Cinta Harus Memilih

Cinta Harus Memilih
Tersesat


__ADS_3

"Nggak doyan tapi habis hahaha...", Farada lalu mengatupkan mulutnya ketika beberapa orang menengok kearah mereka. Ia sedang menertawakan Molan yang justru mengambil mangkoknya yang ada mie tersisa sedikit dan isinya di habiskan oleh pria menyebalkan ini.


"Aku lapar, dari tadi belum ke isi", jawab Molan cuek menghabiskan kuah bekas mie Farada.


"Itu bukan lapar, tapi rakus!..malu ah diliat orang itu kamu!". Tapi Molan tak peduli, "biarin, nggak ada yang kenal ini!", jawabnya cuek.


"Yaudah, ayo pergi dari sini", ucap Farada kemudian buru - buru keluar dari situ. Molan mengangguk samar, lalu mengikuti langkah gadis yang telah mentraktirnya itu keluar.


Mereka berdua kemudian melangkah menyusuri salju. Farada tetap berjalan di depan dan Molan mengikutinya dibelakang dengan jarak kira - kira satu meter, hingga mereka sampai di tempat wisata kumpulan serigala yang menarik kereta ski. Ya, Serigala yang berjumlah enam ekor akan menarik orang yang berdiri diatas papan ski. Mirip bendi, bedanya ini di atas salju.


Sang empunya menawarkan destinasi tersebut pada Farada, tapi gadis itu ragu, ini hal yang belum pernah dilihatnya, dia melirik ke arah Molan, seolah minta pendapat. "Kamu mau coba naik itu, seru...ayo, nggak usah takut!", jawab Molan percaya diri. "Yakin kamu bisa naik ini?, ngendaliin serigala itu?, ntar kalo lepas gimana?", tanya Farada masih dalam keraguannya.


"Udah, nggak apa - apa, aku bisa", Molan lalu menghampiri yang punyanya dan negosiasi harga. Sang empu nya peralatan lalu mengarahkan sebentar cara menggunakan dan mengendalikan serigala agar berbelok atau berlari, dengan memainkan tali yang akan di pegang oleh Molan. "Saya sudah pernah menaiki ini, saya bisa", ujarnya dengan bahasa Jepang pada sang empu nya.


Molan lalu menaiki papan ski dan Farada yang awalnya takut tapi akhirnya mau juga mencoba naik, Farada berada di belakang Molan dengan memegang tali yang di balut di pinggang Molan.


Kereta serigala pun meluncur ke bawah menyusuri salju begitu Molan menghentakkan tali.


"Wow..seru juga yah?...", teriak Farada dari belakang. "Enak kan?, seru loh naik ini", jawab Molan sambil terus hentakkan tali kekang. Mereka berdua berteriak - teriak kegirangan, ini sesuatu hal yang baru bagi Farada. "Pelan - pelan !, jangan di hentakin terus talinyaa...an*ingnya makin kencang larinya, saya takut !" teriak Farada bersuara melawan angin, Ia ketakutan ketika di rasa laju kereta makin kencang di antara pohon - pohon pinus di kiri kanan mereka.


"Pegangan yang kuat makanya !", ujar Molan sambil teriak - teriak seperti anak kecil yang baru dibelikan mainan. Farada pun makin mempererat pegangannya di pinggang Molan, kali ini tanpa sadar Ia menempelkan kepalanya di punggung pria itu.


Tiba - tiba ketika kereta yang ditarik serigala ini berbelok, Molan tak siap, Ia sibuk berteriak - teriak. Papan seluncur selip dan mereka berdua terlempar dan berguling - guling kebawah. Sedangkan kumpulan serigala tersebut terus melaju meninggalkan mereka.


Kira - kira 10 meter terguling baru terhenti di hamparan datar. Molan yang terlebih dahulu sampai dibawah langsung tertimpa badan Farada. "Aduuhhh...", Molan meringis kesakitan sambil memegang kepalanya yang kena b*k*ng Farada.


Farada langsung bangun dan mengambil segenggam es lalu melemparkannya pada muka Molan. "Tuh kan, saya bilang jangan di hentak terus, begini kan jadinya !!".


"Hei...kepala aku sakit kena pa*t*t kamu ini!, malah di lemparin lagi", Molan lalu meraup salju dan melemparkannya pada Farada. Gadis itu berusaha menghindar untuk lari, tapi kena punggungnya. Ia tak mau kalah, gadis itu pun membalasnya dengan meraup es dan kembali melemparkan ke muka Molan yang sedang terlentang, alhasil kena telak. "Aisshhh...", Molan berguling dan berdiri untuk membalas kembali, tapi Farada lari ke arah atas. Molan melemparkan raupan es tidak kena, Ia mengejar gadis itu dan menarik kaki Farada hingga terguling kembali ke bawah.

__ADS_1


Aksi saling melempar terus berlangsung sampai akhirnya mereka capek sendiri. Dua - duanya tiduran terlentang di atas salju.


"Kita dimana ini?", ujar Farada setelah tersadar, dia bingung jalan balik ke hotel, begitu pun Molan. Farada meraih ponselnya di kantong, Ia mencoba menghubungi Tissa, tetapi tak ada sinyal, "coba pake handphone kamu, saya nggak ada sinyal", ujarnya sambil mengangkat ponselnya di udara mencari sinyal.


"Sama, aku juga nggak ada sinyal, ini dataran tinggi, coba kesana dikit yuk", ujar Molan berdiri dan berjalan untuk mencari jalan pintas.


"Ini semua gara - gara kamu!", gerutu Farada mengikuti langkah Molan, dan terus mengomeli pria itu sepanjang jalan. Sedangkan Molan hanya diam, memang salahnya juga sih pikirnya.


Cukup lama rasanya mereka berputar tak tentu arah, tersasar di tempat yang tak tahu dimana tanpa peta yang telah hilang. Entah jatuh dari kantong Farada, entah tertinggal di tempat makan mie rawon tadi.


Hari menjelang sore, suasana terasa semakin dingin. Farada mulai menggigil kedinginan, bibirnya terasa kaku dan pucat pasi. Molan melirik ke belakang, gadis itu sedikit tertinggal dengan langkah gemetar. Dia kasihan dan berhenti, "kita istirahat dulu disini", ujarnya kemudian mencari sesuatu untuk menggali.


Berapa saat kemudian, Molan berhasil membuat lobang, walau tak begitu dalam untuk menghangatkan badannya. "Sini kita hangatin badan", Molan lalu mencoba kembali menghubungi Tommy, dan tersambung!.


"Bro, jemput gue sini!, gue nggak tau dimana, tapi lacak sinyal ponsel gue ini, bilang sama orang IT hotel ya".


Setelah percakapan terputus, Molan berusaha menenangkan Farada, "Udah tenang aja, sebent...", omongannya terputus, gadis disebelahnya ini seperti terkantuk - kantuk, "ya ampun!, hei kamu gadis, kamu nggak apa - apa? ...", Molan segera merapat pada Farada yang hanya diam, mulut gadis tersebut sudah bergetar.


"Maaf ya...", ujarnya berusaha meraih jemari Farada untuk menggenggamnya, tubuh gadis itu akan di peluknya agar kehangatan mengalir. Tapi Farada langsung menyikut dada Molan, namun gadis itu tetap tak bersuara, Ia menolak dengan gelengkan kepala, isyarat tak mau di peluk.


"Nggak apa - apa, biar tubuh kamu hangat, nanti kamu membeku, aku nggak macam - macam kok!". Tapi Farada tetap gelengkan kepalanya, menolak. Akhirnya Molan membiarkan, tapi jemari gadis itu tetap di genggamnya.


Ketika mata Farada sudah mulai mengecil, seperti orang mau tidur, Molan bereaksi, kalau di biarkan gadis ini akan pingsan. Ia membuka jubah hangatnya, lalu menutupi tubuh gadis tersebut serta memeluknya erat agar udara hangat mengalir. Ia tak pedulikan Farada yang masih mencoba meronta, walau akhirnya membiarkan.


Alhasil, Molan sekarang yang sangat kedinginan, tapi Ia tetap berusaha menahannya.


Tiba - tiba,


"Hei bro!..ngapain lo disitu?!".

__ADS_1


Molan tersentak, Ia mendongak dan tersungging senyum, bantuan telah datang, Tommy bertolak pinggang diatas.


"Lama bener lo!", Molan menggerutu sambil membantu Farada berdiri.


"Kamu sama siapa ?", terdengar suara perempuan.


Molan kaget, di samping Tommy berdiri seorang gadis cantik, Donna. Ya, Donna sedang menatap tajam pada gadis yang dalam rangkulan Molan.


"Hah..?, kok kamu ikut kesini?", ujar Molan sambil melemparkan tatapan membunuh pada Tommy.


Donna tak bergeming menatap Farada yang terlihat kaku seperti membeku, Ia tak menghiraukan pertanyaan Molan. Sedangkan Farada, Ia sudah tak sanggup bersuara lagi, yang ada di pikirannya sekarang adalah kamar hotel dan berendam di air hangat. Ia membiarkan dirinya di papah Molan menuju boat di bawah tatapan tajam Donna dan tatapan heran namun konyol dari Tommy.


***


Di hotel...


"Jadi anak itu bukannya ke Bali?, justru kesini?", tanya pak Erick pada Christopher yang hanya menunduk, Ia merasa bersalah tak memberitahu big boss nya ini tentang keberadaan Molan.


"Iya tuan besar, sudah tiga hari ini.." jawab Christ.


"Hmm...nanti suruh dia menemui saya!", kata pak Erick dan berlalu meninggalkan ruangan Christopher.


"Baik, tuan besar", ujar Christ membungkukan badannya.


.


.


Lanjut

__ADS_1


__ADS_2