Cinta Harus Memilih

Cinta Harus Memilih
Masa lalu


__ADS_3

Erick muda terjaga dari tidurnya ketika pintu kamar di ketuk agak keras. "Ck, siapa?," tanyanya sambil melirik jam ke nakas ini sudah pukul berapa. Berani betul itu pembantu mengetuk pintu dengan cara begitu?


Tak ada sahutan, kembali pintu kamarnya di ketuk, kali ini sedikit lebih keras lagi. Siapa sih? pikirnya dan memaksakan kaki menuju pintu. Selama ini belum ada pembantunya yang berjumlah tiga orang di rumahnya tersebut yang berani membangunkannya, kecuali jika dia berpesan sebelumnya.


Ketika pintu kamar terbuka, tiba-tiba...


"Hah?, mama?, kok pagi-pagi udah kesini?."


"Ya ampun Erick!, kamu baru bangun jam segini, nggak ngantor?," Deborah mamanya berkacak pinggang di depan pintu. Erick mengucek rambutnya yang berantakan, "Hari ini aku nggak ngantor ma," jawab Erick sambil berbalik badan hendak ke kamar mandi, "ada apa ma pagi-pagi kesini?," sambungnya sekali lagi sambil berjalan. "Mama tunggu di bawah, ada yang mau mama bicarakan," ucap Deborah sedikit berteriak pada anaknya yang telah menutup kamar mandi.


"Nanti malam mama dan papa mengajak kamu pergi ke rumah kolega papa yang punya usaha dibidang perhotelan juga, jam 8 malam." Erick sedikit mengangkat wajah memperhatikan mata mamanya, sepertinya dia berpikir ada keperluan apa sampai orangtuanya mengajak, tapi dia masih menunggu kalimat selanjutnya. "Menurut papa kamu, mungkin nanti temannya itu bisa diajak join...kan kamu sedang merintis usaha perhotelan juga kan?, nah teman papa ini pengusaha besar, dia keturunan Inggris," sambung mamanya seolah membaca pikiran anaknya.


"Siapa namanya ma?."


"Tuan Eldrig...Eldrig Hamilton, istrinya orang Indonesia."


"Ooh dia, aku pernah dengar namanya," jawab Erick mengangguk.


"Mama nggak lama-lama, jangan lupa kamu kerumah nanti, kita berangkat barengan aja," ujar Deborah sambil berdiri bersiap untuk pergi. "Mama kesini cuma mau kasih tahu itu aja?," mamanya hanya bergumam meng-iyakan, Erick kemudian mengikuti langkah mamanya menuju pintu, "kalau cuma ngasih tahu itu kan bisa lewat sms ma.' imbuh Erick.


Deborah menghentikan langkahnya, "Tempo hari mama kesini, katanya si mbak kamu pergi keluar kota, kemana kamu?."


"Oh, aku ada perlu, masalah kerjaan sekalian liburan," jawab Erick agak sedikit kaget. "Bener kamu ada urusan kerjaan?, bukan pergi sama perempuan itu?," tanya Deborah berbalik badan dengan tatapan menyelidiki. "Dia punya nama ma, bukan perempuan itu!," jawab Erick dengan muka cemberut menjeda kalimatnya, "aku kan lagi membangun cottage di NTB," sambungnya.


"Awas, jangan macam-macam kamu Rick!," ancam Deborah sambil berlalu pergi dan memasuki mobil. Erick hanya menghela nafas menatap kepergian mamanya.


***

__ADS_1


Erick memijat pelipisnya lelah, mukanya kusut berantakan. Bagaimana tidak, orangtuanya seperti membohongi. Acara yang katanya untuk membicarakan masalah join kerjasama, ternyata itu masalah perjodohan dirinya. Dengan Lusiana, anaknya tuan Eldrig. Parahnya, mereka sudah mempersiapkan bahwa pernikahan itu akan dilangsungkan tiga bulan ke depan. Bah!


Dan yang makin membuat dirinya kesal, tak ada penolakan dari Lusiana, anaknya tuan Eldrig. Muka perempuan itu terlihat biasa saja mendengar kedua orang tua mereka membicarakan perjodohan tersebut, tidak kaget seperti dirinya. Sepertinya dia sudah mengetahui rencana orang tuanya. Sedangkan dia? ingin menolak tetapi tatapan mamanya sudah menghujam ke jantung. Ah!


Erick mengucek rambutnya yang tidak gatal. Berpikir bagaimana supaya rencana perjodohan itu gagal, tapi sudah hampir dua jam sejak dia pulang kembali dari pertemuan tadi belum dapat jalan, pikirannya buntu. Ingin berontak namun mengingat mamanya mengidap penyakit jantung, yang sewaktu-waktu bisa anfal, dia urungkan niat itu. Dilema.


Ya, Erick dalam posisi dilema. Dia paksa hatinya untuk menerima perjodohan, lalu bagaimana dengan Soraya, gadis lembut nan sederhana yang sangat dicintainya? Ya Tuhan, bagaimana ini?


Dengan posisi telentang menatap langit-langit kamar, Ia pikir...dia harus mengambil sebuah keputusan.


Taman kota


Soraya turun dari taksi dengan langkah sedikit tergesa-gesa. Erick sang pacar memintanya untuk bertemu sore ini disebuah taman pinggir danau kecil dekat perbatasan kota pusat. Soraya menutup tempat salonnya lebih cepat dari biasanya, karena dia pikir ini penting setelah menerima pesan singkat mendadak.


"Dek, aku mau bicara penting sekarang di taman tempat kita biasa bertemu, langsung berangkat ya." begitu bunyi sms yang dia terima. Dia sudah menanyakan ada apa, tetapi dia tunggu balasan sampai beberapa menit tidak ada jawaban, akhirnya dia pun segera pergi.


"Bang..."


Erick menoleh ke samping, lalu menggeser duduknya, memberi ruang pada Soraya.


"Ada masalah bang?," tanya Soraya sambil duduk di bangku taman itu. Erick tak langsung menjawab, dia perhatikan wajah lembut Soraya agak lama sebelum kemudian dia merangkul pundaknya. Dia bingung harus memulai dari mana.


"Hm...begini, kamu mau nggak abang ajak nikah secepatnya?."


"Hah?"


***

__ADS_1


"Bagaimana saksi?," suara penghulu menatap kearah dua orang saksi.


Sah!


Sah!


Ucapan serempak saksi menandai hari bersejarah bagi Soraya. Bagaimana tidak, dua hari yang lalu Erick dengan sangat mendadak mengajaknya menikah, dan sekarang dia sudah menjadi nyonya Erick Mahendra. Seharusnya dia bahagia bukan? walau menikah siri?, tapi mengingat tentangan dan ancaman dari nyonya Deborah, mama Erick membuatnya takut. Awalnya dia menolak ajakan Erick dan telah berupaya untuk membujuk sang kekasih agar sebaiknya mereka berpisah saja.


Namun, Erick tetap bersikeras tak mau berpisah, dan mampu meyakinkan dia serta ibunya bahwa semua akan baik-baik saja. Walau ragu, akhirnya Soraya pun luluh.


"Kamu terlihat tidak senang?," bisik Erick di malam pengantin mereka. Soraya menarik nafas dalam-dalam, wajah murungnya terlihat jelas tergambar. "Aku nggak tahu bang, musti senang atau sedih."


"Loh, kok gitu? ayo dong, ini malam bahagia kita, lupakan hal-hal yang mengganggu pikiran kamu, kita sudah sah sebagai suami istri, kita jalani hidup kita yang sekarang dek."


Soraya menatap manik mata suaminya, "Bagaimana dengan orang tua kamu nanti kalau mengetahui pernikahan kita bang?, karena cepat atau lambat, mereka pasti akan tahu."


"Hal itu, biar aku yang meyakinkan mereka, kamu nggak usaha pikirkan," ujar Erick menenangkan. Soraya hanya anggukkan kepala. Tenangkah hatinya? tentu tidak, karena keputusan mereka menikah ini ibarat 'api di dalam sekam', begitu pepatah yang dia baca, sewaktu-waktu akan terbakar.


Dan, benar saja.


Hanya berselang dua minggu sejak pernikahan itu terjadi, kedua orang tua Erick mengetahuinya. Tak perlu di ceritakan bagaimana murkanya mereka terutama nyonya Deborah.


Erick masih bertahan untuk meyakinkan tapi tak mampu meluluhkan hati mamanya. Sang papa lebih mengerti, walau tetap tidak setuju dengan cara Erick.


Tak perlu diceritakan bagaimana tekanan yang harus dihadapi oleh Soraya dan juga ibunya, sampai akhirnya dia mendengar bahwa mama Erick, mertuanya harus dilarikan ke rumah sakit, jantungnya anfal.


Soraya pun menyerah. Atas saran dan ajakan sang ibu, dia memilih pergi jauh menghilang dari kehidupan Erick, serta mengubah identitas dirinya. Tanpa Ia sadari, dirinya pergi membawa janin dalam perut.

__ADS_1


Flash back Off...


__ADS_2