sudah berwarna. Foto yang dilakukan terakhir kalinya di waktu itu. "Ini lebih jelasnya wajah ayah kamu."
Restu menerimanya dan langsung tertegun. Ya, dia tahu sekarang, karena wajah pria dalam foto tersebut tidak jauh berbeda dengan orang yang beberapa waktu yang lalu bertemu dengannya di sebuah acara perkawinan koleganya. Dan, sempat ngobrol.
Dia melihat ke arah ibunya, menatap lama wajah ibunya. Dan, mengerling ke arah foto seolah meminta jawaban.
"Iya, itu ayah kandung kamu, nak! Ayah kamu masih hidup. Maafkan ibu..."
Mendengar suara lirih sang ibu yang kemudian meneteskan air mata, Restu pun ikut menangis dalam diamnya sambil matanya berpindah kembali ke foto. "Kenapa ibu membohongiku selama ini?" tanyanya sambil terisak. Tiga puluh tahun lamanya dia hidup tanpa di dampingi seorang ayah. Tiga puluh tahun lamanya ibunya menyimpan rahasia. Yang dia tahu, ayahnya sudah meninggal. Sekarang kenyataan di hadapannya, membuatnya shock.
Ibu Iin tak kuasa menahan tangis, ia menangis sesegukan, sambil menangkup wajah. Saat ini, dia pun kehilangan kata - kata untuk menceritakan semua, kalimat yang di susun sejak tadi, seolah menguap. "Maafkan ibu, nak..." suara tangis ibu Iin semakin kencang, sampai bahunya ikut bergetar.
Restu di sela air mata yang bergenang di netranya, ia menghampiri sang ibu, kemudian memeluk erat bahu ibunya tersebut. Dia pernah berjanji, bahwa tak akan membiarkan air mata ibunya menetes karena dirinya.
"Sudah bu, jangan nangis. Restu ngerti ibu pasti punya alasan yang kuat kenapa ibu menyimpan rahasia ini sendiri. Bagi Restu, punya ayah atau nggak, sama saja...nggak merubah apa pun, karena ibu adalah segalanya bagi aku. Kita akan tetap begini," ujar Restu menenangkan perasaan ibunya yang merasa bersalah.
__ADS_1
"Ayahmu, ingin bertemu dan berbicara langsung dengan kamu, nak!"