
"Duduklah, Nak!" Tuan Erick dengan lembut menyuruh Restu duduk, anaknya itu masih terlihat canggung berdiri. Tuan Erick tahu bahwa tak semudah itu bagi Restu untuk menerimanya sebagai ayah.
Restu mengangguk pelan dan mengambil posisi duduk berhadapan. "Ada apa Tuan memanggil saya kemari?" tanyanya dengan sikap yang formil.
"Panggil Papa atau Ayah, kita bukan orang lain, Nak!"
"Maaf, saya belum bisa...." jawab Restu pelan, ekspresinya tetap dingin.
Tuan Erick mengangguk kembali, Ia memaklumi. "Begini...Ayah ingin mengajak Ibumu untuk pergi ke suatu tempat. Ayah tempo hari sudah bicarakan dengan Ibumu, dan katanya Ayah harus ngomong dulu sama kamu, tentunya...setelah kami berdua melegalkan kembali pernikahan ini." Tuan Erick menjeda, dia memperhatikan perubahan wajah anaknya yang terlihat sedikit kaget, "Ayah ingin di umur yang tersisa tak lama ini dapat memperbaiki waktu yang hilang...bersama Ibumu."
Mendengar itu, Restu mencondongkan badannya ke depan, kedua tangannya memegang ujung kursi. Ia mempertegas penglihatannya ke arah Tuan Erick yang juga sedang menantapnya dengan wajah tenang, "Sebelum saya menanggapi...saya mau bertanya satu hal, boleh?"
"Silahkan!"
"Bagaimana dengan Molan? Apa dia sudah mengetahui tentang hal ini? Maksud saya...apa dia sudah tahu hubungan antara Tuan dengan Ibu saya?"
Tuan Erick menghela napasnya. Anak itu memang belum di beritahunya tentang rahasia masa lalu dirinya, tapi dia akan memanggil Molan ke Jakarta setelah ini. "Ayah punya rencana tersendiri untuk beritahu adikmu, dia akan Ayah panggil kesini bertepatan dengan beberapa hal menyangkut kalian berdua yang telah Ayah siapkan."
Restu mengernyitkan dahi, "Maksud Tuan?" tanyanya tak mengerti.
"Hmm...umur Ayah tak lama lagi. Ayah ingin pensiun dan menikmati sisa waktu yang tidak banyak ini. Sudah waktunya re-generasi."
Restu merubah posisi duduknya bersandar ke belakang, dia makin tak mengerti kemana arah pembicaraan ini, dia masih ingin mendengar lanjutan kalimat ayahnya.
"Kamu dan Molan yang akan melanjutkan usaha-usaha Ayah. Kamu sebagai anak yang lebih tua, punya pengalaman sebagai leader, nanti akan Ayah serahkan untuk memimpin perusahaan, sedangkan Molan..." Tuan Erick menjeda sebentar, "dia belum berpengalaman, jiwanya masih labil. Sebenarnya dia cerdas cuma keras kepala, jadi belum siap untuk itu. Dia masih harus banyak belajar!" terang Tuan Erick kembali.
"Untuk itu, langkah awalnya...Ayah ingin kamu segera bergabung di perusahaan kita ini. Ayah akan mengadakan rapat RUPS secepatnya agar mengangkat kamu menjadi General Manager di Luxury Resort Hotel - Bali." sambung Tuan Erick kembali.
Restu masih diam belum berkomentar, dia menilai tuan Erick, Ayahnya ini adalah sosok yang tenang, berwibawa, sorot matanya menatap lawan bicara terlihat tajam menandakan dia seorang yang tegas, tidak ragu-ragu dalam mengambil keputusan. "Apakah Tuan...selalu tanpa kompromi dalam memutuskan sesuatu?"
Gantian kini Erick yang mengernyitkan dahi, "Maksud kamu...kenapa nggak menanyakan dulu, apakah kamu mau atau tidak?"
"Bukan hanya itu..." Restu kembali memajukan badannya, "bagaimana dengan Molan? apa dia mau terima kenyataan seperti ini? Saya dan Ibu... adalah orang baru dalam kehidupannya lalu secara tiba-tiba menerima semua ini, yang seharusnya itu semua untuk dia. Apakah Tuan nggak memikirkan akan ada konflik baru yang akan terjadi nanti?"
Erick gelengkan kepalanya, "Nggak, mungkin awalnya dia kaget, tapi dia butuh figur seorang Ibu, nantinya dia akan menerimanya. Hanya perlu waktu sedikit." jawab Erick meyakinkan, sambil perhatikan bola mata anaknya, Ia menunggu jawaban.
Restu menunduk, dia ingin mendebatnya tapi aura ayahnya ini membuat lidahnya kelu untuk mengatakannya.
Lama mereka berdua tak ada percakapan setelahnya. Restu menimbang, Ia butuh waktu untuk berpikir menerima tawaran ayahnya tersebut.
__ADS_1
"Maaf, saya tidak bisa berikan jawabannya sekarang, saya akan memikirkannya terlebih dahulu."
"Berapa lama kamu akan menjawabnya?"
"Tiga hari!" jawab Restu sambil bersiap berdiri. Dia harus segera kembali ke kantornya.
"Baik, Ayah tunggu kabar baik dari kamu, tiga hari." Tuan Erick lalu mengulurkan tangan, "business is business!" sambungnya menepuk bahu Restu kemudian mengantarkannya ke pintu.
"Oh ya, satu hal lagi...Ayah ingin kamu segera menikah!"
Restu menoleh. Ucapan Ibunya beberapa waktu yang lalu terngiang kembali.
"Dan, Ayah sudah diberitahu oleh Ibumu bahwa kamu sudah di jodohkan dengan wanita yang ternyata sekarang juga bekerja di salah satu hotel kita, Luxury Resort Bali...Ayah ingin bertemu dengannya!"
"Hah?" Mata Restu langsung membola.
***
Farada berbaring di ranjang dengan tidak tenang. Sudah mendekati jam sembilan malam dan dia masih belum bisa memejamkan matanya. Ya, memang terlalu dini untuk tidur, tapi dia lelah dan seharusnya itu bisa membuatnya tertidur. Tapi nyatanya tidak bisa, pikirannya terusik dengan satu hal yang belakangan ini mengganggunya. Tentang kedekatannya dengan Molan!
Ya, sejak kepulangan dari rapat dengan pihak PemProv, hubungan antara Farada dan Molan mulai mencair kembali.
Seperti siang tadi...
Farada membuka pintu mobil Jeep Sport Molan.
"Jadi kita kemana dulu nih?"
"Aku nggak tau!"
"Loh?" Farada menyipitkan matanya saat Molan menggeleng tanpa dosa.
"...Ya kan aku nggak pernah beli baju - baju kayak gitu disini. Aku percayakan sepenuhnya sama kamu sebagai pemandu aku, Fara."
"Aishh...kamu salah minum obat? Trus, menurut kamu, aku tahu tempat - tempat belanja disini?" omel Farada, tapi dia segera buka ponselnya lalu googling cari tempat belanja - belanja baju.
"Ada nih, daerah Denpasar!"
"Nah! Benarkan wanita itu jago kalo untuk urusan belanja," cengir Molan sambil menghidupkan mesin mobil.
__ADS_1
"Dih!" Bola mata Farada membola.
Molan tertawa. Ini obrolan santai mereka setelah hampir dua minggu tak ada komunikasi, kecuali hanya urusan pekerjaan.
Molan kemudian melajukan kendaraan dengan santai. Butuh lebih kurang empat puluh menit-an baru mereka sampai di sebuah pusat perbelanjaan di kota Denpasar.
Berdasarkan map dari ponsel, Farada lalu membawa Molan ke sebuah toko yang terlihat mewah dan di dominasi oleh baju - baju formil yang bermerek.
Farada kemudian memilih beberapa buah baju batik dengan motif yang berbeda - beda, dan bahannya juga terlihat lembut. Sepertinya pas untuk ukuran postur Molan yang tinggi.
"Dari tiga motif ini, mana yang kamu suka?" tanya Farada sambil menghamparkan baju tersebut di atas meja panjang.
Molan menatap baju - baju batik itu dengan pandangan hampa. Rasa antusias Molan langsung pupus kala di suruh memilih. Sejujurnya, dia tidak terlalu suka mengenakan batik, jadi dia tak mengerti dimana letak bagusnya baju batik tersebut.
"Menurut kamu, bagus yang mana?" tanya Molan dengan tatapan bingung, "sejujurnya, aku nggak suka memakai batik, coraknya itu loh, Fara...rame banget!"
Jawaban Molan membuat Farada jadi jengkel. Kalau memang nggak suka batik ngapain juga ingin memakainya? Toh, biasanya juga memakai kemeja dengan jas sebagai paduannya.
"Jadi, kamu nggak suka nih?" ujar Farada sambil mengangkat dua buah batik lainnya dan dahi Molan makin berkerut. Tanpa dijawab pun, Farada sudah tahu, "Ya sudah, kita cari yang lain aja!"
Farada berusaha menyikapinya dengan sabar. Namun sudah hampir satu jam berputar - putar mencari baju yang di inginkan, mereka stuck! Farada berpikir, memilih baju untuk laki - laki memang susah. Seperti halnya dia pernah menemani kakaknya dulu, tapi Molan ternyata jauh lebih rumit, bahkan cenderung tak tahu diri karena memanfaatkan Farada di waktu jam kerja.
"Farada, kalau yang itu gimana?" Tunjuk Molan kearah sebuah batik yang sebenarnya pun dia tak begitu suka. Cuma Molan ingin menyudahi pencarian mereka karena sudah satu jam berputar - putar.
"Kamu mau yang itu?" tanya Farada dengan jengkel. Bagaimana tidak, baju batik yang di tunjuk Molan itu adalah termasuk koleksi eksklusif dan di pajang di tempat yang sangat mudah terlihat. Kalau cuma mau yang ini, mereka seharusnya tak perlu harus menghabiskan waktu bukan? Pikirnya.
"Kamu, nggak sekalian? Ayo cari mana yang kamu suka..."
"Nggak mau!" Farada gelengkan kepala cepat. Walau tadi dia sempat tertarik pada sebuah kostum celana bahan model A-line warna hitam dan baju kasual yang di pajang, tapi dia jadi mikir ketika melirik harganya. Mahal untuk ukuran kantongnya.
Molan membawa batik yang dia pilih ke kasir lalu membayarnya dengan memakai kartu berwarna hitam. Farada menebak, itu pagu-nya sudah pasti unlimited. Farada kemudian berjalan menuju pintu keluar untuk menunggu Molan.
"Ayo kita makan dulu!" ajak Molan tanpa menunggu persetujuan Farada.
"Kita udah kelamaan ninggalin kerjaan, langsung balik ke hotel aja...makan di hotel!" jawab Farada sambil melihat jam di tangan, sudah mendekati jam istirahat.
"Nggak ada yang marahin kamu, kan pergi sama Aku, ayo!" Molan kemudian menggamit tangan Farada.
Gadis itu menepis tangan Molan, "Profesional dong! Jangan mentang-mentang!" rungut Farada namun Ia akhirnya mengikuti ajakan Molan.
__ADS_1
Farada sempat melirik kearah tangan Molan yang membawa dua buah kantong berbentuk kotak, "Itu belanjaan kenapa jadi dua kantong? Bukannya tadi beli satu baju aja yah?" tanyanya heran.
Molan hanya tersenyum.